Pendidikan dan Pemahaman pelecehan seksual sejak dini

JEMBER, Manifest – Unit Pers Mahasiswa (UPM) Millenium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember menggelar seminar dengan tema stop kekerasan seksual di Gedung Teater IAIN Jember (14/09). Dua pembicara dihadirkan dalam seminar ini yaitu Eri Andriani dan Trisna Dwi Yuni Arasta. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk aksi peduli pemahaman jenis pelecehan seksual dan cara penanganan ketika terkena pelecehan seksual khususnya pelajar ataupun mahasiswa.

Eri Andriani menyampaikan bahwa pemberian pendidikan seksual sejak dini masih dianggap tabu. “Itu juga sangat penting, perlu disampaikan sejak dini,” ujarnya. Sehingga banyak pelecehan seksual khususnya pada perempuan disebabkan oleh pemikiran orang-orang yang menganggap bahwa perempuan itu lemah. “Sehingga wanita dijadikan objek lelaki untuk dilecehkan bentuk fisik maupun perkataan,” tambah Eri.

Trisna juga ikut berkomentar, dari segi hukum pelecehan seksual di Indonesia dianggapnya kurang spesifik. “Payung hukum pelecehan seksual di Indonesia hanya pemerkosa dan pencabulan,” tegas Trisna. Sehingga ketika mengalami pelecehan seksual yang tidak mengikat hukum, diri sendiri harus mampu melawan dan mencegah pelecehan seksual tersebut. “Melawan dengan cara sederharna menyerang balik secara mental atau fisik,” tambahnya.

Karena hal tersebut Andini selaku Pemimpin Umum UPM Mlillenium menyampaikan bahwa penting juga untuk kita bersama dalam melindungi diri dari pelecehan seksual. “Dari pemahaman bentuk pelecehan dan cara penanganannya agar terhindar dari hal tersebut”, ujar nya. Ia juga menambahkan maka pendidikan pelecehan seksual sejak dini begitu penting untuk seseorang. Pendidikan pertama menurutnya adalah keluarga, namun hal itu masih dianggap sebagian keluarga sebagai hal tabu. “Kita tidak pernah dibimbing apa saja bentuk pelecehan seksual,” ujarnya. Ilmu pengetahuan mengenai pendidikan seksual didapatkan pada lingkungan pendidikan formal atau pun pengalaman yang pernah terjadi. “Kita tahunya di lingkungan pendidikan formal jadi sudah telat,” ujarnya. Ia pun berharap mahasiswa sebagai harapan leader of change bisa merubah stigma pelecehan seksual agar saling melindungi dan menjaga satu sama lain.

Desi salah satu peserta seminar menilai acara ini sangat bagus dan mendapat antusiasme yang tinggi. “Saya dan mungkin mereka yang datang akhirnya jadi tau dan memahami jenis pelecehan seksual,” ungkapnya. Ia juga berharap kita semua untuk bisa saling melindungi terhadap korban pelecehan seksual. “Korban pelecehan harusnya dilindungi bukan untuk dibully dan dikucilkan”, pungkasnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *