Kejadian di Kolam Renang

Get out, get out..

Seorang wanita berkacamata hitam, rambutnya dikucir kebelakang, berkulit putih dengan wajah khas Eropa, meminta anaknya keluar dari kolam renang. Alisnya bertaut, wajahnya tak menunjukkan keramahan. Anak lelaki bertubuh gempal segera menepi ke bagian kolam yang agak dangkal, ia berjalan dan menepuk permukaan air di samping Lita. Lita tampak terkejut dengan sikap anak lelaki tersebut.

Sore itu, saya menemani beberapa kawan yang sedang berenang di Apartemen Permata Senayan. Di sekitar kolam terdapat dua kursi panjang untuk berjemur, sebuah kursi ayunan, meja kotak dari keramik berwarna hitam putih, beberapa kursi dengan meja di tengah serta tambahan payung lebar, sebuah tempat bermain biliyar, dan sebuah pondok dengan atap genteng dan tempat duduk keramik yang mengitari sisinya.

Di sekitar kolam juga ditanami beberapa tumbuhan yang dapat menambah kesan sejuk, adapula tanaman sintetis yang menjalari dinding bagian kanan. Semilir angin menggerakkan daun-daun tanaman di sekitar kolam, matahari sudah berada di ujung barat.

Ada beberapa anak kecil yang sedang belajar berenang, beberapa lainnya sibuk berlarian. Saya duduk di bagian sisi kolam sambil mencelupkan kaki ke dalam. Tidak ada hal yang saya lakukan selain mengamati keadaan sekitar. Di seberang kolam, seorang wanita berwajah bule sedang menerima panggilan telepon, alisnya saling bertaut, raut wajahnya nampak serius.

Tak berselang lama, wanita tersebut bangkit dari duduknya dan berbicara ke arah Lita yang sedang berada di dalam kolam, saya tidak mendengar apa yang ia bicarakan. Raut wajahnya tampak tidak senang. Beberapa kali ia menunjuk Lita dan beberapa kawan saya. Setelah ia dan anaknya berlalu, saya menghampiri Lita dan menanyakan apa yang terjadi.

“Bilang apa dia mbak?”

Gak tau, tiba-tiba dia marah. Katanya kita nggak menghormati anaknya”

Lita menceritakan semua yang dikatakan oleh wanita itu. Ternyata ia mempermasalahkan pakaian yang teman-teman saya gunakan untuk berenang. Menurutnya, jika berenang maka harus menggunakan pakaian renang, bukan pakaian biasa yang sudah bercampur keringat. Ia juga mengatakan bahwa di luar sana juga sudah banyak dijual baju renang untuk muslim.

“Padahal kita juga ganti pakaian sebelum berenang, bukan pakai baju yang tadi” Seru Lita.
Beberapa saat kemudian, seorang satpam datang ke kolam. Ruth yang bertanggung jawab atas keberadaan kami disana menemuinya. Lagi-lagi saya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan karena posisi saya jauh di seberang kolam. Setelah Ruth kembali, saya mulai menanyainya.

“Kenapa mbak? Wanita tadi lapor satpam?”

Ruth duduk di kursi dan mengangguk. Ia memberi penjelasan kepada satpam bahwa kami adalah tamu Andreas Harsono yang sedang menjalani kursus dan diperbolehkan menggunakan fasilitas umum yang ada di tempat tersebut. Di hari sebelumnya, tidak ada yang mempermasalahkan ketika beberapa dari kami berenang dengan menggunakan pakaian biasa. Dan hari ini berbeda. []

[Tulisan ini pertama kali diterbitkan sebagai tugas dalam kursus Jurnalisme Sastrawi pada 26 Juli 2019 yang diadakan oleh Yayasan Pantau]

 

Desi Wulandari

Seorang perempuan. Belum lulus dari Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ. Masih hidup dan sedang bergelut di biro media LPM Manifest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *