Belajar dari Tari Gandrung

Mengenal budaya tentunya perlu, apalagi budaya yang ada di sekitar kita. Namun lebih perlu, apabila kita mengetahui makna dan sejarah mengapa suatu budaya itu ada. Sehingga kita mampu lebih bangga dan bersenang hati untuk melestarikannya.

Kata budaya mungkin sudah femiliar di telinga kita, terkadang budaya diartikan sebagai suatu hal atau kegiatan yang terjadi secara turun-temurun dan dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Setiap daerah di Indonesia mempunyai kebudayaan yang beragam. Kebudayaan di daerahmu dengan daerah temanmu dapat berbeda. Namun yang terpenting bukan perbedaannya, tetapi bagaimana kita dapat ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di sekitar kita. Nah permasalahnya, bagaimana cara kita melestarikannya sedangkan kita tidak memiliki kemampuan dalam bidang tersebut?. Misal kesenian tari tetapi kita tidak bisa menari, kesenian musik tetapi tidak bisa main musik, lalu bagaimana? Mari kita belajar dari kota yang mendapat julukan sebagai “Kota Gandrung” ini.

Kebudayaan daerah yang ada di Indonesia sangat beragam, bahkan ada yang menjadikannya sebagai ikon kota. Salah satunya adalah kota di ujung timur Pulau Jawa ini. Kota kecil ini disebut Banyuwangi, kebudayaan-kebudayan yang ada di Banyuwangi yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati, tentu memiliki tujuan dan sejarahnya sendiri. Ki Hajar Dewantara mendefinisikan kebudayaan sebagai buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Tari Gandrung merupakan hasil perjuangan masyarakat Banyuwangi dalam mengatasi kesulitan pada saat itu guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Awalnya Tari Gandrung dibawakan oleh penari laki-laki dengan dandanan wanita yang saat penjajahan Belanda digunakan sebagai sarana penyampaian pesan dan logistik bagi para gerilyawan, terutama saat perang puputan Bayu tahun 1771. Namun jauh sebelum itu, kata “gandrung” merupakan bentuk syukur masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri sebagai dewi padi karena dikaruniai wilayah agraris yang membawah kesejahteraan.

Pada tahun 1970an bersamaan dengan kebijakan Revitalisasi Kebudayaan Daerah bupati Djoko Supaat Selamet, kesenian Gandrung kembali bergairah. Ini dibuktikan dengan acara-acara Kabupaten Banyuwangi yang sering menampilkan Gandrung. Kemudian pada bulan juli 1974 pemerintah Banyuwangi mengadakan festival Gandrung untuk pertama kalinya sebagai upaya dalam pengembangan kesenian Gandrung. Pada festival tersebut didapatkan juara satu yang kemudian melakukan rekaman pada tahun 1975. Di masa-masa ini Gandrung mengalami perubahan yang sangat mencolok. Hal ini dikarenakan kuatnya unsur hiburan dalam setiap pertujukan Gandrung. Selain dipengaruhi oleh keadaan politik saat itu, hal ini juga di akibatkan oleh kebijakan pemerintah yang berusaha mengemas pertunjukan kesenian Banyuwangi untuk keperluan pariwisata. Orientasi Gandrung yang semakin mengarah pada kepentingan hiburan atau pariwisata, mencipatakan jenis tarian baru yaitu Tari Jejer Gandrung pada tahun 1978 yang merupakan bentuk hiburan atau kreasi baru dari kesenian Gandrung. Kemudian pada tahun 2002 melalui SK Bupati No. 173 tanggal 31 Desember 2020, kesenian Gandrung dijadikan sebagai maskot pariwisata Banyuwangi. Tari Jejer Gandrung juga dijadikan sebagai tari sambutan atau tari selamat datang. Hal ini merupakan upaya untuk menjadikan Gandrung sebagai ikon atau maskot kota Banyuwangi. Upaya ini dilanjut pada tahun berikutnya yaitu tahun 2004, patung-patung Gandrung mulai dibangun di berbagai penjuru kota Banyuwangi, pembangunan patung Gandrung di pintu masuk utara Banyuwangi (Pantai Watu Dodol) adalah yang paling besar. Pembangunan pariwisata semakin gencar pada tahun 2010, dibuktikan dengan berbagai festival yang diadakan setiap tahun secara rutin guna menarik minat wisatawan. Salah satu festival tersebut adalah “Gandrung Sewu”. Gandrung Sewu adalah tari kolosal Banyuwangi yang ditampilkan oleh seribu lebih penari.

Tidak cukup jika hanya mengenal Gandrung dari sejarahnya saja, mari kita telisik lebih dalam mengenai busana yang digunakan oleh seorang penari Gandrung. Tari Gandrung Banyuwangi memiliki tata busana yang sangat khas dan berbeda dengan pakaian tarian jawa lainnya. Terdapat tiga bagian dalam busana Gandrung, yaitu: bagian kepala Gandrung, bagian tubuh Gandrung, dan bagian bawah Gandrung. Bagian kepala menggunakan hiasan serupa mahkota yang nantinya digunakan untuk menutupi kepala yang disebut omprok. Omprok ini terbuat dari kulit kerbau dan diberi ornamen berwarna emas dan merah. Bagian tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari kain beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilap dan menghiasi leher hingga dada, sedangkan bagian pundak hingga ujung tangan dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Dibagian leher juga dipasang ilat-ilat yang menjadi penghias bagian atas pada bagian lengan dihias dengan satu buah kelat bahu yang biasanya berbentuk kupu-kupu. Bagian pinggang dihias dengan sabuk yang dilengkapi sembong serta diberi hiasan kain warna merah putih. Selendang juga digunakan sebagai pelengkap dan kipas sebagai pemanis. Kemudian bagian bawah menggunakan sewek atau kain batik khas Banyuwangi. Dahulu penari Gandrung tidak menggunakan kaos kaki, namun sejak tahun 1930an penari Gandrung dalam pertunjukannya mulai menggunakan kaos kaki putih. Pertunjukan Tari Gandrung juga disajikan dengan iringan alat musik khas yaitu gamelan osing. Terkadang juga diselingi dengan saron bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi.

Melihat keadaan di atas, kesenian Gandrung memang mengalami perkembangan yang sangat besar, ditunjukan dengan semakin banyaknya pertunjukan Gandrung. Pertunjukan Gandrung kreasi baru (Jejer Gandrung) yang lebih sering ditampilkan membuat Gandrung asli atau Gandrung Terop yang menampilkan Gandrung sesuai pakemnya menjadi sepi penonton. Gandrung Terop merupakan istilah saat pertunjukan gandrung dipentaskan di sebuah acara perkawinan atau khitan dengan menggunakan terop (tenda hajatan). Biasanya, penampilan Gandrung Terop dimulai pukul 21.00 WIB sampai menjelang subuh tiba. Gandrung kreasi baru yang lebih praktis dengan penari anak-anak gadis yang memiliki penampilan menarik, mungkin lebih digemari karena sering digunakan dalam tarian sambutan dalam berbagai festival di Banyuwangi. Penonton Gandrung kreasi juga lebih ramai dibandingkan dengan Gandrung asli atau terop. Sehingga dalam hal ini penonton menjadi pengaruh besar dalam perkembangan tari Gandrung. Terkadang penonton juga dapat mempengaruhi minat seseorang dalam belajar tari Gandrung. Karena dapat dilihat, semakin banyak penonton dan semakin besar acara yang diadakan membuat seorang penari Gandrung lebih semangat berlatih dan akan menunjukkan performa yang optimal. Dari kesenian Gandrung inilah kita dapat belajar, bahwa Gandrung sebagai kesenian rakyat yang banyak dipengaruhi oleh keadaan di masyarakat. Permintaan penonton yang menjadi alasan utama dalam pertunjukan Gandrung menjadi penyebab paling besar perubahan tersebut, adanya andil pemerintah juga tak luput dalam membentuk arah Gandrung. Tetapi justru tekanan dan tantangan inilah yang menjadikan tari Gandrung agar tetap eksis dan bertahan di masyarakat.

Setelah mengetahui sedikit banyak tentang Gandrung di atas, kita dapat mengetahui bagaimana budaya itu berkembang dan tetap eksis. Dalam melestarikan budaya yang ada di sekitar kita, butuh kemauan yang besar apalagi jika tidak mempunyai skill dalam kesenian. Jika gemar menari bisa melestarikan dengan belajar menari, jika gemar bermusik bisa melestarikan dengan bermusik, tetapi jika kita merasa tidak memiliki skill apa-apa dalam seni, kita bisa menjadi sebagai penonton seperti pada perkembangan Tari Gandrung. Apapun bentuk atau cara melestarikannya, itu adalah bukti kecintaan kita terhadap budaya. Sehingga lestarinya budaya sekarang ada di tangan kita. []

Ilustrasi: Sandi Ragil Kurnia P.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *