Bangunkan Daku, Ibu Pertiwi Memanggil

Aroma bekas hujan yang mengguyur tanah kering masih menguar tajam menusuk indera penciuman. Beberapa anak muda termasuk aku berkumpul di gazebo simpang lima dekat rumahku, diskusi sembari minum kopi. Perkumpulan kami disebut sebagai Cikal Scout Community (CSC), komunitas pramuka yang sering melakukan pengabdian masyarakat namun tak jarang diremehkan.

Dahulu CSC kerap kali mengadakan kegiatan kemanusian seperti bedah rumah ataupun penggalangan dana besar-besaran, kemudian dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun, bagaikan tidur panjang tak berkesudahan, hampir lima tahun terhitung dari tahun 2010 hingga saat ini 2015. CSC vakum dan sudah lama tidak memiliki program kerja. Sore ini, kami ingin membangunkan CSC yang telah lama vakum. Ibu pertiwi agaknya memanggil kami kembali untuk terjun berkegiatan sosial.

Lalu muncul ide pembuka dari seorang temanku yang bernama Trio. Ia mengusulkan penggalangan dana untuk orang lanjut usia dan warga kurang mampu. “Program memanusiakan manusia gitu lho, tapi ya harus disurvey dulu” kata Trio. Kami semua sepakat. Minggu selanjutnya, survey pun dilakukan dengan menyebar sebagian anggota CSC untuk mencari target penyaluran subangan.

Sementara itu, sebagian anggota CSC yang lain memetakan wilayah untuk memudahkan penggalangan bantuan. Baju, rok, sarung, beras, telur, mie, dan beberapa warga  menyumbangkan uang. Bahkan, ada salah satu toko yang menyumbangkan dagangan berupa sebuah lemari pakaian dari material plastik dan kasur lipat. Tak mengapa memang semua barang sumbangan kami terima dan akan kami buat berguna. Dari sekian banyak hasil survey penduduk, ada satu orang yang kami anggap sangat membutuhkan. Beliau adalah mbah Painah.

Matahari sudah tampak berseri saat aku dan anggota CSC bergegas mempersiapkan segala kebutuhan untuk membedah rumah mbah Painah. Kami berangkat, jalanan terjal berbatu mengawali perjalanan kami menuju salah satu rumah mbah Painah, lansia di pelosok desa. Satu mobil pick up memuat tumpukan esbes, semen, lemari, terpal, dan tanaman di polybag. Sementara mobil barang lainnya mengangkut sembako, mie instan, kardus berisi baju bekas yang masih layak pakai, selang air, kabel listrik, dan peralatan memasak. Masing-masing mobil dijaga oleh dua orang anggota CSC sementara sisanya menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di desa tujuan, kami berjalan menyusuri jalan setapak. Seluruh anggota bergotong royong dalam membantu kegiatan ini. Ada yang mengangkut kasur, bahu membahu mengangkat esbes dan semen serta sembako dan seuruh barang sumbangan. Bagianku paling ringan, hanya menenteng dua panci di tangan kiri dan memegang handy cam di tangan kanan. Hingga kami sampai di rumah ukuran tiga meter kali enam meter. Rumah ini tanpa penyekat ruang dan terbuat dari anyaman bambu kondisinya rapuh, seiring dimakan waktu.

Aku mengetuk pintu sembari mengucapkan salam dan memanggil si pemilik rumah, Mbah Painah. Namun, tak ada sahutan barang sekali saja. Tidak berselang lama, seorang wanita tua renta dengan pakaian atas berwarna biru dan bawahan abu-abu lusuh, muncul dari kebun lebat sebelah rumah mengantongi umbi-umbian. Mbah Painah terlihat kaget atas kedatangan CSC, dia membuka pintu dan menyilakan kami masuk. Aku yang pertama kali melangkahkan kaki masuk rumah.

Diam seribu bahasa, mungkin peribahasa ini sangat cocok menggambarkan perasaan aku kala itu. Tampak bagian dalam rumah terdapat kasur, rak kayu yang sudah reyot berfungsi sebagai penampung bahan dan alat untuk memasak, tungku tanah yang diatasnya terdapat kuali berisi sisa rebusan umbi talas. Berhadapan dengan tungku tanah, sudut rumah difungsikan sebagai  lumbung persediaan pangan, terdapat dua karung umbi-umbian. Aku tertegun melihat rumah yang lebih cocok disebut sebagai ruangan itu.

Warga setempat datang lalu mereka berdikusi dengan senior dari CSC. Buah dari diskusi adalah pembagian tugas. Anggota laki-laki mulai membongkar rumah, mengeluarkan semua yang ada di dalam rumah, perlahan melepas penutup yang terbuat dari anyaman bambu, menurunkan genting rumah, ada pula yang mendirikan tenda darurat. Anggota perempuan sebagian memasak untuk makan malam, sebagian yang lain mencuci piring. Barang pasti, pekerjaan kami dibantu warga sekitar.

Aku masih mengedarkan handy cam milikku, merekam seluruh kegiatan. Hingga disuatu titik aku berhenti sejenak, mengalihkan pandanganku dari layar monitor. Mataku tertuju pada mbah Painah yang bersandar pada tebing tanah di sebelah rumahnya. Ia mengamati rumahnya perlahan dibongkar, ada haru yang tersirat dari manik matanya. Lalu, aku menghampiri Mbah Painah, “seneng mbah?” tanyaku. Ia langsung memelukku, matanya berkaca-kaca, tindakkannya ini sudah kuanggap sebagai jawaban ‘ya’.

Hingga tengah hari, pekerjaan kami membongkar rumah sudah setengah jalan. Teman-teman dan warga sekitar pun istirahat, mereka silih berganti menunaikan sholat dzuhur dibawar tenda darurat. Tim memasak juga sudah tuntas melaksanakan tugasnya. Hidangan sederhana berupa nasi, sayur bening, dan tempe goreng sudah siap disantap. Siang ini, kami makan bersama mbah painah dan warga sekitar.

Usai beristirahat, salah seorang temanku membongkar baju bekas yang kami bawa. Ia mengambilkan satu pasang pakaian ganti. Warna atasannya putih dengan corak bunga biru kecil-kecil sementara bawahannya berwarna hitam. Dia, mbah Painah, senang bukan kepalang. Matanya berair lagi dan tersenyum, buru-buru aku mengambil kamera dan mengabadikan momen haru ini.

Sebenarnya, mbah Painah memiliki tiga anak, salah satu dari mereka adalah kepala desa. Namun, pada kenyataannya tak ada yang peduli. Berdasarkan cerita warga sekitar, tiap kali mbah Painah dapat bantuan dari pemerintah, anak-anaknya datang dan mengangkut bantuan tanpa menyisakan barang beras secangkirpun. Miris memang.

Proses pembongkaran rumah sampai pada tahap membuat lantai dari semen ketika adzan ashar. Seperti biasa kami istirahat sejenak, bergantian menunaikan sholat ada pula yang menikmati kopi sambil merokok. Pekerjaan kami lanjut kembali, memasang dinding dari esbes menutupi sebagian rumah dan meminta ijin pada ketua rukun tetangga untuk mengambil listrik dari rumahnya. Tidak terasa jingga mulai temaram, menjelang magrib semua orang berhenti bekerja.

Aku mengedarkan pandangan mengamati sekitar, ada yang bercengkerama sambil merokok. Ada yang rebahan sambil bermain gawai. Ada yang memetik gitar dan bernyanyi. Sementara aku sedang duduk bersantai di pinggiran api unggun sambil memainkan arang dan memanggang sandal gunungku yang basah bekas air wudhu. Temanku, Adi, memperingatkan agar tidak memanaskan sandal terlalu dekat dengan api, aku hanya mengangguk tanpa memindah sandalku. Benar saja, kainnya sandalnya kering tapi sol bawahnya meleleh. Jadilah aku bahan tertawaan kala itu.

Malam hari, kami sholat isya berjamaah di tempat terbuka beratapkan ribuan bintang dan diguyur sinar rembulan purnama. Romantis sekali pikirku. Sudah tengah malam tapi aku masih terjaga, berbaring dan berdiskusi ringan dengan dua temanku. Kami bertukar pikiran dan sudut pandang tentang hidup, kemanusiaan, bahkan masalah yang mungkin bisa dijadikan pelajaran. Sementara Anggota yang lain sudah terlelap, tidur dibawah tenda darurat.

Esok paginya, kawan-kawan CSC melanjutkan pengerjaan rumah, memasang sebagian sisi rumah yang masih terbuka. Selepas pemasangan usai, sisi depan rumah  beri mural sederhana bergambar wajah mbah Painah. “Untuk kenang-kenangan kerja keras kita” kata Trio. Aku ikut serta mewarnai mural itu, bukan Cikal Scout Community jika orang-orangnya tidak jahil. Temanku mengoleskan cat tembok tepat dihidungku, kubalas dia dan kemudian semua anak terkena imbasnya.

Matahari sudah beranjak naik hingga tepat diatas kepala. Kami sudah selesai menata kasur baru, lemari, rak kayu baru, dan sembako. “Ayo makan dulu, sholat lalu pamitan” ajak Dimas salah satu temanku.  Kami makan bersama halaman rumah mbah Painah sembari melihat hasil kerja keras CSC dan warga sekitar. Tak lupa, aku meletakkan beberapa polybag tanaman sayur di samping rumah. Aku masuk sekali lagi ke dalam rumah untuk memastikan kasur, lemari, baju, dan bantuan pangan sudah ditata pada tempatnya. Lebih baik batinku

Kami mengemasi tenda darurat dan peralatan memasak. “Nduk, reneo” panggil mbah Painah. Artinya “Nak, kemarilah”. Mbah Painah memelukku lagi, menciumiku seperti enggan ditinggal pulang. Aku ingin tersenyum tapi malah berkaca-kaca. Semua temanku diciumi saat bersalaman pamit sambil didoakan semoga dibalas Tuhan. Kami turun menyusuri jalan setapak menuju mobil pick up dan kendaraan bermotor. Aku memperhatikan teman-temanku berjalan sambil menunduk dan hening. Semua mengambil pelajaran dari bakti sosial kali ini. Lelahku dan teman-temanku terbayar dengan bahagianya wanita tua itu. Sekurang-kurangnya, Mbah Painah bisa tidur nyenyak malam ini. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *