Liburan dan Mahal Tidak Selalu Jalan Beriringan

  • 2
    Shares

Tabik! Apa kabar kuliah minggu pertama? Suasana liburan yang kita nikmati selama kurang lebih dua bulan telah habis. Sekarang saatnya menghadapi kuliah yang kian berat dan menantang seiring bertambahnya semester. Semoga cerita ini dapat mengobati rasa rindu teman-teman pada suasana liburan terutama kampung halaman ya. Kalau begitu saatnya kembali pada liburan semester dimana aku menjenguk kampung halaman. Waktu yang tepat untuk mengasingkan diri sejenak dari hiruk pikuk laporan, praktikum, kuis dan segala urusan kampus. Cari obat penenang, waktunya berlibur.

Makna liburan bagi setiap orang tentu berbeda. Banyak sekali cara merealisasikannya. Tak jarang dari mereka sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari agar liburan mereka lebih berfaedah . Sebagai anak rantau, aku memilih untuk pulang ke kampung halaman. Bertemu keluarga dan teman lama. Sudah lama kami tidak bersua. Barangkali ada banyak hal yang sudah aku lewatkan beberapa bulan terakhir.

Benar saja, aku dibuat pangling dengan tempat aku dilahirkan ini. Pepohonan rindang yang biasanya berdiri kokoh melindungi jalan sekitar alun-alun kini sudah habis tak bersisa. Mungkin saja akan diganti dengan tanaman baru mengingat umur pohon-pohon itu sudah tak cukup dihitung dengan jari. Barangkali juga, untuk menghindari tumbangnya pohon yang bisa membahayakan para pengguna jalan. Entahlah, aku belum mengonfirmasinya lebih lanjut.

Kampung halamanku masuk dalam wilayah Jawa Timur, tetapi bukan Pulau Jawa. Jika dilihat pada peta, letaknya berada di sebelah utara dan untuk mencapainya harus menyeberangi laut dari Surabaya. Memiliki tiga kabupaten tetangga yang digabungkan dalam satu pulau yang berjuluk Pulau Garam. Lebih tepatnya, aku berasal dari Pamekasan, sebuah kabupaten di pulau Madura.

Sekian lama tidak mengunjungi kampung halamanku, aku benar-benar dibuat pangling. Banyak sekali tempat wisata baru bermunculan. Ternyata keputusanku untuk pulang dan berlibur di kampung halaman direstui oleh keadaan. Syukurlah jika masyarakat mulai gencar untuk mengembangkan potensi-potensi alam yang ada  di daerah.

Untuk memulai petualanganku mencari obat penenang kebosanan, aku memutuskan untuk menikmati matahari terbit di sebuah pantai mangrove tak jauh dari rumahku. Temanku bilang tempat itu sudah dikelola dengan baik, sehingga lebih tertata dan nyaman. Baiklah aku coba untuk membuktikannya, semoga saja bisa bangun lebih pagi. Oh ya, pantai ini bernama Talang Siring. Tapi memang sebaik-baiknya manusia mengatur rencana, tak semua akan menjadi realita. Pagi hari cuaca mendung, niatan awal untuk menikmati sunrise pupus sudah. Akhirnya, aku dan temanku memutuskan untuk pergi ke sana sore hari saja. Tapi dengan konsekuensi kami hanya bisa menikmati indahnya pantai saja tanpa embel-embel matahari terbenam. Penyebabnya adalah dari pantai ini tak bisa terlihat matahari terbenam. Baiklah, daripada kami harus membatalkan rencana hari ini lebih baik tetap direalisasikan meski tidak sesuai rencana awal.

Pantai Talang Siring terletak 19 km dari kota. Berada tepat di jalur utama Pulau Madura sehingga tidak susah untuk menemukan pantai ini. Bagi siapapun yang hendak menuju ujung timur Pulau Madura, pasti akan bisa melihat keindahan pantai ini saat melewati Pamekasan. Untuk memasuki pantai ini, hanya perlu membayar tiket 3.000 rupiah. Karena saat itu kami mengendarai motor, kami perlu menambah 1.000 rupiah untuk ongkos parkir. Sangat murah bukan? Hanya dengan 4.000 saja keindahan pantai Talang Siring yang ditumbuhi banyak pohon mangrove sudah bisa didapat.  Akses untuk ke tempat ini juga terbilang sangat mudah. Saat itu, aku dibuat teramat takjub. Terakhir kali aku mengunjungi pantai ini saat liburan semester lalu, terdapat sebuah rumah makan panggung yang baru dibangun di atas pantai.  Sekarang, rumah makan itu sudah semakin besar dan terdapat sebuah Menara Eiffel tiruan yang terbuat dari kayu berdiri apik di tengahnya. Tempat yang sangat cocok bagi para pemburu foto. Tidak hanya itu, jembatan warna-warni juga sudah dibangun di sepanjang hutan mangrove yang tumbuh di tepi pantai. Sehingga, lebih memudahkan para wisatawan untuk berkeliling menikmati keindahan hutan tersebut. Benar-benar pantai yang instagramable sekali.

Bagaimana dengan segerombolan makhluk Tuhan yang doyan makan? Jangan risau, di sepanjang bibir pantai berdiri banyak sekali warung yang menyediakan aneka ragam makanan khas Madura dengan harga yang sangat terjangkau. Jadi bagi kalian para pecinta makanan, tempat ini recommended sekali untuk dimasukkan dalam daftar wisata kalian selanjutnya. Sembari memanjakan indra pengecap kalian dengan keunikan rasa dari Madura, kalian akan ditemani semilir angin dan deburan ombak yang mampu menciptakan alunan alam yang tentunya menenangkan. Sungguh, kenikmatan yang hakiki.

“Bu’, rhojhâgghâ duwâ’ ghi.” (Buk, rujaknya dua ya.) Karena lapar, aku dan temanku memutuskan untuk membeli 2 porsi rujak yang sangat fenomenal di kalangan para pengunjung pantai. Nama tempatnya adalah Warung Pojok, karena memang warung tersebut berada tepat di pojokan warung-warung yang lain. Satu porsi rujak ini dihargai 10.000 rupiah, harga yang mampu membayar tuntas tagihan cacing-cacing  perut yang sudah berdemo minta dipuaskan. Setelah sekian lama aku merindukan makanan ini, akhirnya semua terbayarkan.

Tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk menyenangkan diri mencari tepat berlibur. Cukup pulang ke kampung halaman, sebenarnya banyak sekali tempat tersembunyi yang bisa dieksplorasi dan dinikmati keindahannya. Berlibur tidak selalu harus mengeluarkan banyak uang.

 

Penulis : Ummi Wahyuni

Editor : Bernadetha Putrinda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *