Menuangkan Segala Bentuk Keresahan di Aksi RATARATARANTAI

JEMBER, Manifest- Sekumpulan aksi aliansi Rataratarantai dengan atas nama warga Jember bersuara terhadap penolakan dan kegelisahan kondisi Indonesia saat ini (27/09). Aksi ini di gelar di sekitar halaman DPRD Jember melibatkan mahasiswa, pelajar, buruh, petani, jurnalis dan semua yang gelisah dengan kondisi negara ini. Tujuan aksi ini merupakan bentuk dari kemarahan, dan penindasan, serta ketidakadilan dengan cara menuangkannya dalam bentuk poster, musik, teater, puisi, dan orasi.

Dikutip dari press rilis aksi Rataratarantai, penuangan aksi ini bersuara dari awalnya  negara tidak baik-baik saja sejak mulai tanggal 23 sampai 26 September, dan berbagai aksi mahasiswa di Jember bergulir menyuarakan tuntutannya masing-masing. Aksi ini juga berwujud dari keresahan yang tidak sempat tersampaikan terkait beberapa pengesahan pelecehan dan kekerasan seksual, UU pertanian berkelanjutan, darurat asap, penjajahan Indoneisa terhadap papua, penolakan RKUHP, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, dan RUU KPK. Selain itu juga aksi aliansi Rataratarantai juga ikut mengecam kriminalisasi terhadap aktivis. Dandhy Laksono dan Veronica Koman yang menjadi korban tersebut dengan tindakan pemerintah yang represif dan melemahkan semangat perjuangan rakyat. Aliansi Rataratarantai bersuara kan kekecewaan pada pemerintah bukannya mengayomi dan melindungi, justru bertindak represif yang mengikuti aksi.

Sehingga dari tindak represif tersebut Nizar Helmi selaku pengisi acara aksi menuangkan keresahannya dengan musik berjudul Seperti Rahim Ibu. “Kondisi Indonesia yang sedang rapuh bobrok oleh oknum tertentu bisa seperti rahim ibu yang menguatkan kehidupan”, tambahnya. Selain itu ia berkomentar terkait UU KPK yang dirasa dilemahkan seharusnya yang disalahkan dan dilemahkan itu bukan penanggung jawab KPK ini melainkan yang disalahkan oknum koruptor tersebut. “Langkah harus diperbaiki melacak oknumnya, bukan melemahkan KPK” ujarnya. Ia juga menambahkan jika memberikan revisi undang-undang seharusnya masyarakat rendah juga diajak diskusi. “Musyawarah bersama itu yang sebenarnya jadi makna demokrasi”, tegasnya. Maka dari itu ia pun berharap kepada mahasiswa yang turun ke jalan tetap hati-hati jangan sampai terprofokasi dari pihak lain. “Tetap di tujuan kita dalam demokrasi terkait RUU kontroversial”, ujarnya. Maka ia juga menambahkan yang tidak ikut kejalan jangan hanya menyalahkan dan menyinyir di sosial media. “Kami butuh supportnya dukungan untuk mengawal isu ini”, tambahnya.

Alex selaku pengikut aksi tersebut menilai aksi ini begitu sesak dan murni benar-benar curahan kekecewaan yang dialami warga Jember. ”Situasi nya rame menambah atmosfer keresahan lebih mencekam”, ujarnya. Namun ia juga menyesalkan aksi ini tidak ada aparat pemerintahan seperti DPR yang datang. ”Mungkin mereka terlalu sibuk dengan urusan sendiri tidak mau bergabung dengan kami”, pungkasnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *