Siang hari di lapangan berumput, dibawah terik sinar matahari terik, empat orang anak sedang asyik bermain kelereng dibawah pohon besar. Surya, Azka, Adit, dan Bayu yang sudah bermain selama 2 jam, masih semangat untuk terus bermain.
“Cepet! Lempar kelerengnya!” kata Azka kepada Surya.
“Sabar dong! Ini masih cari posisi yang pas.” jawab Surya sambil memicingkan matanya agar fokus ke titik lempar kelerenya.
“TAK!” Kelereng Surya berhasil mengenai semua kelerengnya. Surya langsung melompat kegirangan, merayakan kemenangannya.
Azka menghela napas, “Aduh, kalah lagi.”
Bayu menepuk pundak Adit dan berkata, “Gapapa, besok bisa main lagi. Tapi kayaknya kita udahan dulu deh, udah mulai bosen nih.”
Azka mengangguk setuju, “Iya, main kelereng melulu mulain tadi.”
Waktu masih menunjukkan pukul dua siang, masih ada waktu bagi mereka untuk bermain. Surya, Azka, Adit, dan Bayu mulai bosan bermain kelereng. Keempat anak itu terdiam sejenak sambil mencari ide permainan baru. Keheningan sesaat ditemani angin siang yang berhembus pelan, tiba tiba terpecah setelah Adit berdiri dan mengusulkan permainan baru kepada teman-temannya.
“Gimana kalau kita main drama aja?”
Mata mereka berempat berbinar. Terdengar seperti ide yang menyenangkan.
“Aku pengen jadi Kesatria! Yang bisa menyelamatkan dunia!” kata Adit dengan semangat.
Surya mengangkat tangannya, “Aku mau jadi orang biasa aja deh, santai”
Bayu berdiri sambil memegang pinggangnya, “kalo gitu aku rajanya! Karena aku yang paling tua!”
Azka mendengus, “Halah, padahal Cuma beda satu bulan doang.” Tapi kemudian ia tersenyum dan berkata, “Yaudah, aku jadi perdana menteri.”
Dengan begitu, permainan mereka dimulai. Mereka berempat sudah menentukan perannya masing-masing. Bayu, sebagai seorang raja yang memegang kekuasaan kerajaan. Azka sebagai perdana menteri, otak pemerintahan yang menjalankan kebijakan dan mengelola pemerintahan sehari-hari. Adit akan berperan sebagai kesatria, pelindung negeri dan pemegang nilai-nilai kehormatan. Sedangkan surya berperan sebagai rakyat, pondasi negara yang mendukung dan membiayai sistem pemerintahan.
Mereka mulai membangun kerajaan ditengah lapangan. Bayu duduk diatas tumpukan kayu, sisa-sisa pembangunan pagar lapangan, berlagak seperti raja di singgasananya. Azka yang berdiri di sebelah Bayu sebagai perdana menteri, sibuk menulis dengan ranting yang ia gunakan sebagai pena. Adit mondar-mandir di area singgasana, seperti sedang berpatroli menjaga kerajaan. Sedangkan Surya, duduk di tanah mencabuti rumput.
“Kita harus bikin aturan baru! Perdana menteri, siapkan catatannya!” Ucap Bayu sambil menghentak-hentakkan tongkat kerajaannya itu ke tanah.
“Baik, yang mulia!” Jawab Azka.
Bayu tersenyum licik dan berkata, “Yang berkuasa harus punya banyak makanan! Kesatria harus pakai baju besi dan punya pedang yang bagus!”
“Tapi uangnya tidak cukup, Yang mulia. Darimana kita harus dapat lagi?” Kata Azka sambil berpura-pura menulis.
“Bukannya rakyat bayar pajak? Tambah aja nominal pajaknya, gampang kan?”
Surya tiba-tiba berdiri dan berteriak, “Enak aja! Aku yang kerja kok kamu yang enak-enakan.”
Adit yang mendengar perkataan Surya, langsung menodongkan rantingnya sebagai pedang ke leher Surya. “Yang sopan sama Raja.” Ucap Adit kepada Surya.
“Yang namanya kerajaan, yang berkuasa ya Raja lah. Terus juga, rakyat harus patuh sama Raja. HAHAHAHAHA!” Bayu tertawa dengan suara keras.
Permainan yang awalnya seru perlahan terasa aneh menurut Surya. Ia sadar, dalam permainan ini, raja dan pejabat bisa melakukan apapun. Sementara rakyat hanya bisa menerima.
Surya tiba-tiba merajuk dan terlihat kesal. “Udahlah, aku gamau jadi rakyat lagi!”
Azka mengangkat alis. “Loh, terus kamu mau jadi apa?”
Surya tersenyum, seperti memiliki sebuah ide baru. “Aku mau jadi pemberontak aja.”
Adit terkejut. “Kalo gitu aku harus nangkap kamu! Pemberontak itu penjahat!”
“Aku jadi pemberontak karena merasa gak adil! Harusnya kamu paham dong?!”
Adit diam, karena menurutnya Surya benar. Tapi jika dia menyetujui perkataan Surya, ia tidak akan menerima baju besi dan pedang karena melawan perintah Raja.
Melihat Adit yang mulai ragu, Bayu mulai kesal. “Kesatria! Tangkap pemberontak itu!”
“Ta-tapi Yang mulia, ini-“ Adit ragu-ragu.
“Sudahlah! Tangkap saja!” Bayu memberi perintahnya.
Adit mulai mengejar Surya, tapi Surya tidak mudah untuk ditangkap. Surya sangat cerdik dan lincah. Karena melihat Adit yang mulai lelah, Bayu menyuruh Azka untuk menangkap Surya Juga. Namun sama saja, si Surya sulit ditangkap. Raja pun akhirnya turun tangan menangkap Surya. Akhirnya mereka bertiga pun sama-sama mengejar Surya.
Langit sore sudah mulai menaungi. Mereka berempat sudah terlihat sangat lelah karena berlarian mengelilingi lapangan.
“Hahh… udah, udah. Lanjutin besok aja,” ucap Azka sambil ngos-ngosan.
Azka berkata kepada teman-temannya, “Ternyata bikin kerajaan itu susah ya.”
Surya mengangguk. “Iya. Tapi kalau pemimpin dan rakyatnya adil, semuanya pasti damai.”
Adit tersenyum dan mengangkat rantingnya. “Kesatria harus membela kebenaran, bukan cuma mengikuti perintah.”
Bayu terdiam, lalu tertawa. “Yaudah deh, besok kita main lagi. Tapi aku tetap jadi rajanya!”
Mereka tertawa bersama dengan langit sore yang menaungi mereka. Permainan sederhana itu mungkin hanya khayalan saja bagi mereka, tapi didalamnya, mereka telah belajar tentang kekuasaan, keadilan, dan perjuangan. Karena seperti dalam kehidupan nyata, permainan akan terus berlanjut dan keadilan akan selalu diperjuangkan.
Namun, ada sesuatu yang belum mereka pahami sepenuhnya. Kerajaan mainan memang berakhir hari ini, tapi dunia luar yang belum mereka pijaki, bekerja dengan cara yang sama. Ada yang berkuasa dan memerintah, ada yang memberontak, dan ada juga yang hanya mengikuti arus.
Mungkin, di masa depan suatu hari nanti, mereka akan tumbuh besar dan menyadari bahwa dunia tidak jauh berbeda dengan permainan yang mereka ciptakan hari ini. Para penguasa bisa saja bertindak sesuka hati, rakyat bisa memilih harus diam atau melawan. Dan yang paling sulit adalah kesatria, tidak tahu harus dimana dia berdiri.
Apabila saat itu tiba, apakah mereka akan bermain dengan cara yang sama?
- Penulis: Maulida Lathifa