Penerapan UTS/UAS TEP Untuk Akreditasi Jurusan

JEMBER, Manifest – Sistem Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) telah diterapkan untuk mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (UJ) Jurusan Teknik Pertanian (TEP) selama 2 semester. Penerapan UTS/UAS ini berasal dari kualitas mahasiswa TEP yang menurun pada penggunaan sistem lama.  Dari press release acara Kajian Bersama FTP (22/11) sebanyak 44% mahasiswa FTP memilih masalah ini untuk dipertanyakan. Mengapa hanya Teknik Pertanian saja yang mengadakan UTS dan UAS?

“Sistem pelaksanaan UTS dan UAS juga merupakan sarana penilaian dan evaluasi dari dosen untuk meningkatkan akreditasi jurusan karena menurutnya lebih gampang mengontrol saat diadakannya UTS dan UAS dibandingkan dengan kuis atau ujian per KAD” kata Elida Novita (7/11) selaku dosen di JurusanTEP FTP UJ. Beliau juga berpendapat bahwa saat dilaksanakannya sistem UTS dan UAS mahasiswa memiliki waktu fokus belajar untuk ujian. Sistem UTS dan UAS ini dilaksanakan selama seminggu tanpa ada beban tugas mata kuliah tertuntu yang menyebabkan mahasiswa dapat memikirkan bagaimana mereka mendapatkan nilai yang maksimal.

Sri Wahyuningsih selaku Ketua Jurusan Teknik Pertanian FTP UJ mengatakan bahwa hasil evaluasi dari beberapa dosen, pelaksanaan ujian per KAD masih kurang maksimal. “Mahasiswa masih ditumpuk dengan deadline tugas serta ujian KAD di waktu yang bersamaan. Hal itu menyebabkan nilai ujiannya di bawah standar kelulusan di FTP UJ”, tuturnya. Sri juga menambahkan bahwa hampir semua dosen TEP mengeluh ketika penerapan sistem lama. Hal itu dikarenakan menurut para dosen semakin lama kualitas para mahasiswa TEP bukan semakin bagus tetapi semakin menurun. “Buktinya setelah menempuh 1 mata kuliah di semester berikutnya ada mata kuliah baru dan itu lanjutan mata kuliah sebelumnya saat ditanya mereka tidah paham.” Ujarnya.

Siswoyo Soekarno selaku Dekan FTP UJ mengatakan bahwa pelaksanaan UAS dan UTS dipertimbangkan berdasarkan hasil evaluasi para dosen TEP. “Ujian per KAD dirasa mahasiswa masih santai dalam pelaksanaannya,” ujar Siswoyo saat acara Kajian Bersama FTP 2019 (22/11). Beliau juga menjelaskan bahwa tujuan dari pelaksanaan UTS dan UAS agar memunculkan semangat belajar dari mahasiswa. Siswoyo Soekarno juga menuturkan bahwa terkait proporsi nilai UTS/UAS di TEP FTP masih belum baku. “UTS  merupakan ujian dari sub cp yang terlewati, untuk melengkapi nilai KAD yang terlewati.” Siswoyo menambahkan bahwa setiap dosen memiliki otonomi sendiri terkait porsi nilai.

Melalui forum Kajian Bersama FTP, Bernadetha Putrinda Mahasiswa Teknik Pertanian Angkatan 2016 menganggap porsi nilai UTS/UAS belum setara jika dibandingkan dengan porsi kerja praktikum yang lebih besar. “Bobot nilai dalam pengumuman di Civitas Akademika TEP untuk tugas sebesar 20%, UTS sebesar 30%, dan UAS sebesar 40% tidak adil jika dibandingkan dengan beban kerja praktikum yang jauh lebih besar.” Selain itu, Bernadetha juga berpendapat tujuan Sri Wahyuningsih selaku Ketua Jurusan TEP untuk pemberlakuan uts/uas tidak relevan dengan apa yang terjadi. Menurutnya, Sri Wahyuningsih mengatakan pada sistem sebelumnya, kualitas mahasiswa dirasa menurun karena tugas yang diutamakan belum tentu dikerjakan oleh seluruh mahasiswa. Hal ini yang membuat sistem diubah menjadi uts/uas. “Namun dalam pelaksanaan UAS dan UTS lebih mudah terjadi kecurangan mencontek karena penjagaan ujian yang kurang ketat yaitu oleh karyawan FTP. Jika seperti itu tidak ada bedanya dengan sistem sebelumnya. Kecurangan yang dapat menurunkan kualitas mahasiswa dalam memahami ilmu sama-sama terjadi.” Ujarnya. Bernadetha juga mempertanyakan bagaimana cara mengkompromikan kondisi mahasiswa semester 7 yang masih mendapat mata kuliah statistika. “Bagaimana UTS dan UAS untuk statistika semester 7?” tanyanya ketika acara Kajian Bersama FTP yang sayangnya belum sempat dijawab oleh Sri karena keterbatasan waktu.

Dari kuisoner yang dibuat oleh LPM Manifest mengenai masalah ini, terkumpul responden sebanyak 57 orang. Sasaran target mahasiswa yaitu angkatan 2016, 2017, 2018, 2019 dengan  8% responden berasal dari Mahasiswa Teknik Pertanian 2019. Ternyata 61,4% responden setuju dengan diadakannya UTS dan UAS. Salah satu alasan dari responden setuju diadakannya sistem ini adalah adanya uts/uas membuat penilaian lebih rapi lebih transparan, juga memudahkan mahasiswa karena berarti untuk kuis akan lebih jarang. “Semisal ada kuis dadakan mahasiswa tidak dapat belajar terlebih dahulu sehingga kurang maksimal, kalo uts/uas kan mahasiswa bisa persiapan” Menurut salah satu responden kuisoner.” Begitu tutur salah satu responden dalam kuesioner. []

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *