Diskusi Pendidikan Alternatif Sebagai Pengawalan Isu Kota

  • 2
    Shares

Jember, Manifest – Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) kota Jember mengadakan acara diskusi bertema “Menilik Pendidikan Alternatif di Jember” di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember pada Selasa (24/04). Acara ini diadakan sebagai bentuk kepedulian terhadap tingkat buta aksara yang masih tinggi di Kota Jember . PPMI Kota Jember turut mengundang Sokola Kaki Gunung dan Sekolah Perempuan yang terjun langsung dalam praktek sosial pendidikan alternatif di Kota Jember sebagai pemantik diskusi.

Menanggapi tema diskusi, Fathur Rohman salah satu relawan Sekolah Perempuan mengatakan bahwa sampai dimanapun pendidikan akan menjadi aset bangsa. Mall dan pusat perbelanjaan semakin bertambah di Jember, namun disisi lain tingkat buta aksaranya yang tinggi membuat kesenjangannya sangat merosot. “Ini yang akan menjadi pondasi utama bagaimana pendidikan, bagaimana kedewasaan masyarakat, ini kan bermuara pada pendidikan itu sendiri,” Tambahnya.

Sedangkan, Ahmad Firman Jauhari atau akrab disapa Kernet salah satu relawan di Sokola Kaki Gunung berpendapat bahwa tema diskusi yang diangkat menarik. Ia menjelaskan bahwa masyarakat biasanya hanya terpaku dengan sistem pendidikan formal yang ada. “Pendidikan alternatif juga bisa membantu seperti les, sekolah perempuan,” Ujarnya.

Lebih lanjut Kernet mengungkapkan harapannya terhadap pendidikan alternatif agar ada banyak orang yang sadar tentang permasalahan kesenjangan pendidikan. “Keinginan saya supaya jangan ada lagi kesadaran yang berujung dengan pertanyaan, ‘Harus bagaimana lagi?’. Tetapi teman-teman berani mengambil tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah tersebut”. “Orang akan memiliki kesadaran itu secara bertahap, tidak bisa langsung,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa orang-orang yang sudah berusaha membuat solusi alternatif supaya tetap kembali lagi pada spiritnya. “Jangan sampai semangatnya habis di tengah jalan,” Ungkapnya.

Rahayu Ningtias yang merupakan salah satu peserta diskusi menganggap acara ini bagus dan sangat bermanfaat. “Ada begitu banyak masyarakat yang sadar namun kekurangan informasi sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Dengan acara seperti ini, kita jadi punya pandangan. Sehingga kalau kita mau berbuat sesuatu di lingkungan kita, kita tahu apa yang bisa kita lakukan kepada lingkungan kita sendiri,” Jelasnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *