
Fairuz menyesalkan beberapa kebijakan yang diwacanakan rektorat sampai saat ini selalu inkonsisten. Padahal menurutnya, permasalahan seperti keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) harus disikapi dengan bijak oleh Rektor. “Kemarin pihak birokrasi meng-iyakan bahwasanya UKT ini bisa diringankan, cuma sekarang kita belum tau kejelasan terkait mekanisme-mekanismenya,” ucap Fairuz. Lebih lanjut melalui gerakan ini, Fairuz berharap kebijakan yang dikeluarkan oleh rektorat selalu berpihak kepada kebermanfaatan mahasiswa. “Kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan dan secara sigap mengeluarkan kebijakan yang benar-benar dibutuhkan oleh mahasiswa,” tuturnya.
Sementara itu Ketua BEM Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Syahril Imron, menganggap gerakan ini sebagai upaya kolektif agar nasib mahasiswa yang terkena imbas secara langsung oleh pandemi covid-19, bisa mendapat perhatian serius oleh Rektor Universitas Jember. Mengingat pihak BEM FTP sendiri melakukan sampling bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan yang hasilnya banyak mahasiswa yang terdampak negatif oleh pandemi ini. “Di FTP, sesuai dengan poin-poin yang ada di rilis ada yang terdampak juga. Sehingga kami BEM FTP juga membuat rilis (baca: sikap) terkait ini,” ujar Imron.
Gerakan virtual #unejjangancuek ini, disambut baik oleh Rahmad Dwi Putra. Menurutnya, melalui instrumen tagar #unejjangancuek, keresahan mahasiswa selama pandemi dapat didengar oleh pihak rektorat. “Bagaimanapun ini merupakan bentuk pengawalan dari semua keresahan-keresahan mahasiswa (untuk) mendapatkan hak seadil-adilnya,” ujar Rahmad. Kedepannya Ia mengajak mahasiswa Universitas Jember untuk lebih aktif dalam menyuarakan aspirasinya. “Jika kita ingin mendapatkan hak kita, mari kita sama-sama untuk terus mengawal dan menyuarakan keresahan-keresahan kita kepada rektorat,” tandas Mahasiswa Teknik Pertanian ini. []