Aliansi Amarah Masyarakat Jember (AMJ) yang terdiri dari aliansi BEM se-Jember, Cipayung, Aksi kamisan, serta masyarakat sipil Kabupaten Jember melakukan aksi demonstrasi di gedung DPRD dan Kepolisian Resor Jember, Sabtu (30/08/2025). Aksi tersebut menginginkan adanya reformasi Kepolisian Republik Indonesia.
Titik awal aksi berada di depan DPRD Kabupaten Jember dengan menyampaikan orasi dan puisi oleh massa yang geram dengan represifitas aparat yang marak terjadi belakangan ini. Beberapa massa aksi menempel poster ‘ojol lawan balik!’ untuk menutupi tugu nama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jember.
Titik utama aksi berada di Polres Kabupaten Jember dengan tujuan penyampaian tuntutan ke kapolres Jember.
Lima tuntutan yang dibawa adalah:
- Bebaskan seluruh massa aksi yang ditahan.
- Usut tuntas dan adili seluruh aparat pembunuh dari aktor lapangan hingga otak pemberi perintahnya.
- Evaluasi institusi Polri secara menyeluruh
- Copot Kapolri Listyo Sigit Prabowo karena telah gagal mengubah wajah represif kepolisian
- Presiden dan DPR harus segera mengevaluasi segala kebijakan yang tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat.
Tuntutan tersebut muncul akibat kekecewaan masyarakat atas insiden yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang meninggal dilindas mobil rantis brimob di Jakarta serta semakin meningkatnya represifitas aparat terhadap masyarakat.
“Sebenarnya ini merupakan puncak amarah kami dari mahasiswa dan juga dari rakyat Indonesia. Karena sepertinya yang kita harapkan dari setiap kita menyampaikan aspirasi adalah mereka berpihak dan mengayomi masyarakat,” jelas Isna dari PC Kopri Jember. Isna juga menjelaskan bahwa insiden yang terjadi di Jakarta menunjukkan bahwa polisi tidak berpihak pada rakyat, tidak sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk mengayomi dan memberikan keamanan kepada masyarakat.
Aksi juga diiringi dengan pembacaan puisi “Mitos-Mitos Kecemasan” karya Afrizal Malna yang bunyi salah satu baitnya adalah “senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami”.
“Kita punya masyarakat, kita punya rakyat, tapi kenapa kita ditindas? Aku membacakan itu dengan penuh kebrutalan di hati karena memang isinya sesuai dengan yang kita rasakan,” terang Prima Hesti Mahasiswa FISIP UNEJ.
Dari lima tuntutan yang telah disampaikan oleh massa aksi, hanya empat tuntutan yang disetujui oleh Kapolres Jember.
“Saya selaku Kapolres mendukung aspirasi adik adik kecuali nomor 4, karena jabatan Bapak Kapolri, beliau adalah pimpinan saya. Adapun undang-undang yang mengatur adalah wewenang dari bapak presiden dan kami tidak memiliki kewenangan terkait jabatan Bapak Kapolri,” jelas Bobby selaku Kapolres Jember.
Menanggapi respon dari Kapolres, ketua HMI cabang Jember, Ahmad Ridwan menyampaikan, “Tentu kita merasa kurang puas sebenarnya karena poin penting di nomor 4 adalah goals yang seharusnya menjadi poin corenya, sehingga dari aliansi sendiri tadi dirasa perlu ada aksi lanjutan untuk selanjutnya.”
Koordinator lapangan aliansi mengakhiri aksi demo pada pukul 15.40 WIB berdasarkan hasil kesepakatan antar lembaga. Namun, terdapat beberapa massa aksi yang belum mau meninggalkan Polres karena tidak menerima hasil negosiasi dan tetap mendesak Kapolres Jember untuk menandatangani poin empat.
“Tentu Kita juga berharap teman-teman yang melanjutkan aksi hari ini tetap kondusif, tetap menjaga keselamatan masing-masing. Jangan sampai di aksi hari ini kita menimbulkan korban jiwa lagi,” ujar Ahmad ridwan selaku Ketua HMI Cabang Jember.
- Penulis: Emah Nada
- Penyunting: Yenda Aulia
- Fotografer: Fajar Abdan