JEMBER – Rangkaian peringatan reformasi di Kabupaten Jember ditutup dengan aksi damai Kamisan ke-49 yang digelar di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember pada Kamis (21/5/2026). Aksi ini menjadi panggung bagi para aktivis dan mahasiswa untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai semakin jauh dari kesejahteraan rakyat.

Aksi damai ini dimulai pada pukul 15.00 WIB. Agenda dibuka dengan serangkaian orasi politik, pembacaan puisi yang sarat akan kritik sosial, serta aksi menyanyikan lagu “Padi Untuk Rakyat” secara bersama-sama sebagai simbol perlawanan dan pengingat akan hak-hak dasar masyarakat.

Sebelum menggelar Aksi, komite aksi telah melaksanakan sejumlah rangkaian kegiatan peringatan reformasi. Agenda dimulai dengan nonton bersama (nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul “Pesta Babi”, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi secara daring (online).

Perwakilan Komite Kamisan Jember, Lila, menjelaskan bahwa aksi ini sengaja digelar di tempat terbuka agar dapat memantik kesadaran masyarakat luas. Menurutnya, kondisi sosial dan kebijakan saat ini sedang tidak berpihak pada rakyat, dan dampak buruknya akan diarasakan oleh semua elemen masyarakat.

“Aksi ini diharapkan bisa dilihat oleh masyarakat banyak agar mereka tahu bahwasanya ada teman dan saudara kita yang sedang tidak baik-baik saja, dan itu juga bisa berdampak ke diri kita sendiri,” ujar Lila di sela-sela aksi, Kamis (21/5/2026).

Simbolisme Nyala Lilin

Dalam aksi tersebut, massa juga melakukan prosesi penyalaan lilin bersama. Lila mengungkapkan bahwa prosesi ini bukan sekedar seremonial, melainkan simbol dari daya juang dan semangat yang tidak akan pernah padam.

“Lilin-lilin itu menggambarkan semangat kami. Lilin itu sumbunya terbatas, tapi api itu tidak hanya bisa disulut atau dipertahankan dengan sumbu yang terbatas itu. Kami tidak seperti lilin-lilin ini. Lilin mungkin akan habis setelah aksi ini berakhir, tapi kami adalah cahaya-cahaya yang akan terus memiliki semangat untuk menyuarakan,” tegasnya.

Suara dari Tanah Papua

Aksi Kamisan kali ini juga dihadiri oleh elemen mahasiswa daerah. Salah satunya adalah Boy, seorang mahasiswa asal Papua yang saat ini sedang menempuh studi di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Di tengah massa aksi, Boy menyuarakan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi di tanah kelahirannya.

“Papua itu sekarang tidak baik-baik saja. Kita menderita di atas tanah kita sendiri, dijajah dan dikuasai. Jadi, kami di sana memang sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Boy saat menyampaikan harapannya untuk Papua.

Aksi Kamisan berlangsung tertib dan damai. Massa aksi membubarkan diri secara teratur pada pukul 17.40 WIB dengan pengawalan dari aparat setempat.

  • Penulis: Maulida Latifa Rifta
  • Penyunting: Virgirianita Budi Pratiwi