Pelaksanaan Pemira, Kinerja KPUM Kurang Maksimal

JEMBER, Manifest – Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) merupakan badan yang bersifat independen dan dibentuk oleh Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FTP UJ. KPUM berdiri sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memilih pemimpin satu periode ke depan, khususnya pasangan calon ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta pengurus BPM. Walau bersifat independen, serangkaian acara KPUM dinilai kurang maksimal. “Informasi terkait timeline yang tersebar tidak konsisten dan tidak jelas. Sampai sekarang aku tidak tahu harus apa setelah menjadi calon tunggal. Tidak ada pengumuman resmi juga jika kami calon tunggal,” ujar Wifqi Nur Pangestu selaku Calon Wakil Ketua BEM.

 

Timeline yang Tidak Konsisten

Calon Ketua BEM Rendra Lebdoyono menceritakan masa pendaftaran berdasarkan pengalaman mencalonkan diri tahun lalu dan menyarankan untuk bercermin pada KPUM di masa itu. “Selama masa pendaftaran, ada masa pemberkasan yang kemudian diseleksi oleh KPUM. Dari situ, terbitlah surat bahwasanya kelengkapan berkas pasangan calon (paslon) berapa persen. Setelah itu, KPUM sidang dan hasil sidang menyatakan siapa saja yang lolos dan tidak lolos. Penetapan paslon berdasarkan sidang, bukan berdasarkan embel-embel satu saja yang daftar.”

Siti Nur Azizah selaku Ketua KPUM mengatakan keadaan pemilihan ketua dan wakil ketua BEM periode sebelumnya dengan periode sekarang mengalami perbedaan. Pada periode sebelumnya, dilakukan sidang karena terdapat empat pasangan yang akan menjadi calon. Kemudian dipilih pasangan yang lolos menjadi calon. “Namun kalau sekarang tidak terdapat sidang karena paslonnya tunggal. Tidak perlu sidang asalkan persyaratan dan berkasnya memenuhi. Selanjutnya mereka akan melaksanakan aklamasi kemudian dilantik,” ucap Siti.

“Kami mengira akan terdapat beberapa calon yang mendaftarkan diri, namun ternyata hanya ada satu pendaftar. Hal tersebut membuat kami mengadakan rapat kembali mengenai jadwal-jadwal kegiatan.” Jelas Siti. Siti menambahkan bahwa pihak BEM belum selesai melaksanakan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) sehingga perlu mengetahui kapan LPJ BEM selesai, kemudian dapat menjadwalkan timeline tersebut.

Wahyu Nisa Maulina selaku Steering Committee (SC) KPUM mengatakan bahwa timeline dirapatkan bersama KPUM dan SC. “Dari awal aku sudah bilang, akan ada banner runtutan acara setelah pendaftaran paslon. Namun, timeline tersebut tergantung dengan paslon. Contohnya sekarang ketika KPUM sudah menyusun timeline kampanye, orasi, debat, Pemilihan Umum Raya, dan pelantikan, timeline tersebut tidak digunakan karena diperoleh paslon tunggal.” Kasus yang berbeda dengan periode sebelumnya membuat KPUM mencari informasi terkait keadaan yang sama. Terlalu fokus dengan kasus paslon tunggal tersebut, Nisa pun mengaku lupa untuk tahap pemberitahuan verifikasi berkas. “Sedang disiapkan mengenai pemberitahuan verifikasi,” lanjutnya.

 

Pihak Penyelenggara Kurang Profesional

Wifqi mengaku sempat diinformasikan terkait orasi melalui voice note whatsapp oleh pihak penyelenggara. Tahun lalu, sosialisasi para calon mengenai hal tersebut dilakukan di ruangan FTP, bukan melalui voice note. Rendra menambahkan, “kurang membahas terlalu dalam. Cuma hubungan teman, bukan sebagai KPUM. Menurutku kurang profesional. Kami mengumpulkan tim sukses juga tidak berguna, tidak pernah dihubungi pihak penyelenggara.”

Nisa mengaku memang KPUM pada periode sekarang tidak melakukan konfirmasi secara langsung kepada paslon tunggal. KPUM melakukan konfirmasi sebatas melalui informasi pesan. Hal ini tidak sesuai dengan kode etik yang seharusnya bertemu dengan paslon secara langsung. “Hal tersebut disebabkan KPUM masa sekarang mendapat desakan untuk segera menyebarkan pamflet mengenai paslon tunggal sehingga perkara yang seharusnya dilaksanakan, kurang maksimal dalam melaksanakannya,” tambahnya.

Claodia Yosti Putri mahasiswa FTP berpendapat, “seharusnya KPUM lebih meningkatkan kinerjanya dan lebih profesional lagi toh mereka jadi KPUM atas kemauan pribadi. Kalau KPUMnya saja lemas, bagaimana kita warga FTP respect. Pemilihan BEM kan jadi ajang pesta rakyatnya fakultas, seharusnya bisa lebih baik lagi. Info dari KPUM juga kurang tersebar, mungkin karena hanya sebatas di grup yang jarang sekali dibaca jadi kita tidak tahu apa-apa.”

 

Penulis: Safila Citra Fadila

Ilustrasi: Yahya Sultoni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *