Jerit Sunyi Rinjani

Berputar dan terus berjalan, begitulah waktu. Gadis cantik yang dulu sering meringkuk dipojok sanggar tari kini telah bermetamorfosa menjadi gadis remaja yang cantik jelita dengan tubuh sintal dan mata coklat yang lebar, kulitnya putih bersih, sangat kontras dengan rambut panjangnya yang hitam legam.

Terik matahari membakar bumi dengan ganas ketika Rinjani mendorong sepeda until bermuatan dua buah jerigen disisi kanan-kiri dan sebuah jerigen lagi yang berukuran lebih besar diatas boncengan. Jerigen-jerigen itu berisikan air bersih yang sudah ibunya isikan dari sumur belakang mushola ditengah desa, dan tugasnya untuk membawa muatan itu agar sampai dengan selamat ke rumah. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya, iapun meringis setelah mengendus bau tubuhnya sendiri. Bau kecut dan apek tidak pernah jauh-jauh dari dirinya, kecuali ketika ia sedang didandani untuk pertunjukan tari atau menyanyikan tembang-tembang jawa. Menjadi salah satu pengisi acara berbalut budaya Jawa. Biasanya, sebelum melakukan pertunjukkan, ia diharuskan mengikuti rentetan tradisi yang membuat dirinya berendam didalam air dan meluluri tubuhnya dengan berbagai campuran bunga dan rempah selama berjam-jam.

Rinjani menyelonjorkan kakinya sembari mengatur napas setelah lima kali naik turun untuk membawa air-air itu pulang ke rumahnya. Ia menengadahkan wajahnya menatap langit, mencari ketenangan dari arakan awan-awan di angkasa, membiarkan angin yang bertiup pelan mengeringkan tubuhnya.

“Rinjani, apa yang kamu lakukan disini, sayang?”

Rinjani membuka kedua kelopak matanya, menemukan sosok wanita cantik yang ia panggil ibu sedang berdiri menjulang dihadapannya dengan seulas senyuman yang meneduhkan. Ia tahu betul, ibunya sama lelahnya dengan dirinya. Rinjani menggelengkan kepalanya, tidak tahu harus membalas apa.

“Ibu harus pergi bekerja, jika tidak ada acara sebaiknya kamu di rumah saja ya.”

“Rinjani ikut ibu bekerja saja! Kan lumayan uangnya bisa untuk ditabung jika ada sisa. Rinjani ambil topi dan minum dulu ya, Bu! Untuk bekal, hehehe.”

Ningsih menggeleng pelan melihat kegigihan putrinya untuk membantunya mencari pundi rupiah. Jika boleh jujur dan jika ia memiliki pilihan lain, ia tak akan membiarkan putri sulungnya itu bersusah payah membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai orang tua, ia merasa gagal membahagiakan putrinya, namun sebagai seorang ibu, ia begitu bangga dengan putrinya.

Rinjani muncul dengan kaos lengan panjang berwarna merah dan rok selutut senada yang warnanya sudah pudar, lengkap dengan topi yang melindungi wajahnya dari sengatan terik matahari dan sandal jepit yang tak kalah bututnya. Tangan kanannya membawa plastik berukuran kecil yang didalamnya berisi botol aqua dengan air mineral isi ulang. Ia lantas menutup pintu dan mengikuti langkah ibunya sembari menuntun sepeda butut miliknya.

Hari itu adalah satu dari ratusan hari yang ia habiskan untuk bergabung menjadi buruh tani bersama ibu dan rekan-rekan ibunya yang lain selain memenuhi panggilan dari pengurus sanggar untuk mengisi acara menjadi sindhen dan penari dalam hajatan atau acara sedekah desa. Kehidupan serba kekurangan yang Rinjani jalani sejak kecil tidak lantas membuatnya banyak mengeluh dan berkecil hati. Ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk membantu ibunya, walau kadang hal yang ia lakukan justru mengundang cemoohan untuk keluarganya.

Yang Rinjani tahu, ia melakukan semua ini demi ibunya dan adiknya, agar adiknya tidak harus menelan nestapa sama seperti dirinya. Rinjani tahu betul bagaimana cara berterimakasih kepada Ningsih setelah apa yang perempuan itu lakukan untuknya. Rinjani bukanlah putri kandung Ningsih, ia hanyalah anak kecil yang ditinggal dengan sengaja oleh kedua orang tuanya yang kemudian Ningsih rawat dan bawa pulang.

Ibunya, Ningsih Kinanti, adalah perempuan berhati mulia terlepas dari apa pekerjaannya dimasa lalu. Ia memberikan perlindungan kepada Rinjani bahkan ketika dengan sadar ia mampu menelantarkan gadis itu sama seperti apa yang ibu kandungnya lakukan. Ia juga melimpahi Rinjani dengan kasih sayang dengan tanpa tapi. Jadi, menurut Rinjani, sudah seharusnya ia turut membantu ibunya itu walau Ningsih tidak pernah meminta balas budi atas segala kebaikannya tempo dulu.

Rinjani juga menempuh pendidikan formal seperti gadis biasa. Bedanya, selain menempuh pendidikan formal ia juga bekerja sebagai penari dan sindhen panggilan sejak ia duduk dibangku kelas enam SD. Hal yang membuat orang-orang disekitarnya selalu menatapnya dengan pandangan miring sebab bagi penduduk di desanya, menjadi pekerja seni dengan menggunakan tubuh adalah sesuatu yang tabu. Belum lagi mengenai masalalu ibunya yang dulu pernah bekerja kepada salah satu bos mucikari dan hanya dinikahi secara siri kemudian ditinggal begitu saja oleh ayahnya, seolah ia dan keluarganya adalah sesuatu yang pantas mereka hina.

Rinjani bukan pendendam, hanya saja hatinya selalu perih ketika orang-orang disekitarnya selalu mencemooh dan menyudutkan ibunya. Bahkan adik perempuannya yang tidak tahu apa-apa juga menjadi bahan olokan mereka. Jika sudah begini, Rinjani pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menari dan menyuarakan isi hatinya menggunakan nada-nada pilu pada setiap pertunjukan yang ia isi.

Rinjani merentangkan kedua tanganya, kedua lututnya ia tekuk sehingga tubuhnya dalam posisi mendhak. Malam ini adalah malam pesta sedekah desa di kampungnya, dan ia bertugas menjadi pembuka acara. Ketika pukulan gamelan pertama ditabuh, di-ikuti suara gong dan perangkat lainnya, Rinjani mulai menggerakan pinggulnya. Tubuhnya yang dibalut kain kemben jarik dan berbagai pernak-pernik perhiasan lainnya meliuk-liuk mengikuti irama dengan indah. Rambutnya yang terurai panjang di belakang tubuhnya pun ikut bergoyang, karena gerakan tubuhnya dan juga tiupan angin malam yang pelan.

Berbagai macam tatapan mata menyorot ke arahnya, mulai dari benci, iri, hingga tatapan memuja dan mengagumi. Rinjani sendiri lebih memilih untuk tak menghiraukan mereka. Yang ada dipikirannya hanyalah mendapat uang dengan memanfaatkan kemampuannya dan bisa membantu ibunya. Bibirnya tipisnya menyungging senyuman, dan mata tajamnya melirik kesana kemari dengan lihai, sangat kontras dengan batinnya yang berteriak dan menahan berbagai macam emosi menyedihkan.

“Mbak Rinja, ini Mutia bawakan minum.”

Mutia, adik perempuan Rinjani itu menyambut kedatangan kakaknya dari atas panggung sembari menyodorkan gelas berisi air putih. Ia memberikan tatapan polosnya kepada Rinjani dengan kedua bola mata yang sama bulatnya dengan milik sang kakak, seulas senyum tak ketinggalan menghiasi wajah kanak-kanaknya.

Senyuman Rinjani mendadak pudar ketika salah seorang tetangganya mendorong Mutia dengan sengaja hingga gadis kecil itu tersungkur didekat kaki Rinjani, membuat air yang ia bawa untuk kakaknya tumpah dan percikannya mengenai pakaian Rinjani.

“Dasar gadis murahan! Dibayar berapa sampai kau rela mempertontonkan tubuh murahanmu itu dihadapan banyak pria! Anak dan ibu sama saja, heh!”

Gadis itu menggeram tertahan. Hatinya perih melihat perlakuan wanita tua yang notabenenya adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya itu. Ia ingin marah dan mencaci maki perbuatan kurang ajar tetangganya, namun cekalan tangan sang adik menghentikan aksinya.

Rinjani menolehkan kepalanya dan menatap tubuh adiknya yang dipenuhi dengan tanah, bahkan lutut dan sikunya juga berdarah. Mata bulatnya dipenuhi dengan air mata yang siap tumbah, namun Mutia tahan mati-matian agar tidak membuat kakaknya khawatir berlebihan.

“Mutia tidak apa-apa, Mbak! Tidak perlu khawatir.”

Ia tahu betul perasaan adiknya itu sama sakitnya dengan dirinya. Tidak pernah ada manusia yang baik-baik saja ketika orang yang mereka sayang mendapat penghinaan, begitu juga dengan Rinjani dan Mutia.

“Mbak Rinja tunggu sebentar ya, Mutia ambilkan minuman yang baru lagi.”

Rinjani mengangguk, ia tahu adiknya butuh waktu untuk menenangkan diri. Bukan kali pertama Mutia mendapat perlakuan seperti ini ketika gadis kecil itu menemani kakaknya dalam sebuah pertunjukan yang dilakukannya, dan hal yang tidak pernah berubah dari Mutia setiap kali mereka kembali ke rumah adalah ia yang mengucap bangga pada sang kakak dan ingin mengikuti jejaknya suatu hari nanti.

Rinjani menitikan air matanya dan menghapusnya dengan segera. Ia tidak bisa dan tidak akan berhenti dari pekerjaannya. Hanya ini satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk keluarganya, toh jika ia berhenti pandangan masyarakat disekitarnya tidak akan berubah sedikitpun. Ia memilih untuk menutup mata dan telinganya rapat-rapat, tak peduli dengan apa yang mereka perbuat.

Rinjani sadar betul, sudah menjadi resikonya mendapat tatapan miring dari kaumnya sendiri sekalipun ia tidak melakukan apapun selain menari dan me-nembangkan langgam-langgam yang mewakili suasana hati. Sudah menjadi pilihannya menjadi pelestari dan bagian kecil dari pelaku seni. Tidak ada yang salah dengan dunia yang digelutinya kecuali pemikiran-pemikiran negatif yang diciptakan manusia itu sendiri sehingga menatap Rinjani, dan rekan seprofesinya dengan sebelah mata.

Toh jika bukan dimulai dari dirinya, lantas siapa lagi?

Ilustrator: Siti Khoiriati Nikmaturrohmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *