Bumi: Aku Ingin Panjang Usia

Tiga puluh tahun lebih negara-negara di dunia merayakan hari bumi setiap tanggal 22 April, termasuk Indonesia. Gagasan ini diawali oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1969, saat itu terjadi tumpahan limbah kimia ke sungai dekat wilayah hutan hingga menyebabkan kebakaran. Selama beberapa dekade hanya Amerika Serikat yang memperingati hari bumi, hingga akhirnya pada tahun 1990 mulai diperingati secara global.

Hari bumi diperingati dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan apresiasi manusia terhadap planet yang dihuninya. Di Indonesia sendiri, selain hari bumi ada pula peringatan hari lingkungan hidup setiap 5 Juni. Artinya, masyarakat Indonesia dalam setahun mencatatkan dua kali hari peringatan terkait kesadaran akan lingkungan hidup dan keadaan bumi kita. Lalu bagaimana keadaan lingkungan di Indonesia yang setiap tahunnya memperingati dua kali peringatan akan kesadaran pada lingkungan ini?

Di sektor perhutanan, menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) penyusutan hutan di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 0,44 juta hektare atau 440.000 hektare dengan jumlah penyusutan terbanyak terjadi di Kalimantan sebesar 143.094,6 hektare dan Papua sebesar 92.955 hektare. Diantara penyebabnya yaitu kebakaran dan penebangan pohon ilegal. Selain itu, hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 33 kasus penebangan ilegal di Kalimantan Timur. Ya, hanya kalimantan Timur saja belum termasuk kawasan Kalimantan lain dan Papua yang juga menyumbang angka besar dalam penyusutan hutan ini. Megutip dari siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2019 sebanyak 80% wilayah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selalu bertransformasi menjadi lahan perkebunan sawit atau tanaman industri lainnya.

Bukan hanya di hutan saja, biota laut bahkan juga ikut mengalami kerusakan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa luas terumbu karang di Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10% total terumbu karang dunia yaitu seluas 284.300 km2. Namun sayangnya hanya sekitar 6,5% yang berstatus sangat baik. Rusaknya terumbu karang selain karena faktor alam, juga disebabkan oleh faktor non alam yakni ulah manusia sebagai makhluk yang berakal. Kerap kali terjadi pencurian terumbu karang yang kemudian di jual dan dijadikan sebagai hiasan aquarium. Selain itu, terdapat banyak nelayan yang menggunakan bom dan racun sianida untuk menangkap ikan. Faktor lain yang menyebabkan terumbu karang rusak yakni kurang bertanggungjawabnya sektor pariwisata. Pengelola pariwisata atau pemilik perahu kerap menjatuhkan jangkar yang mambuat terumbu karang menjadi rusak, para wisatawanpun tak jarang menginjak terumbu karang hingga rusak entah di sengaja ataupun tidak. Belum lagi sampah yang dibawa oleh wisatawan terutama sampah plastik.

Lokasi: TPA Pakusari Jember/Rifki Abdul Rahman S.

Plastik kerap digunakan karena selain harganya yang murah, penggunaannya pun relatif mudah. Namun kemudahan itulah yang menutupi dampak atau efek buruk yang dihasilkan. Dalam datanya, KLKH meyebutkan pada tahun 2019 jumlah timbunan sampah secara nasional mencapai 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg. Dari jumlah tersebut hanya 10–15% yang di daur ulang. Sedangkan sisanya 60–70% di timbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan 15–30% terbuang ke sungai, danau, dan laut.

Kurangnya pengetahuan manajemen pengolahan sampah menjadi salah satu faktor utama. Pada konsepnya sampah organik dan non-organik harus dipisahkan karena pengelolaannya berbeda. Sampah organik biasanya akan diolah menjadi pupuk dan sampah non-organik akan di daur ulang untuk dapat dimanfaatkan kembali. Seperti yang dilakukan di Jerman, negara dengan tingkat daur ulang sampah terbaik di dunia berdasar data dari Eunomia, yang dikutip oleh World Economic Forum. Di Jerman, persentase sampah yang diolah kembali sudah di atas 50%.

Manusia seharusnya memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Tuhan telah memberikan manusia akal untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah yang ada termasuk di lingkup lingkungan hidup. Memang tidak dipungkiri bahwa masih banyak manusia yang peduli tentang lingkungan kita. Seperti gerakan rehabilitasi hutan oleh KLHK, kelompok masyarakat yang mengedukasi tentang sampah beserta dampaknya bagi lingkungan, dan masih banyak gerakan lain dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Namun itu semua tidak mampu untuk mengatasi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh manusia yang serakah. Bila merusak itu perlu satu hari maka butuh bertahun-tahun untuk membenahi, keterbalikan fakta inilah yang seharusnya manusia sadari bahwa tidak selamanya bumi mampu memberi untuk manusia. Gandhi pernah berkata “The world has enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.” Bumi itu cukup untuk semua kebutuhan manusia, tapi tidak cukup untuk keserakahan manusia.

Selamat hari bumi. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *