“Some codes aren’t meant to be cracked, they’re meant to be felt”
Siang itu, matahari bersinar tajam di atas langit kampus, menyiram pepohonan dan
wajah-wajah letih mahasiswa yang berlalu-lalang di lorong fakultas. Davin, mahasiswa
berumur 20 tahun yang baru menempuh semester dua, duduk menyendiri di sudut ruang
laboratorium, ditemani denting lembut lagu 505 dari Arctic Monkeys yang mengalir lewat
headset usang di telinganya.
Lagu yang telah menemaninya sejak masa putih abu-abu, sebuah
pengingat akan versi dirinya yang dulu, lebih hidup, lebih cerah.
Di sekelilingnya, lima “teman” satu kelompoknya tertawa lepas, mencoret-coret kertas tugas,
menggoda satu sama lain dengan lelucon yang sering kali terasa lebih mirip hinaan.
Davin tidak tertawa, sudut bibirnya hanya bisa tersenyum kaku. Matanya menatap kosong lembaran putih bersih yang seharusnya menjadi laporan praktikum. Pensil di tangannya hanya
menggurat-gurat nama yang sama berulang kali: Davin, Davin, Davin…
Sejak awal semester, ia merasa seperti bayangan dalam kelompok itu, selalu ada, tapi tidak
pernah benar-benar dianggap. Kadang mereka tertawa bersamanya, tapi lebih sering
menertawakannya. Pernah sekali tugasnya hilang secara misterius. Lain waktu, flashdisknya
rusak, dan file-nya terhapus. Setiap kali protes selalu dibalas dengan cengiran.
“Yaelah, bercanda doang kali. Lagian kalo kamu baper, ya susah punya temen.”
Davin tertawa waktu itu. Tawa pendek. Tapi hatinya seperti ditusuk pelan-pelan.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar. Tiga kali. Terdengar seperti tergesa- gesa, hampir seperti
orang yang hendak merobohkan pintu. Davin menoleh, melepas sebelah headset-nya.
“Hei, kalian denger gak?” tanyanya.
Tak ada yang menjawab. Mereka masih tertawa, seolah ketukan itu tak pernah ada. Davin
bangkit, langkahnya pelan menuju pintu. Saat ia baru melangkahkan kakinya keluar dari
ruangan, langit berubah gelap seketika, bulir air perlahan turun dari langit, semakin lama
semakin kencang, menggedor atap kampus dengan irama kacau. Kosong melompong. Ia tak
menemukan siapa pun disana. Davin melangkah keluar, menoleh ke kiri dan kanan, mencoba mencari siapa pun yang mungkin mengetuk. Tapi lorong itu sunyi, hanya suara hujan dan bau tanah basah. Ia kembali ke pintu lab. Terkunci.
“Loh? Kok ditutup?”
Davin mengetuk. “Hei, buka pintunya. Nesya? Nara? Azka?”
Tak ada jawaban. Ia menggedor lebih keras, panik mulai merambat ke dadanya. Di tengah
kepanikan, ia melihat balok kayu di sudut lorong. Davin mengambilnya, mencoba mendobrak
pintu. Gagal. Tiga kali percobaan dan balok itu terpental, menghantam keras tangannya. Luka
terbuka, darah mulai mengalir deras. Ia jatuh terduduk, menggigil. Dari kejauhan, sayup-sayup
suara sirene memecah udara. Davin tidak menghiraukan raungan dari sirene yang entah nyata
atau hanya suara yang keluar dari kepalanya sendiri, ia fokus menahan rasa sakit.
Beberapa menit kemudian, terlihat keramaian orang menghampiri tempat dimana Davin
berada. Polisi dan dosen datang. Salah satu dari mereka, Pak Ali, seorang polisi berusia empat
puluh berusaha mendobrak pintu. Dalam dua kali hentakan, pintu terbuka. Ruangan gelap dan
sunyi. Lampu dinyalakan.
Jeritan langsung memenuhi lorong.
Tiga orang tergeletak tak bernyawa di lantai. Dua lainnya, Risa dan Nara, terkapar tidak
berdaya di lantai laboratorium, mencoba bicara namun mulut dan tenggorokan mereka
dipenuhi oleh darah.
Davin berdiri terpaku. Matanya membelalak, tangannya gemetar. Ia tidak mengerti. Benarkah
ia hanya keluar sebentar?
“Tolong…. Dav….” rintih nara,sebelum akhirnya jatuh lemas
Tiga Hari Kemudian penyelidikan berlangsung. CCTV mati total, hanya merekam aktivitas di dalam ruangan selama satu menit. Barang bukti minim. Hingga pada hari ketiga, sesuatu ditemukan, sebuah jam tangan berwarna silver, berlumur darah, bukan milik korban.
Itu milik Davin. Di ruang interogasi, Davin hanya duduk terdiam. Jubah putihnya masih ternoda darah. Wajahnya kosong. Sesekali tertawa. Kadang menangis. Tak satu pun kata keluar dari mulutnya, sampai akhirnya Ali, dengan tatapan tegas, mencoba meminta penjelasan dari Davin.
“Davin, apa yang kamu lakukan ke teman-temanmu?”
Davin mengangkat wajahnya, pelan-pelan. Matanya berkaca.
“Saya enggak tahu, Pak… Saya cuma keluar bentar, terus… semuanya…”
“Kamu yakin?” Davin terdiam. Lalu menyingkap jubahnya. Di lengannya, tergores angka “505”, seolah ditulis sengaja dengan ujung pisau. Ia menatap Ali dan Sasha, dokter forensik yang ikut menyelidiki kejadian tersebut dengan senyum aneh.
“505… tempat terakhir mereka masih tertawa.” Tangisnya pecah disusul oleh tawa tertahan. Histeris. Kacau.
“Saya… cuma pengen mereka dengar saya sekali aja. Sekali aja… saya juga manusia.” Sasha menatap Ali dengan ngeri.
“Dia trauma berat, tapi luka-luka di tubuh korban, terlalu kejam untuk disebut tak sengaja.” Ali menggenggam tangan Davin.
“Kenapa kamu lakukan itu, Vin? Jawab!” Davin menoleh dan berkata, “Saya enggak pernah niat. Tapi… ada suara yang bilang, mereka harus diam. Harus berhenti, saya cuma nurut.”
“Suara siapa?”
Davin tertawa pelan. “Saya sendiri.”
Malam itu, di dalam ruang observasi, Davin duduk menghadap jendela. Hujan turun lagi. Ia
diam, menatap kosong jam tangannya yang terus berdetik, menunjukkan pukul 17:05 sore.
Suara tawa menggema pelan di lorong rumah tahanan. Tidak ada siapa pun. Hanya pantulan
bayangan Davin di kaca yang tampak tersenyum sendirian.
Beberapa hari kemudian, laporan psikiater menyatakan bahwa Davin mengalami gangguan disosiatif berat atau DID, efek dari trauma masa kecil dan perundungan berkepanjangan. Ia dinyatakan tidak layak untuk diadili secara hukum dan dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk penanganan lanjutan. Namun, kasus itu tidak selesai begitu saja. Salah satu penyidik menemukan hal ganjil saat menyisir kembali ruang laboratorium. Coretan angka 505 ditemukan di bawah meja tempat Davin biasa duduk. Ditulis dengan darah kering, tampak seperti ukiran lama. Lebih tua dari hari kejadian. Dan entah mengapa, setiap tanggal lima bulan Mei, lorong laboratorium itu masih sering terdengar suara ketukan tiga kali. Anehnya, lagu 505 terdengar samar, padahal tak ada pemutar musik di sana. Beberapa mahasiswa menganggapnya cerita hantu.
Tapi bagi Davin, itu bukan hantu.
Itu peringatan
Penulis: Devita Azka