Aryo (52) bukan nama sebenarnya, adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berasal dari sebuah desa di Banyuwangi, Jawa Timur.

Di Desa tempat tinggal Aryo, terdapat beberapa PMI yang bekerja ke luar negeri. Mereka harus bekerja ke luar negeri karena ingin mengubah nasib sepulang dari sana, kemiskinan, pendidikan yang tak memadai menjadi alasan penduduk desa untuk keluar dari desanya, begitu juga Aryo.

Sebelumnya, kehidupan Aryo sangat sederhana. Ia dan keluarganya tinggal di rumah istrinya. Aryo bekerja sebagai petani di desanya dan istrinya sebagai ibu rumah tangga. Mereka memiliki 2 anak. Anak pertama perempuan dan anak kedua laki-laki, kedunya masih balita. Keluarga yang awalnya selalu berkumpul, kemudian menjadi keluarga tak utuh karena Aryo dan istrinya harus bekerja ke Malaysia.

Awal mula keinginan Aryo untuk menjadi PMI karena melihat tetangganya yang menjadi PMI ke Arab Saudi. Sepulang dari sana, tetangganya ini bisa membuka usaha. Sehingga Aryo ingin sekali pergi ke Arab Saudi.

Грайте у відеослоти Космолот під час канікул

Під час свят онлайн-казино pin-up casino вхід пропонують акції та турніри. Цікаво, що це період, коли більшість із них менш активні. Особливо це актуально під час новорічних та різдвяних свят, коли сайти азартних ігор самі по собі намагаються вразити геймерів. Тож скористайтеся цією щедрістю якнайкраще. Бонус і вбийте. Можливо, вам доведеться почекати ще рік, поки казино відновить акції.

Перш за все, отримати певні кошти, будь то онлайн чи офлайн. Дотримуйтеся цього, навіть якщо угода виглядає настільки добре, що це неправда. Крім того, не слідкуйте за своїми втратами, коли ви точно знаєте, коли кинути.

Keinginan Aryo sudah bulat untuk bekerja keluar negeri, namun keberangkatan itu tiba-tiba batal karena Aryo tak jadi diberangkat ke Arab Saudi. Ia dijanjikan perusahaan tenaga kerja tersebut untuk berangkat ke Malaysia. Waktu itu Aryo dijanjikan oleh sebuah perusahaan atau PT di Banyuwangi yang akan memberangkatkannya ke Malaysia. Ia dijanjikan akan mendapatkan gaji besar, fasilitas bagus, dan dapat cepat mendapatkan uang yang banyak jika bekerja ke Malaysia.

Sebelum Aryo memutuskan berangkat ke Malaysia, perusahaan penempatan pekerja migran tersebut meyakinkan jika Aryo akan ditempatkan dan bekerja bersama-sama istrinya di Malaysia, karena ini sesuai dengan permintaan Aryo.

Diberikan Paspor Liburan, Bukan Paspor Kerja

Namun harapan untuk bekerja bersama istrinya pupus ketika perusahaan tersebut memisahkan mereka berdua. Karena menurut aturan, katanya mereka tidak boleh berstatus suami istri. Sang istri akhirnya berangkat terlebih dahulu ke Malaysia. Saat itu usia istrinya masuk kepala dua.

Tetapi nahas, sudah setengah tahun setelah keberangkatan sang istri, Aryo bersama rombongan pekerja migran lainnya malah terlantar di Kalimantan karena masih menunggu paspor. Sehingga keinginan Aryo bertemu dengan sang istri tertunda. Aryo kemudian harus hidup di Kalimantan

Keberangkatan Aryo dan istrinya ke Malaysia tak mudah, awalnya ia harus membayar Rp 2.500.000 untuk mengurus berkas-berkasnya ke PT yang memberangkatkannya. Rp 2.500.000 tersebut sudah termasuk paspor untuk bekerja disana. Tetapi karena ia tak memiliki cukup uang, makai a membayar dulu Rp. 1 juta. Jadi pembayarannya masih kurang Rp 1.500.000. Akhirnya ia menggadaikan sertifikat sawahnya untuk mencukupi kekurangan tersebut, sehingga saat pemberangkatan mereka hanya membawa uang Rp 1.000.000 yang dibagi dua sebagai uang saku untuk keperluan sementara disana.

Keberangkatan Aryo diawali dengan karantina di Banyuwangi selama satu bulan. Kemudian ia diberangkatkan ke Semarang menggunakan bus yang berisi 50-60 orang untuk mendapatkan pembekalan. Satu bulan kemudian, ia diberangkatkan ke Kalimantan Barat menggunakan kapal laut untuk ditempatkan di penampungan.

Di Kalimantan Aryo berada di penampungan selama 3 bulan menunggu paspor yang masih belum juga keluar. Karena lama menunggu paspor keluar, salah satu PMI kemudian meminta kejelasan kepada pihak penanggungjawab penampungan. Bukannya mendapatkan paspor, Aryo dan PMI malah dipindahkan ke perbatasan.

PMI yang dipindahkan ada yang merasa sudah putus asa tetapi tidak bisa pulang, karena tidak memiliki ongkos dan tidak tahu jalan pulang, sehingga Aryo dan PMI lainnya kemudian bertemu dan dibantu oleh warga dari Suku Dayak setempat. Mereka ikut salah satu Warga Dayak selama 1 bulan sebelum dikembalikan ke penampungan. Ketika itu, Aryo berhasil mengirimkan surat ke saudaranya yang di Banyuwangi untuk menyampaikan isi surat tersebut ke PT yang memberangkatkannya sehingga pihak PT tersebut datang ke Kalimantan. Aryo dan PMI  lainnya kemudian dibawa kembali ke penampungan untuk dibuatkan paspor.

Karena sudah mendapatkan paspor, maka Aryo dan PMI kemudian diberangkatkan ke Malaysia melalui Bandara Kucing Kalimatan (Malaysia Timur). Masalah yang mereka hadapi tak sampai di situ, ternyata paspor yang diberikan pada Aryo bukanlah paspor untuk bekerja, melainkan paspor berlibur yang hanya berlaku selama 1 bulan. Waktu 1 bulan yang harusnya dibuat untuk bekerja, tidak dilakukan gara-gara terjegal paspor liburan. Akhirnya mereka hanya diminta tinggal di kos-kosan selama 1 bulan menunggu pabrik yang mau mempekerjakan mereka.

Fasilitas yang dijanjikan dulu, ternyata tidak ada. Aryo malah tinggal di kos-kosan yang 1 kamar berisi 6 orang. Fasilitas kesehatan tidak bisa didapatkan, karena paspor Aryo paspor liburan, bukan paspor kerja, jadi dia tak mendapatkan fasilitas itu. Paspor yang dimilikinya dulu juga sudah habis masa berlakunya. Hidup Aryo disana tidak tenang karena sudah tidak memiliki paspor sehingga ia dianggap sebagai pekerja tak berdokumen. Tak hanya itu, Aryo selalu was-was apabila ada penggerebekan oleh polisi untuk mencari pekerja-pekerja tak berdokumen seperti dirinya.

Mimpi buruk PMI tak Memiliki Paspor

Di Malaysia, Aryo dan para PMI lainnya tetap tinggal di kos-kosan. Disana ia tinggal bersama 17 PMI, 10 orang memiliki paspor dan 7 orang termasuk Aryo tidak memiliki paspor.

Suatu malam, terjadilah penggerebekan oleh polisi yang meminta para PMI menunjukkan paspor mereka. PMI yang memiliki paspor lolos, tetapi mimpi buruk bagi 7 orang yang tidak memiliki paspor. Mereka ditangkap karena tidak memiliki dokumen resmi.

Tak mau ditangkap, maka para PMI tersebut memilih “jalan damai”. Aryo membayar sekitar Rp 2.500.000 agar lolos dari tangkapan. PMI yang lain ada yang membayar Rp 1.000.000 hingga Rp 1.500.000, sesuai kemampuan mereka membayar.

Setelah melakukan pembayaran tersebut, sekitar pukul 12 malam waktu setempat, mereka disuruh lari ke hutan oleh polisi. Dan polisi tersebut berpesan, jika ada penggerebekan, maka mereka diminta memberi kabar pada polisi tersebut. “Kabari saya jika terjadi penggerebakan,” ungkap Aryo menirukan gaya sang polisi. 

Di Malaysia, setelah menunggu sekian lama, akhirnya Aryo bisa bekerja. Selama satu bulan menunggu, akhirnya ada pabrik yang membutuhkan tenaga mereka. Tetapi selama satu bulan itu mereka harus menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit, karena jika sakit akan sulit untuk mendapatkan perawatan mengingat status mereka sebagai pekerja tanpa dokumen resmi. Jika ketahuan, mereka akan ditangkap oleh pihak setempat bahkan kemungkinan buruknya akan masuk penjara. Sehingga jika ada yang sakit, mereka hanya bisa minum obat-obatan warung dan dirawat di kos-kosan. 

Pertama kali Aryo bekerja di pabrik bis. Bukannya mendapatkan upah atas kerjanya, ia malah dipekerjakan selama 3 bulan disana dan tidak digaji.

“Paspor saya ditahan, pimpinan saya disana bilang bahwa saya dijual selama gaji 3 bulan baru paspor dikembalikan,” ungkap Aryo.

Karena sudah tidak kuat, kerja selama 3 bulan tapi tidak mendapatkan gaji, Aryo dan 9 rekannya memutuskan untuk keluar dari sana. Sehingga dari kejadian itu ia dan rekannya tidak memegang paspor karena paspor mereka ditahan oleh pabrik tersebut.

Kemudian Aryo bekerja sebagai pekerja konstruksi selama 5 bulan. Disana ia juga tidak mendapat gaji melainkan hanya uang makan. Akhirnya ia keluar lagi dari pekerjaannya. Kemudian ia bertemu dengan orang Surabaya yang menawarinya untuk bekerja sebagai pekerja konstruksi. Tetapi berbeda dengan tempat kerja sebelumnya yang tidak memberinya gaji selama 5 bulan, bekerja dengan orang Surabaya ini ia malah dapat mengirimkan uang ke Jawa karena mendapat upah.

Setelah bekerja hampir 3 tahun, Aryo kemudian memutuskan untuk pulang kampung saat hari raya (Idul Fitri) tiba. Tetapi Aryo tidak memiliki ongkos untuk pulang ke kampung halamannya. Kemudian ia mengadukan keinginan pulangnya kepada orang Surabaya yang mempekerjakannya tersebut.  Orang Surabaya tersebut menyarankannya untuk bekerja di bidang konstruksi selama 6 bulan lagi dan hasil upahnya nanti dapat dikumpulkan untuk dijadikan ongkos pulang ke kampung halamannya.

Akhirnya setelah 6 bulan bekerja, Aryo sudah mendapatkan ongkos untuk pulang, tetapi karena ia masih tidak memiliki paspor, Aryo harus pulang tanpa dokumen resmi bersama satu rekan yang berasal dari kota yang sama dengannya.

Kepulangannya yang tak berdokumen dari Malaysia harus melewati Sumatera dengan naik kapal Pompong (kapal untuk mencari ikan) yang berisikan 45 hingga 60 orang. Dengan menaiki kapal tersebut, Aryo harus membayar sebesar Rp 1.200.000 agar sampai di Sumatera. Kemudian dari Sumatera, Aryo naik bus untuk sampai ke Surabaya dengan ongkos sebesar Rp 700.000.

Sampai di Surabaya, Aryo pulang ke Banyuwangi dengan naik bus juga dengan ongkos waktu itu sebesar Rp 150.000. Sehingga total kepulanganya sebesar Rp 2.050.000 dengan waktu perjalanan selama 8 hari. 

Hilang Kontak dengan Istri

Kebahagiaan sangat dirasakan oleh Aryo karena dapat kembali ke kampung halaman dengan selamat. Tetapi masalah Aryo tak berhenti disana. Dari awal keberangkatan istrinya, Aryo tidak pernah bertemu kembali dengan sang istri. Saat ingin bertemu di Malaysia, selalu tidak dapat bertemu karena ketika berkunjung ke alamat yang diberikan, istrinya sudah pindah tempat kerja.

Setelah Aryo pulang ke Indonesia, ia sudah kehilangan kontak dengan istrinya. Tak hanya istrinya, Aryo juga pernah hilang kontak dengan keluarganya selama 1 tahun saat awal pemberangkatanya ke Malaysia. Keluarganya khawatir dengan keadaan Aryo, sehingga Kakak Ipar Aryo mendatangi PT yang bersangkutan untuk menanyakan keberadaan Aryo. Tetapi usahanya nihil.Kakak iparnya tidak dapat bertemu dengan pihak yang bertanggungjawab di PT tersebut karena perusahaan tersebut selalu lari ketika akan ditemui, begitu juga keluarganya tidak bisa menghubungi istri Aryo.

Hingga akhirnya Aryo pulang dari Malaysia dan meminta ganti rugi karena keberangkatannya tanpa dokumen resmi. Namun usaha ini juga gagal karena ia tidak dapat bertemu dengan pihak PT yang memberangkatkannya. Sehingga kasus ini dilupakan begitu saja karena Aryo sudah bersyukur dapat kembali ke kampung halaman dengan selamat.

Setelah kejadian tersebut hingga pada 2017 lalu, ia kemudian bisa dipertemukan kembali dengan istrinya. Anak mereka di Banyuwangi bisa menemukan kembali keberadaan ibunya melalui Facebook.

Namun meskipun bisa mengontak kembali, istrinya itu kini sudah memiliki keluarga baru di Sumatera. Istrinya dinikahi orang disana karena sudah lama tidak pulang dan hilang komunikasi dengan keluarganya di Banyuwangi.  Ini juga merupakan beban tersendiri bagi Aryo.

Ironi Kampanye Migrasi yang Aman                          

Cerita Aryo merupakan sebuah ironi bagi PMI di Jawa Timur, karena Jawa Timur kemudian justru mendapatkan penghargaan sebagai daerah yang dianggap memiliki kepedulian dalam pelayanan PMI.

Di tahun 2018, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi pengirim PMI terbesar ke luar negeri. Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BN2PTKI) diketahui, penempatan PMI dari Jawa Timur mencapai 70.381 pekerja atau sekitar seperempat dari total jumlah PMI yang mencapai 283.640. Dari jumlah itu, sebanyak 6.132 pekerja berasal dari Banyuwangi.

Urutan kedua adalah Jawa Tengah dengan jumlah PMI mencapai 61.434 pekerja, diperingkat ketiga adalah Jawa Barat dengan 57.230 pekerja.

Pemerintah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi/ Disnakertras Jawa Timur mendapatkan penghargaan dalam acara peringatan Migrant Day 2020 di Hotel Bidakara Jakarta sebagai dinas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelayanan dan perlindungan pekerja migran Indonesia dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI). Hal ini merupakan ketiga kalinya Disnakertras Jawa Timur mendapatkan pengahargaan Indonesia Migrant Workers Award (IMWA) mulai 2018, 2019, dan 2020. Kondisi ini sangat ironis dengan kisah yang dialami Aryo dan banyak PMI lain.

Hingga saat ini, di desa tempat Aryo tinggal belum ada data terkait PMI. Padahal mereka yang berangkat bekerja ke luar negeri berharap dapat mengubah perekonomian. Berdasarkan jurnal laporan pengabdian masyarakat, mata pencarian warga di desa Aryo tersebut mayoritas adalah sebagai petani atau berkebun. Sebagian dari mereka beternak dan pedagang serta wiraswasta.

Latar belakang pendidikan para penduduk di desa Aryo masih terbilang minim. Sebagian besar penduduknya lulusan SD. Tetapi sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Terbukti dengan adanya beberapa penduduk lulusan SLTA bahkan hingga perguruan tinggi. Ini penting bagi desa untuk memberikan pembekalan atau sosialisasi terkait migrasi yang aman bagi PMI yang akan berangkat dari desa tersebut.

Dalam kasus Aryo, Kepala Dusun Desa Aryo tersebut mengatakan, pemberangkatan Aryo ke Malaysia merupakan pemberangkatan yang tak berdokumen, karena waktu itu Kepala Dusun tersebut membantu Aryo dalam menemui pihak PT yang memberangkatkannya, namun perusahaan tersebut ingkar janji.

“Katanya pemberangkatannya resmi ternyata malah tidak ada dokumen. Sempat saya bantu meminta ganti rugi dengan mendatangi rumah pihak PT  tetapi tidak dapat ditemui, selalu lari,” ungkap Kepala Dusun Desa Aryo tersebut.

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus ini tidak pernah dilaporkan ke polisi, dan dikabarkan bahwa PT tersebut sekarang sudah tidak ada.

Ini menunjukkan perlunya diintensifkan lagi upaya-upaya penyadaran publik dan pemahaman pada masyarakat bahwa pemberangkatan WNI ke luar negeri untuk bekerja secara unprosedural dapat membahayakan WNI.

Upaya Perlindungan Migrasi yang Aman

Kasus Aryo merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh PT pemberangkatan PMI. Sehingga dapat mengancam keselamatan PMI yang diberangkatkan.

Kasus Aryo juga tidak pernah dibawa ke jalur hukum, padahal menurut Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Banyuwangi, Agung Sebastian, kasus Aryo seharusnya dilaporkan kepada pihak yang berwajib karena jelas melanggar UU TPPO.

“Langkah yang harus dilakukan, jika ke kami maka kami tanya dulu kebutuhan dan tuntutan dari korban tersebut. Saran kami dilaporkan saja  ke Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) supaya dapat pendampingan hukum untuk diteruskan melaporan ke kepolisian. Karena jelas melanggar UU TPPO,” Jelas Agung.

Ia juga menambahkan bahwa PT yang melanggar tersebut akan mendapatkan hukuman denda hingga pidana penjara. Sesuai Undang – Undang No. 18/2017 Pelindungan PMI jelas bahwa dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), setiap Orang yang: (Pasal 86)

  1. Membebankan komponen biaya penempatan yang telah ditanggung calon Pemberi Kerja kepada Calon Pekerja Migran Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf a;
  2. Menempatkan Calon Pekerja Migran Indonesia ke negara tertentu yang dinyatakan tertutup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf b;
  3. Menempatkan Pekerja Migran Indonesia tanpa Surat Izin Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf c; atau
  4. Menempatkan Pekerja Migran Indonesia pada negara tujuan penempatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf d

Melihat kasus Aryo, pemerintah harus lebih tegas agar kasus seperti ini dapat terhindari. Menurut Agung bahwa pemerintah harus memberikan pelayanan dan menindak tegas PT yang melakukan hal seperti itu.

“Pemerintah tentu memiliki tugas dan tanggung jawabnya memberikan pelayanan dalam bentuk menerima pengaduan dan perlindungan hukum kepada PMI tersebut, dan menindak tegas para perekrut dan PT tersebut,” ungkapnya.

SBMI menyarankan untuk para calon pekerja migran Indonesia (CPMI) dan keluarga jangan mudah tergiur dengan iming-iming calo perekrut untuk bekerja keluar negeri, orang yang tidak dikenal, proses tanpa biaya, tanpa kontrak kerja, merekayasa dokumen. Sehingga sebelum memutuskan untuk bergabung menjadi PMI pada suatu PT, pastikan PT Perekrut dan Karyawan PT yang terdaftar memiliki surat tugas izin perekrutan dari Kemnaker dan Disnaker setempat. CPMI dapat mengecek untuk PT atau Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang resmi di Website Kemnaker :http://pptkln.kemnaker.go.id/apptkln/?page=cabang&hal=72


Reporter: Wahyu, Alisia

Grafis : Adilah D. F

Editor: Luviana (Pemimpin Redaksi Konde.co), Wisnu (International Organization for Migration)

Artikel ini merupakan bagian dari ASPIRE (Assessing Stigma for Prevention, Improved Response, and Evidence Base) Project yang dijalankan oleh International Organization for Migration (IOM) Indonesia dan didanai oleh Modern Slavery Innovation Fund (MSIF) of the UK Home Office.

ASPIRE Project membuat sebuah pendekatan yang sadar akan norma dan stigma sosial dengan tujuan untuk meningkatkan upaya pencegahan dan memperkuat respon pihak-pihak terkait terhadap eksploitasi dan perdagangan orang di Indonesia.