Mahasiswa Keluhkan Sistem Pembayaran Baru di Kantin FTP, Dekan: Untuk Memantau Vendor

JEMBER, Manifest – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) mulai menerapkan sistem pembayaran baru pada kantin FTP UJ sejak Senin (15/04). Sistem yang diberlakukan pada seluruh kantin FTP UJ tersebut memiliki alur berupa pembelian menggunakan nota yang nantinya akan diberikan kepada kasir dan harus kembali untuk mengambil barang yang telah dibeli. Namun dalam penerapannya, ditemui beberapa keluhan mahasiswa terkait penggunaan sistem ini saat melakukan transaksi pembelian di kantin.

Kikik Paradiba Mahasiswa FTP Angkatan 2016 mengeluhkan sistem pembayaran yang diterapkan di kantin FTP. Menurutnya, sistem pembayaran ini menyusahkan mahasiswa karena harus bolak balik kesana kesini untuk pembayaran. “Belum lagi kalau hanya fotokopi cuma Rp 200 kita harus bayar di kasir dan kembali lagi”, ucapnya saat ditemui kemarin (16/4).

Hal tersebut juga diutarakan oleh Ferdianto Attaufiqi Mahasiswa FTP Angkatan 2013. Menurut Ferdianto penggunaan sistem seperti ini kurang efisien. “Ada yang  fotokopi cuma sedikit tapi butuh nota dan masih harus mondar mandir dengan nota bayar ke kasir menurutku kurang efisien. Mungkin karena ini sistemnya persenan bukan sewa.”  Ferdianto juga menambahkan bahwa jika memang sistem ingin diterapkan seperti ini, setidaknya perlu penataan dan persiapan apalagi mengingat kantin masih belum penuh.

Sulis salah satu penjual di kantin FTP UJ sempat menjelaskan bagaimana mekanisme pembayaran yang dilakukan di kantin FTP UJ.  “Nanti caranya bayar dulu ke kasir, kemudian nota kertas merah distempel dan dikembalikan ke sini agar saya dapat mencairkan uangnya.” Beliau menambahkan jika sistem itu berlaku untuk pembelian dengan jumlah berapa pun. “Aturannya memang begitu. Kalau misalkan pembelian tidak distempel atau kertas nota hilang maka akan dianggap hangus sehingga saya tidak dapat mencairkan uangnya”.

Siswoyo Soekarno selaku dekan FTP UJ mengatakan sistem sewa kantin di FTP UJ menggunakan sistem kontrak bagi hasil dengan persentase pembagian 90 % untuk penjual dan 10% untuk Universitas. 10% untuk Universitas yang diberlakukan juga termasuk pemeliharaan dan pengelolahan di kantin. “Dengan sistem yang saya terapkan, saya bisa memantau tingkat larisnya vendor dan tidak membebani vendor karena tidak ada biaya sewa tempat seperti tempat lain.  Saya juga memantau vendor yang nakal, kalau dia mengaku mendapatkan omzet kecil, sedangkan hari harinya ramai nah itukan tanda tanya”. []

Penulis: Degita Fahmi

Editor: Bernadetha Putrinda

Ilustrator: Alvina Nur Asmy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *