Pemerintah Indonesia saat ini tengah melaksanakan kebijakan efisiensi anggaran di berbagai sektor, salah satunya pada sektor pendidikan. Dilansir dari Tempo.com pemangkasan dana pendidikan di Kemendiktisaintek mencapai lebih dari setengah dari pagu awal Rp 57,6 triliun. Melalui dana yang tersisa Kemendikti Saintek terpaksa memangkas sejumlah dana program pendidikan. Kebijakan tersebut menjadi polemik dan mendapat penolakan dari masyarakat karena dinilai tidak efektif dan mengganggu kerja di berbagai sektor yang terdampak efisiensi.
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan RI, Dedek Prayudi, menyatakan bahwa efisiensi anggaran harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menyentuh sektor yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik, termasuk pendidikan tinggi. Dikutip dari Kompas TV, Dedek menyatakan, “Pak Prabowo dalam hal ini, bersama kawan-kawan mahasiswa, tidak menginginkan dikurangi KIP Kuliah, ditambahkan UKT, lalu pembebanan biaya-biaya lainnya diakibatkan adanya efisiensi.”
Namun, situasi di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember berbanding terbalik dengan apa yang ditegaskan pemerintah bahwa mahasiswa tidak akan terdampak. Kebijakan efisiensi anggaran atau sebut saja pemangkasan anggaran justru berdampak pada berbagai aspek operasional dan kegiatan mahasiswa. Sejak pengumuman pagu dana ormawa FTP UNEJ pertama pada (30/01/25), masing-masing ormawa telah menyusun dan mengunggah TOR kegiatan sesuai dengan anggaran yang tersedia hingga tanggal 12 Februari 2025. Akan tetapi, setelah mengunggah TOR kegiatan, alokasi dana Ormawa dipangkas lebih dari satu kali.
Mengacu pada alokasi dana yang dibagikan di awal kepengurusan, pemangkasan dana Ormawa totalnya lebih dari 50%.
- 30 Januari 2025 alokasi dana Ormawa berkisar Rp 4.000.000 hingga Rp 8.000.000
- 28 Februari 2025 dipotong menjadi berkisar Rp 3.500.000 hingga Rp 7.000.000
- 17 Maret 2025 dana final berkisar Rp 1.500.000 hingga Rp 3.000.000
Menurut Ketua BEM FTP dan Himatirta, penyampaian informasi dari jajaran dekanat terkait alokasi dana ini masih kurang jelas. Pernyataan terkait komunikasi tersebut dipertegas oleh Novalia Zuman Rofiqoh, Bendahara Umum BEM FTP UNEJ 2025. “Cara menyampaikannya menurut aku sendiri kurang, karena dari aku selaku bendahara umum juga hanya mendapat dokumen berupa excel yang berisi pembagian dana Ormawa.”
Selain hal tersebut, Ormawa yang sudah menjalankan proker dan mulai mengajukan pencairan pada (13/03/25) yaitu UKM PI ARC menyampaikan bahwa pencairan dana masih belum bisa dilakukan karena dana akan dipangkas lagi. Selain itu, pencairan dana maupun audiensi belum dapat dilakukan per tanggal tersebut sebab adanya masa transisi kepengurusan dekanat.
Alokasi dana akhirnya ditetapkan melalui zoom meeting bersama dengan dekan baru terpilih, wadek 3, dan jajaran dekanat lainnya (17/03/24). Pada pertemuan tersebut Dr. Sri Wahyuningsih, S.P., M.T.,IPM.,ASEAN Eng. selaku dekan baru menyampaikan bahwa FTP UNEJ pada awalnya mendapat dana sebesar 3,2M. Namun pada akhir Februari-Maret melalui arahan kementerian terkait adanya efisiensi anggaran, FTP UNEJ mendapat pemotongan dana sebesar 44,6% sehingga alokasi dana FTP UNEJ menjadi 1,7 M. Dana tersebut telah digunakan untuk keperluan akreditasi internasional sekitar 1,4 M, sehingga dana yang tersisa hanya 300 Juta dan dialokasikan untuk seluruh ormawa sebesar 30 Juta.
Terkait adanya pemangkasan, pihak dekanat memberikan solusi untuk pelaksanaan kegiatan Ormawa, yaitu tidak perlu cetak banner, ATK (seperti cetak surat, presensi, dan sejenisnya), serta konsumsi diminimalkan. Dekanat juga menyarankan jika kegiatan Ormawa lebih baik dilaksanakan secara daring.
Ir. Giyarto selaku Wadek 3 FTP UNEJ saat ini, menyampaikan jika TOR tetap sesuai dengan yang sudah diunggah di Simawa dengan dana awal, tetapi bagian keuangan akan merevisi dananya sesuai dengan alokasi dana terbaru. Ketua Umum Imatekta, Hizkia Filadelphia, memberikan pernyataan bahwa Imatekta sudah melakukan pencairan dana setelah alokasi dana final ditetapkan. Revisi dana per kegiatan memang tidak diunggah di Simawa namun dilakukan secara internal dan hanya di proposal kegiatan yang digunakan untuk pencairan.
“Misal ya tadinya kita dana Rp 800.000 pilihannya di simawa Rp 800.000, kita tetap pilih Rp 800.000 walaupun nanti yang cair nggak Rp 800.000, gitu,” jelas Hizkia.
Berbeda kasus dengan UKM PI ARC yang sudah melakukan pencairan sebelum alokasi dana final ditetapkan. “Pas aku ngajuin itu ya sempet ada masalah kan, kayak bannernya itu kalo bisa dari Pak Gik nya itu menyarankan gak udah cetak terus konsumnya itu diminimumin lagi, tapi karena sudah terlanjur cetak dan sudah terlanjur DP jadi ya mau gimana lagi, akhirnya dibolehin dan bisa cair full pas itu,” Ungkap Felin selaku Bendahara Umum UKM PI ARC. Namun hal ini berdampak ke pencairan dana di proker selanjutnya.
Dampak yang dirasakan Ormawa
Adanya pemotongan anggaran ini berdampak langsung pada agenda dan program kerja yang telah disusun sebelumnya. Penyesuaian konsep kegiatan menjadi hal yang tak terhindarkan akibat keterbatasan dana. “Dilihat dari dananya, pastinya ada beberapa program kerja dan agenda yang nantinya akan dikonsep ulang dari yang konsepan awal dananya 8 juta. Jadi kalo semisal turun, ada sedikit perubahan dari proker yang sudah dikonsep diawal,” jelas Faisal ketua Himatirta.
“Jika dirasa cukup [dananya], kita lanjutkan prokernya. Jika dirasa dana yang dipotong terlalu besar, kemungkinan ada agenda yang dipangkas ataupun dihapus nantinya dan tidak dijalankan, beberapa kegiatan yang sebelumnya akan dilaksanakan secara offline pun kemungkinan besar akan berlangsung online,” terang Faisal.
Hal yang sama disampaikan oleh ketua UKPSM Symphony Choir, Aliata Salsabila menyampaikan, “Kita terpaksa menghapus mini konser karena emang efisiensi, menurut kita mini konser yang paling banyak memakan dana dan sepertinya bisa digantikan dengan kegiatan lain contohnya latihan untuk yudisium itu untuk paduan suara tim.”
Di sisi lain ketua umum Imatekta, Hizkia, menyampaikan, “Untuk pembatalan program kerja kita nggak akan melakukan hal itu, cuman merivisi dari konsepanya aja, kaya Imatekta Talk tadinya acaranya offline kita bikinnya jadi online, jadi kaya podcast doang.”
Bendahara UKM PI ARC juga menyampaikan bahwa tidak ada program kerja yang dibatalkan selama kepengurusan. Namun karena UKM PI ARC telah pencairan dana yang belum direvisi di awal, hal tersebut akan berdampak pada proker selanjutnya.
“Cuma karena pencairan dananya itu di-full kan, maksudnya nggak diturunin kan, jadi tetap sesuai dana awal, nah itu pasti berdampaknya ke proker yang selanjutnya. Jadi proker selanjutnya itu dana yang bisa diajukan pasti lebih minim atau lebih sedikit karena kita sudah mengajukan dana yang besar di awal,” tambah Felin selaku bendahara UKM PI ARC.
Menurut Angger selaku ketua BEM FTP UNEJ, efisiensi ini tidak hanya berdampak pada alokasi dana kegiatan, namun juga pada penggunaan fasilitas untuk kegiatan ormawa yang dibatasi. “Kalau misal besok kita ada proker, biasanya ada gladi di malam hari yang biasanya di kelas. Cuman sekarang ga bisa kalau gladi di malam hari, soalnya ya mereka jajaran dekanat memikirkan terkait lampu dan lain-lain,” terang Angger.
Strategi dan Harapan Ormawa
Berbagai strategi dilakukan oleh pengurus ormawa baik menyederhanakan konsep, menyiapkan dana usaha, menggunakan uang kas, hingga melakukan iuran untuk menutupi kekurangan dana kegiatan.
BEM FTP mulai menyusun strategi alternatif untuk tetap menjalankan program kerja yang telah direncanakan, salah satunya dengan mencari sumber pendanaan lain. “Kita di Departemen Hubeks [Hubungan Eksternal] memiliki bagian di kewirausahaan atau bisa dibilang ekrafnya [Ekonomi Kreatif] lah. Dari temen-temen BEM mencoba buat Open PO, berusaha partnership-an sama contoh konveksi, percetakan, mulai dari awal periode” ujar Angger.
Di lain sisi, Bendahara UKM PI ARC menyampaikan terkait kekurangan dana di UKM PI ARC akan didiskusikan melalui rapat badan pengurus harian dan kepala departemen, apakah kekurangan dana tersebut ditutup dengan uang kas, membuka HTM, atau iuran anggota.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Imatekta, “Tadinya acaranya meriah mungkin jadi sederhana saja. Cara kita yang kedua mau nggak mau iuran. Iuran ini dilakukan secara terbuka, melalui musyawarah,” terang Hizkia. Selain itu Imatekta juga membentuk divisi danus di setiap proker untuk memperoleh pendapatan tambahan, namun jika masih belum menutupi maka cara terakhir adalah menggunakan uang kas.
Selain membuka dana usaha, strategi lain dilakukan oleh UKPSM Symphony Choir yaitu dengan mengikuti perlombaan yang mendapat hadiah berupa uang penghargaan. Namun jenis perlombaan yang dapat diikuti oleh UKPSM Symphony Choir masih terbatas. “Kalau ikut lomba-lomba kita cuman bisa vokal grup. Memang sulit sih untuk menyalurkan bakat vokal [perorangan] anak-anak sekarang, karena dananya nggak ada,” terang Aliata Salsabila. Ia juga mengungkapkan harapannya, “Aku berharap semoga teman-teman semangatnya nggak berkurang soalnya efisiensi ini mereka bakal mikir bebannya semakin bertambah baik itu nyari sponsor ataupun danusan, aku harap mereka tetap bisa melakukan hobinya dan bakatnya walaupun terhalang dana.”
Menurut Hizkia selaku ketua Imatekta, beberapa hal perlu dievaluasi dari dekanat terkait situasi yang sedang terjadi. “Buat dekanat ini ya, memang betul kan, dana kita tiap tahun udah dipastikan berapa miliar. Cuman, selagi belum dana itu cair, alangkah baiknya dari dekanat itu jangan terburu-buru menggunakan uang dekanat, karena kita nggak tahu kan kaya gini hal tiba-tiba yang dadakan. Ya bukan mau menyalahkan dekanat cuma ya jadi evaluasi aja.”
Namun demikian, Ormawa yang memberikan pernyataan mengusahakan untuk tetap menjalankan proker semaksimal mungkin dengan berbagai strategi yang telah disampaikan. “Kita berusaha aja untuk selalu optimis supaya kita dapat income selain dari pagu yang diberikan dekanat,” tambah Angger selaku Ketua BEM FTP UNEJ 2025.
- Penulis: Fajar Abdan, Yenda Aulia
- Reporter: Diva Duatri
- Editor: Geofani Zulia