Dekan Bubarkan Panitia PPMB, Ada Apa Sebenarnya?

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) Siswoyo Soekarno resmi membubarkan panitia pelaksana Pembinaan dan Pengembangan Mahasiswa Baru (PPMB) 2019 sehari sebelum PPMB minggu kelima dilaksanakan (11/10). PPMB yang telah diadakan selama empat kali pertemuan dari total enam kali pertemuan menuai masalah. Siswoyo menganggap adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh pihak panitia kepada mahasiswa baru.

Pada minggu kedua (21/09) pelaksanaan PPMB FTP UJ, mobil dinas Siswoyo dipinjam untuk mengantarkan mahasiswa yang pingsan saat pelaksanaan PPMB. “Mobil dinas saya dipinjam untuk membawa mahasiswa yang pingsan,” kata Siswoyo. Ketika ditanyakan mengenai penyebab mahasiswa pingsan, menurut Siswoyo pihak panitia mengatakan karena faktor kelelahan. Padahal, Siswoyo menyatakan bahwa dirinya mendapat laporan panitia yang berasal dari pihak dekanat bahwa hal itu terjadi karena adanya bentakan dari panitia. “Tapi ada info masuk bahwa ini akibat ada tekanan dari panitia. Itu sudah keterlaluan sebetulnya. Saya tugaskan Pak Kasub (Kepala Sub Bagian) Akademik Mawa untuk memperingatkan dan dipantau lebih intensif di minggu berikutnya.” Ujarnya. Siswoyo sangat menyayangkan sikap pihak panitia ketika menjalankan tugasnya tidak sesuai koridor yang telah ditentukan. “Kalau mahasiswa ada salah maka dibentak-bentak sampai ada yang pingsan.” Lanjutnya.

Kemudian, keputusan pembubaran panitia ini diambil ketika Siswoyo disinggung oleh pihak rektorat mengenai perpeloncoan yang diadukan oleh mahasiswa via University Costumer Care Center (UC3) saat pertemuan dekan di Rektorat. Diketahui bahwa, UC3 ini merupakan tools yang ada di Sistem Informasi Terpadu (Sister) UJ. Tools UC3 ini akan terkoneksi dengan pihak humas UJ.

Siswoyo membantah, bahwa pembubaran kepanitiaan ini atas instruksi dari rektorat. Menurutnya, ini adalah wewenangnya untuk mengevaluasi masalah di ranah FTP. “Waktu itu begitu masuk ke pengelola UC3, untuk ini dikembalikan kepada dekan untuk menindak lanjuti terkait keluhan ini. Ya langsung saja saya bubarkan”. Tambahnya.

Terkait keputusannya tersebut, Siswoyo menganggap sudah sejak pertemuan pertama ada indikasi perpeloncoan. Tetapi ia masih bisa memaafkan karena laporan dari kepanitiaan pihak dekanat kepadanya masih dalam batas wajar. Sehingga ia hanya melayangkan ultimatum dan memberi peringatan kepada panitia pelaksana melalui panitia dari pihak dekanat. “Saya meminta panitia dari fakultas untuk memperingatkan panitia PPMB. Kalau ada apa-apa, nanti dekan yang turun tangan.” Ujarnya. Sebelumnya, panitia sudah diwanti-wanti agar tidak melakukan perpeloncoan. Menurut Siswoyo, pihak dekanat FTP melalui Wakil Dekan (Wadek) 3 sudah sangat detail menjelaskan kepada panitia mengenai hal-hal yang dilarang dalam pelaksanaan PPMB. “Sudah jelas. Hal-hal mengenai bentakan sudah disampaikan detail oleh Wadek 3 saat melakukan pembinaan kepada panitia.” Ujarnya.

Lebih lanjut, Siswoyo menganggap bahwa PPMB adalah hal yang sangat penting. Pasalnya, PPMB ajang untuk memberikan semangat dan motivasi oleh panitia kepada mahasiswa baru untuk kehidupan kampus kedepan. Kode etik dan aturan yang berlaku itu harus ditaati. “Kakak kelas itu harus memberikan motivasi kepada adik-adik maba, bagaimana ia belajar dan mempunyai semangat yang tingi dalam mengikuti pembelajaran di FTP.” Lanjutnya.

Fauzan Mufid Murtadlo, Ketua panitia PPMB cukup menyesalkan mahasiswa yang melapor masalah ini via UC3. Menurutnya, mahasiswa yang bersangkutan seharusnya terlebih dahulu menyampaikan keluhannya kepada pihak internal FTP. Ia mengungkapkan bahwa pihak internal sangat fleksibel dalam menerima aduan masalah dari mahasiswa baru. “Kenapa kok tidak diselesaikannya itu di lingkup (FTP) sesuai birokrasi?” Ujarnya. Untuk kedepannya, Fauzan berharap koordinasi Forum Mahasiswa (Forma) lebih intens agar kejadian seperti ini tidak terulang. Mengingat, tupoksi forma dalam pelaksanaan PPMB adalah sebagai penanggungjawab. “Misalnya ada kesalahan atau evaluasi itu bisa langsung di evaluasi dan dibenarkan. Kalau kemarin itu tidak. Karena ada kejadian kemarin ini, evaluasi baru diadakan, jadi tidak ada pencegahan.” Tuturnya.

Rendra Lebdoyono, selaku Perwakilan Forma sekaligus Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTP menanggapi, bahwa pembubaran panitia ini adalah keputusan yang mutlak. Menurut Rendra, tugas dan konsep pelaksanaan sudah baik untuk orientasi mahasiswa baru. Pihaknya tidak bisa berdalih karena hal ini adalah bentuk pertanggungjawaban dari pihak dekan FTP kepada rektorat. “Tapi karena adanya laporan ke rektorat, jadi diperlukan tindakan berupa pertanggungjawaban dekan ke pihak rektorat.” Tuturnya.

Satryawan Kusuma Yudha, salah satu peserta PPMB 2019, turut angkat bicara. Ia Meminta maaf atas kejadian ini. “Memang yang salah angkatan saya, sebenarnya kalau dari awal tidak setuju PPMB diadakan, sebaiknya bilang saja jangan seperti ini akhirnya.” Ujarnya. Lebih lanjut ia menganggap bahwa panitia sudah menjalankan tugasnya dengan baik, “Buat panitia, panitia sudah menjalankan tugasnya dengan baik, sebenarnya tanpa panitia kelas jadi semrawut. Kalau masalah angkatan, semoga lebih baik dari kemarin, bisa menyelesaikan masalah bersama-sama.” Pungkasnya. []

3 tanggapan untuk “Dekan Bubarkan Panitia PPMB, Ada Apa Sebenarnya?

  • 27 Oktober 2019 pada 9:18 am
    Permalink

    Hay mimin manifest, sekedar opini nih, menurut opini saya, konsep ospek d FTP ini sudah jadul alias jaman dulu, kurang pembaharuan yg mengikuti jaman fleksibel jaman now. Dari bentak bentak trus d suruh berdiri dll, bentak bentak saja itu sudah termasuk bullying, bisa melanggar hukum juga nggak ya min kalo bullying itu ?
    Setiap anak punya pribadi yg beda beda, ga semua bisa d bentak bentak. Dan menurut saya pun d bentak bentak itu sudah jadul.
    Mungkin d lingkup FTP, dan Unej konsep ospek seperti itu masih berlaku. Namun tidak d beberapa kampus yg go internasional, mereka memperlakukan mahasiswa baru dengan baik. Jika memang tujuan ospek adalah pengenalan kampus dan fakultas dan jurusan, ya d buat saja yg lebih baik, coba keluar dari zona nyaman konsepan yg sudah turun temurun dr dulu, buat terobosan baru dan liatlah hasilnya. Hehe just opinion from me slur. Lain waktu mungkin bisa sambil ngopai ngopai discussnya ya min 😀

    Balas
    • 27 Oktober 2019 pada 1:37 pm
      Permalink

      Yang diajak ngopi jangan miminnya tapi pihak pihak yang terlibat dong 😅

      Balas
  • 27 Oktober 2019 pada 12:38 pm
    Permalink

    Sebagai Anonymous, Apa yang terlihat dari kejadian kemarin justru menjadi pertanyaan besar. Apakah Dengan Tekanan yg diberikan panitia kepada MABA memberatkan ? Pasalnya mereka MABA seharusnya mempunyai pendapat mereka. “GIFT THAT BALL TO NEWBIE , WHAT THEY CAN DO WITH THE BALL ?”. Panitia Mampu memberikan Problem sehingga MABA can solve the problems ,Easy wright ?! Think about it dimana letak kesalahan harus dilihat dari berbagai aspek bukan dari inti permasalahannya. //

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *