Kado Lebaran Mahasiswa Semester 7 wanna be ?

“…jadi balik Jember h+ berapa nih?”

gimana dong, bapakku sudah tanya skripsiku”

“h-2 lebaran banget nih? Tapi masih digantung sama Dosen pembimbing Skripsi. Wkwk…”

Demikian beberapa obrolan yang tengah ramai dalam grup whatsapp mahasiswa THP semester 7 wanna be (re: mahasiswa yang telah habis masa semester 6, menyambut semester 7). Bagaimana tidak ramai diperbincangkan, bila para mahasiswa ini hendak mudik lebaran untuk sejenak meliburkan jiwa, raga dan hati tapi malah dibebankan dengan ketidakjelasan perkuliahan. Bahkan tugas kuliahpun masih dibebankan dengan deadline pengumpulannya sekitar seminggu setelah hari raya.

Ini mungkin tak terlalu berarti, bila dibandingkan dengan beban semester 7 yang membayangi liburan singkat mahasiswa ini. Semester 7 merupakan salah satu semester yang dipercaya akan meningkatkan hormon adrenalin mahasiswa, memuncak hingga beresiko meningkatkan kemungkinan stress sampai menyebabkan stroke. Pada semester inilah, mahasiswa akan disibukkan dengan kegiatan skripsi, KKN, bahkan kegiatan magang di perusahaan.

Dan benar sekali, skripsi menjadi topic paling hangat dibicarakan oleh seantero jagat mahasiswa semester 7 wanna be. Jelas saja karena skripsi menjadi titik balik dari segala hal yang dikorbankan -titip absen, bolos kuliah, tidur dalam kelas mahasiswa sejak semester satu. Demikian adanya hingga skripsi menjadi sesuatu yang realitanya ditakutkan tapi masih tak mampu mengalahkan rasa gengsi mahasiswa hingga coba dianggap biasa saja oleh mereka. Ketakutan ini menjadi semakin kacau setelah beberapa dari mereka mendengarkan legenda “Skripsi dan korban lama untuk lulusnya” dari beberapa mahasiswa angkatan tua yang dikenal setia pada kampus. Kisah mereka seakan membuat para mahasiswa yang masih bau bawang perihal skripsi ini menjadi berfikiran bahwa skripsi itu sulit. Nyatanya memang tak sulit, tapi ribet.

Sesungguhnya sejak semester 6 pihak kampus telah memberikan fasilitas dengan pengadaan mata kuliah Metodologi dan Komunikasi Ilmiah (MKI) pada mahasiswa untuk memudahkan proses pengerjaan skripsi di semester 7 hingga  setelahnya nanti. Namun apakah tujuan untuk memudahkan telah benar-benar tercapai?. Mari saya ceritakan sebuah fakta lalu coba bantu saya menjawab pertanyaan tadi. Selama kelas MKI, mahasiswa diminta mencari topik untuk judul skripsi lalu membuat bab 1,2,3 hingga tersusunlah proposal penelitian. Selama proses penyusunan tersebut, setiap bagian proposal milik mahasiswa akan dibedah tuntas oleh beberapa dosen pengampu mata kuliah MKI –bahkan hingga penempatan tanda titik, dan koma. Setiap dosen pengampu memiliki keunggulan masing-masing, termasuk untuk urusan skripsi mereka akan menjunjung tinggi opininya masing-masing. Yang membuat sedih mahasiswa adalah saat para dosen tetap keukeuh dengan opininya hingga tak sedikit mahasiswa yang berulang kali melakukan revisi pada proposalnya hanya untuk menuruti keinginan dosen pengampu –ganti dosen, ganti judul skripsi. Dampaknya, mahasiswa yang berharap banyak setelah perkuliahan MKI akan punya satu judul pasti untuk skripsi, tapi malah punya dua hingga tiga judul skripsi tapi belum ada yang pasti.

Nyatanya, cerita kesedihan ini masih berlanjut saja. Setelah beberapa minggu waktu perkuliahan, muncul edaran dari pihak jurusan untuk mahasiswa semester 6 dimana dalam edaran tersebut mahasiswa diminta menuliskan judul skripsi disertai tanda tangan dosen pembimbing skripsi sebagai bukti persetujuan dosen untuk menjadi dosen pembimbing. Setelah itu edaran yang tak lagi kosong harus dikumpulkan kembali pada pihak jurusan dalam waktu sekitar seminggu setelah penyebaran. Katanya sih katanya, edaran ini bertujuan untuk proses penentuan pasti dosen pembimbing skripsi. Sehingga, semakin cepat pengumpulan kembali edaran, makin cepat kepastian dosen pembimbing skripsi pun pengerjaan skripsi dapat dipercepat.

“Ya Tuhan, apalagi ini?. Materi MKI saja masih ada yang belum paham. Judul skripsi saja masih belum jelas. Ini malah disuruh cari dosen pembimbingnya”

Seminggu setelah pengumpulan kembali edaran, tak ada tanda-tanda info mengenai dosen pembimbing dari pihak jurusan. Dua minggu kemudian…. tiga minggu kemudian…. hingga hari ini perkuliahan telah usai dan semua orang bersuka cita menyambut hari raya idul fitri, mahasiswa masih belum mendapat kepastian mengenai dosen pembimbing. Tak ada yang tahu pasti apa penyebab pihak jurusan terkesan memberi harapan palsu mahasiswanya seperti ini. Sepertinya embel-embel “makin cepat pengumpulan kembali edaran, makin cepat  pula kepastian dosen pembimbing skripsi” hanya omong kosong belaka. Kalau pacar saya bilang sih, “yawes ojo gelem disalahne yen skripsimu marine suwi. La piye lawong kampusmu ya suwi pisan ngewehi kepastian dosen pembimbing” (ya sudah, jangan mau disalahkan kalau nanti skripsimu lama. Kan kampusmu juga lama beri kamu kepastian dosen pembimbing). Eits bentar, ini pacar saya yang mana kok pakai bahasa kulonan.

Tak cukup itu saja, teknis kegiatan magang di perusahaan juga diperbarui sehingga berdampak buruk bagi mahasiswa semester 7 wanna be. Beberapa pekan lalu, mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan pembekalan magang sebagai salah satu persyaratan perijinan kegiatan Magang. Dalam kegiatan tersebut, dosen pemateri menyampaikan bahwa teknis kegiatan magang ada yang berubah -ialah penentuan dosen pembimbing. Jika periode yang lalu mahasiswa bebas memilih teman untuk kelompok magang, periode selanjutnya ini kelompok magang mahasiswa harus berdasarkan kelompok Dosen Pembimbing Akademis (DPA). Sehingga pihak jurusan (lagi-lagi) menjanjikan penentuan dosen pembimbing untuk kegiatan Magang. Teknis terbaru ini menjadi sedikit pro-banyak kontranya ditengah kalangan mahasiswa. Penentuan kelompok magang berdasarkan kelompok se-DPA menjadi kekhawatiran tersendiri karena berkaitan dengan kenyamanan selama kegiatan magang. Kegiatan magang akan berlangsung sekitar 45 hari dimana kekompakan dan kenyamanan dalam kelompok menjadi faktor utama untuk kesuksesan kegiatan magang. Permasalahan tak jua berakhir. Sepertinya memang mahasiswa perlu punya hati yang kuat untuk siap di-PHP (lagi) oleh pihak jurusan. Janji penentuan dosen pembimbing untuk magang lagi-lagi hanya omong kosong belaka. Dampaknya pada mahasiswa yang sudah menentukan kelompok dan perusahaan untuk dijadikan lokasi magang. Paling buruk adalah mereka yang sudah mengirim surat permohonan ijin magang dan mendapat persetujuan dari perusahaan. Alih-alih bergembira karena mendapat persetujuan, mahasiswa malah dibuat was-was khawatir akan perubahan kelompok magang.

Bagai sudah jatuh dari motor tapi juga tertabrak mobil, mahasiswa harus rela-tak rela mendapat ketidakpastian secara berurutan seperti ini. Ketidakpastian dosen pembimbing skripsi hingga saat ini harusnya mampu menjadi evaluasi bagi pihak jurusan untuk perihal lain. Bukannya segera memberi kepastian perihal dosen pembingbing skripsi, kini malah bikin janji lagi untuk penentuan dosen pembimbing magang. Sekali lagi, ya jelas dampaknya paling dirasakan oleh mahasiswa. Mahasiswa berharap pulang kerumah untuk merayakan hari raya dengan pikiran tenang, namun realitanya pulang kerumah dengan beban pikiran. Realita ini makin berat bila calon mertua juga mulai bertanya, “Wes nggarap skrispi nduk?” (Sudah ngerjakan skripsi nak?).

Satu tanggapan untuk “Kado Lebaran Mahasiswa Semester 7 wanna be ?

  • 26 Juli 2018 pada 1:01 am
    Permalink

    Bagus nih punya skill curhat tingkat dewa tapi sayang bukti atau contoh kasus yang konkrit terlalu sedikit

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *