Menyebarkan Kebaikan Lebih Sulit Daripada Mendeklarasikan Kejahatan

Sebuah kisah kecil dari darah yang dianggap noda, Jemaat Ahmadiyah. Saya ingin berbagi kisah tentang keberadaan lain yang sering diabaikan kepentingannya. Dipandang sebelah mata hanya karena berbeda. Mari melihat dari sisi moralitas sebagai sesama manusia, apakah kepentingan mereka buruk atau malah sebaliknya. Agar kita bisa menjadi manusia yang seharusnya. Manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Semilir angin menjelang siang itu menemani perjalanan para peserta Workshop Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) di bumi Pasundan, Bandung, Jawa Barat. Angkot-angkot kota membawa saya dan teman-teman untuk melihat salah satu sudut pandang lain yang ada di kota Paris van Java. Sekitar lima belas menit perjalanan kami tempuh dengan canda dan tawa. Sampailah kami di sebuah bangunan putih yang berdiri kokoh dengan posisi saling berhimpitan dengan rumah-rumah di sekitarnya.

Saya turun dari angkot dan mendapati sebuah tulisan, “Masjid An-Nashir” bak salam penyambutan. Masjid ini terletak di Bandung Kulon, Jawa Barat. Sekilas, dari depan semua tampak sama seperti Masjid yang lain. Kenyataannya bahwa tidak satu pun dengan mudah dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya karena selimut kabut tebal bak penjaga yang berusaha melindungi identitas mereka. Mereka adalah pengikut aliran Ahmadiyah. Salah satu aliran ajaran Islam yang dikatakan ajaran sesat.

Ini adalah kali pertama saya menemui jemaat Ahmadiyah dan membuat antusiasme saya sangat tinggi. Bersama rasa penasaran, saya bersama rombongan memasuki Masjid dengan disambut orang-oranag didalamnya. Salah seorang dari mereka menuntun kami ke lantai dua. Rupanya itu adalah ruangan yang mereka gunakan untuk menunaikan sholat. Kain tipis panjang menjadi pemisah antara perempuan dengan laki-laki. Saya duduk bersama teman-teman Workshop Sejuk dan beberapa perempuan Ahmadiyah yang saat itu datang. Selama di ruangan salah seorang mubarok memperkenalkan bagaimana Ahmadiyah tersebar di seluruh dunia.

Ahmadiyah dibagi menjadi 3 tingkatan menurut usia. Kaum Ibu, Ansor, dan kaum Muda. Salah satunya adalah Rifta yang merupakan kaum Ibu atau LI (Lajna Imaillah) dengan batasan umur di atas 18 tahun. Saya mendapat kesempatan untuk berbincang dengan jemaat Ahmadiyah keturunan yang berprofesi sebagai guru swasta ini.

Pengenalan tentang Ahmadiyah kepada jemaatnya telah dilakukan sejak dini. Ahmadiyah memiliki yayasan sekolah yang terdapat di Taksimalaya. Selain itu, terdapat Madrasah yang memperkenalkan Ahmadiyah kepada jemaatnya melalui kelas rutin yaitu setiap minggu. Kebetulan pula Rifta mengajar Bahasa Inggris di sana.

Kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan oleh perempuan Ahmadiyah terfokus pada kemanusiaan dan sosial. Rifta pun menjelaskan salah satu kegiatan sosial yang rutin diadakan oleh Ahmadiyah adalah kegiatan donor mata. Program donor mata ini disasarkan oleh para jemaat Ahmadiyah yang sudah meninggal namun tidak bersifat wajib. Ahmadiyah bekerja sama dengan rumah sakit setempat dalam hal pendistribusiannya. Salah satunya rumah sakit yang terletak di Yogyakarta. Sebuah fakta unik baru saya ketahui ialah para pendonor akan memiliki pemakaman khusus dengan tulisan “Pendonor Mata” di batu nisan mereka. Kegiatan donor mata ini awalnya hanya dikhususkan untuk kalangan Ahmadiyah sendiri, namun saat ini mulai dibuka untuk umum. Meski begitu nampaknya mereka tetap tidak mencantumkan nama Ahmadiyah secara terang-terangan di kegiatan tersebut. Hanya sebuah logo Ahmadiyah. Sehingga kebanyakan peserta donor mata belum tentu sadar bahwa kegiatan tersebut diadakan oleh Ahmadiyah.

Ahmadiyah juga bergabung dengan Aliansi Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB). Keduanya melakukan berbagai kegiatan seperti kunjungan ke berbagai tempat ibadah, kegiatan kemanusiaan dan hubungan kemasyarakatan. Rifta mengaku bahwa toleransi antar umat beragama di sekitar Masjid yang kebetulan dekat dengan Gereja dan Klenteng itu cukup baik. Terbukti dengan partisipasi aktif warga Tionghoa sebagai penduduk mayoritas di sana dalam berbagai kegiatan sosial Ahmadiyah seperti donor darah dan posyandu. Begitu pula Gereja dan Klenteng yang secara terbuka menerima kehadiran Ahmadiyah untuk melakukan kunjungan ke rumah peribadatan mereka.

Di lingkungan kerjanya, Rifta mengaku tidak boleh sembarangan berbicara mengenai jati dirinya sebagai Ahmadiyah. Bukan semata-mata untuk menutupi indentitasnya sebagai Ahmadiyah, namun karena kondisi saat ini sedang banyak ujian dan kebencian dimana-mana. Namun memang nyatanya respon orang-orang di lingkungan kerja Rifta bermacam-macam. “Tidak apa-apa selama Ahmadiyah tidak disebarkan ke anak-anak,” begitu respon yang diungkapkan Kepala Sekolah di tempat Rifta mengajar. Rekan-rekan kerjanya juga menerima kehadiran Rifta sebagai jemaat Ahmadiyah termasuk menerima salah satu perbedaan ajarannya dimana jemaat perempuan Ahmadiyah juga mengikuti ibadah salat jum’at.

Sebuah isu menyebutkan bahwa Ahmadiyah tidak boleh disatukan dengan Islam. Namun di Departemen Negeri, Ahmadiyah sudah disahkan, hanya saja dalam kegiatannya tidak boleh terlalu mencolok karena harus meminta ijin ke pihak terkait. Dilansir dari kemenag.go.id, SKB tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat ini mengatur enam point pokok. 2 hal penting yang perlu digarisbawahi terkait batas-batas Ahmadiyah adalah:

  • Pertama, memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
  • Kedua, memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI, sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ada kejadian yang menimpa Ahmadiyah dan dilakukan oleh oknum yang tidak menyukai keberadaan Ahmadiyah dengan menempelkan spanduk bertuliskan, “Tidak boleh ada Ahmadiyah disini”. Tetapi kemudian spanduk itu dicopot oleh pejabat setempat. Kala itu terjadi sebuah penyerangan besar-besaran dengan batu dan kayu oleh beberapa oknum yang membenci Ahmadiyah pada sebuah acara bernama Gasasalan (salah satu acara Ahmadiyah) yang diadakan di Bogor.

Rifta mengaku bahwa memang ada pihak-pihak atau ormas terkait yang membenci Ahmadiyah hingga menjadi provokator ujaran kebencian terhadap mereka. Sementara mereka selalu menolak diajak berunding bersama untuk menjelaskan bagaimana Ahmadiyah itu sebenarnya. “Penyebaran akidah kita tidak mudah. Ketika kita menyebarkan kebaikan lebih sulit daripada mendeklarasikan kejahatan.” Begitu kata Rifta saat mengomentari aksi kebencian yang dilakukan oleh beberapa oknum yang membenci Ahmadiyah.

Mengenai kejadian-kejadian lalu yang telah terjadi ini, Rifta mengakui bahwa ada keinginan mendalam dalam dirinya untuk berbicara sebagai Ahmadiyah bahwa mereka tidak sesat. Namun mereka tetap menyerahkan kepada kebijakan Pemerintah. Menariknya, respon Rifta terkait tindakan intoleran ini lebih memilih mendiamkan.“Kita tidak membalas. Kita tetap perkuat diri kita dengan doa,” tuturnya. Penuturan ini membuat saya teringat akan slogan mereka, “Love for all, Hater for none”  ( Cintailah sesamamu, kasihilah musuhmu ).

Dasar hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia diatur dalam Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945:

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Akan tetapi, hak asasi tersebut bukannya tanpa pembatasan. Pasal 28J ayat (1) UUD 1945  mengatur bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain. Pasal 28J ayat (2) UUD 1945  juga mengatur bahwa pelaksanaan hak tersebut wajib tunduk pada pembatasan-pembatasan dalam undang-undang. Jadi, pelaksanaan hak asasi manusia harus tetap patuh pada pembatasan-pembatasan yang diatur dalam undang-undang. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *