Jurnalis LPM Suaka Bandung Dipukuli Saat Peliputan

JEMBER, Manifest – Seperti dikutip dalam surat terbuka Pehimpunan pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) kepada Kapolri, Muhammad Iqbal sebagai jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung mengalami tindak kekerasan oleh aparat kepolisian. Kejadian ini terjadi dalam peliputan aksi penolakan pembangunan Rumah Deret di gerbang Kantor Walikota Bandung pada Kamis (12/4/2018). Ia mengaku mendapatkan dua pukulan di pipi bagian atas saat mencoba melerai oknum kepolisian yang memukuli massa aksi.

Iqbal menuturkan dirinya diintimidasi dengan cara digeledah tasnya dan penyitaan kartu pers oleh oknum kepolisian. Iqbal mengaku oknum kepolisian tersebut meminta penghapusan foto yang telah dia ambil sewaktu kericuhan terjadi dalam demo tersebut agar kartu persnya dikembalikan. “Woy, apaan kamu moto-moto sembarangan!” Tutur Iqbal menirukan polisi yang meriakinya setelah mendapat delapan jepretan seperti yang dimuat dalam lpmarena.com.

Imam Abu Hanifah selaku koordinator Biro Advokasi Badan Pekerja Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (BP NAS PPMI) mengecam tindakan kepolisian yg selama ini tidak mengedepankan perilaku persuasif atau dialogis ketika menghadapi massa. Ia juga menyayangkan oknum kepolisian yang melanggar Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 F tentang kebebasan berpendapat di depan umum. “Harusnya UUD dalam konteks menjaga demokrasi di ranah kebebasan masyarakat menyatakan aspirasinya harus jadi rujukan utama.” Ungkapnya saat dihubungi via whatsapp.

Imam mengharapkan harus ada kesadaran bersama soal kebebasan ruang publik. “Insan pers agar tidak gentar saat ada represi dari oknum kepolisian.” Tambahnya.  Imam juga menjelaskan langkah ke dewan pers diwakili teman-teman Aliansi Jurnalis Independen  Bandung (Aji Bandung) dan Lembaga Bantuan Hukum Bandung (LBH Bandung).[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *