Minat Wayang Kerte mulai menurun, UKMK UJ tuangkan ilmu lewat majalah

JEMBER, Manifest – Wayang Kerte termasuk kesenian dari daerah Situbondo. Kesenian wayang Kerte sampai sekarang dinamika penikmatnya mulai menurun. Hal itu disebabkan oleh faktor tingkat kesulitan dari Wayang Kerte yang menyebabkan tidak ada kepedulian dalam melestarikan wayang tersebut.

Wayang Kerte yang dibahas oleh Siti Mabruroh sebagai Pemimpin Redaksi ini dulunya diawali dengan migrasi besar-besaran dari Madura ke Situbondo yang membawa dan melahirkan nilai kebudayaan tersendiri di Situbondo. “Jadi tertarik sebab nilai kebudayaannya masih kental maduranya”, ujarnya saat lauching majalah Niskala oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) Universitas Jember (UJ) (21/11). Diana Purnawati sebagai Editor ikut menambahkan bahwa Wayang Kerte merupakan kesenian wayang orang yang penyebarannya berawal dari Panarukan dan menyebar ke seluruh Situbondo. “Wayang orang telah dikembangkan sejak dulu dan dianggap menarik”, tambahnya. Namun saat ini wayang orang telah mengalami penurunan. Ia menyampaikan salah satu faktor tingkat kesulitan dari Wayang Kerte harus ada musik dan memiliki pakem-pakem dalam belajar yang membutuhkan waktu lama.“Dalang pengatur wayang harus bahasa Madura halus”,tambahnya. Kemudian Diana juga menabahkan keresahan dari seni wayang Kerte ini yang tidak ada peduli tentang warisan ini. “Sekarang mungkin hanya 5 grup saja yang melestarikan Kerte di Situbondo”, paparnya. Oleh karena itu mereka berpesan agar tetap menjaga lokalitas budaya daerah. “Nilai kebudayaan dan sejarah tidak boleh dilupakan harus dilestarikan”.pungkasnya.

Marlutfi Yoandinas sebagai Budayawan Situbondo dan pembicara pada launching majalah berkomentar bahwa dinamika penikmat seni Wayang Kerte atau seni lainya menurun. Faktornya yang menjadi peyebab adalah kurangnya minat terhadap seni kebudayaan lokal sendiri. “Kebudayaan daerah akan mati sebab tidak ada penerusnya”, kata Marlutfi. Ia menambahkan dari kita sendiri harus lebih aktif dalam melihat lingkungan sekitar agar kebudayaan itu hidup kembali. “Aktif dengan kita menulis ini contoh agar bisa diketahui ilmunya”,paparnya. Marlutfi juga menyampaikan bahwa informasi terkait kebudayaan daerah harusnya tercatat dalam tulisan dengan baik dan nantinya dapat menjadi wadah ilmu yang diketahui oleh beberapa kalangan. “Majalah ini patut diapresiasi sebab termasuk catatan ilmu kesenian daerah”. ujarnya.

Kemudian dari kupasan tentang Wayang Kerte, Farel Fergiawan sebagai perwakilan audiens berkomentar bahwa menurutnya isi majalah ini baik dan sangat penting bagi mahasiswa UJ. “Bisa tau isi dari kesenian dan budaya apa yang ada di Situbondo”, ujarnya.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *