Kawal Kendeng, Solidaritas Mahasiswa Jember Ingatkan Isu Lokal

JEMBER, Manifest – Solidaritas Mahasiswa Jember mengadakan aksi “Solidaritas Untuk Kendeng” pada Senin (27/03) di Alun-Alun Kota Jember. Aksi ini diinisiasi oleh gabungan organisasi mahasiswa ekstra kampus di Jember seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), serta beberapa organisasi pemuda lainnya di Jember. Acara ini sekaligus memperingati tujuh hari meninggalnya Patmi, Petani Kendeng yang meninggal saat melakukan aksi cor di depan Istana Negara, Jakarta.

Akbar Ridho selaku koordinator aksi mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mengajak mahasiswa dan masyarakat Jember pada umumnya untuk turut ikut menolak pembangunan pabrik semen yang ada di Pegunungan Kendeng. Aksi ini menurutnya juga dilandasi untuk mengenang perjuangan Patmi dalam melawan kebijakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang tetap menyetujui pembangunan pabrik semen. “Apa yang terjadi di Kendeng juga merupakan masalah bagi kami (Warga Jember, red). Karena kami juga memiliki tambang pasir, gumuk, dan di Banyuwangi juga punya tambang emas. Sehingga Harapan kami hal ini dapat menjadi pembelajaran di Jember,” jawabnya.

Akbar menjelaskan rangkaian acara pada aksi ini diisi dengan pernyataan orasi dari peserta aksi, kemudian dilanjut dengan teatrikal puisi dan terakhir ditutup dengan pembacaan doa oleh pemuka lintas agama untuk mendiang almarhum Patmi. “Acara ini juga dihadiri oleh komunitas lintas agama masing-masing,” lanjutnya. Harapan dari aksi ini menurutnya sebagai awal gerakan masyarakat Jember untuk memberikan solidaritas kepada masyarakat di Pegunungan Kendeng. “Tentu akan ada aksi-aksi selanjutnya, termasuk gerakan merespon perkembangan yang ada di lokal Jember.” Tambahnya.

Sementara itu, salah satu koordinator lainnya, Kholil Amin Al Anwari juga menegaskan pemerintah harus menindaklanjuti konflik yag terjadi di Pegunungan Kendeng. Selain itu menurutnya, masyarakat Jember harus berkaca dari fenomena yang terjadi di Kendeng. “Itu adalah bentuk kapitalisme modern, dimana itu sangat merugikan masyarakat pada umumnya.” Tegas kholil.

Ia juga mengingatkan masyarakat sebenarnya di Jember sendiri juga terjadi kasus yang sama seperti di Pegunungan Kendeng. Ia mencontohkan adanya penambangan pasir di daerah Paseban, Jember yang meresahkan warga sekitar. “Sampai sekarang masalah di Paseban masih bergulir, tanpa adanya kejelasan.” Tukasnya. Ia juga menuturkan pemerintah daerah masih belum melakukan hal yang konkret dalam menanggapi kasus yang ada di Paseban.

Wifiano Rizky Tantowi, salah satu peserta aksi dari Peace Leader Jember juga mengapresiasi aksi yang dilakukan mahasiswa Jember ini. Ia menjelaskan aksi solidaritas ini selain untuk mengenang Patmi, juga dapat dijadikan sarana penyadaran masyarakat agar turut serta menjaga alam. “Intinya mengkampanyekan bahwa pelestarian alam itu perlu dijaga, sampai ada kejadian ini ya soro lah istilahnya.” Ungkap Wifiano.

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *