Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Judul Buku : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur : Memoar Luka Seorang Muslimah

Penulis : Muhidin M. Dahlan

Penerbit : ScriPtaManent

Tebal Halaman : 269 Halaman; 12×19 cm

Nidah Kirani, sosok utama dalam buku ini dapat menjadi bahan renungan  atau instropeksi bagi pembaca. Melihat perspektif lain ihwal Tuhan, tubuh, dan tabu. Kisah hidupnya terekam jelas pada sebuah karya milik Muhidin M. Dahlan ini. Lika-liku kehidupan yang dekat dengan keseharian kita membuat novel ini bisa dicerna dengan baik.

Dikisahkan ia seorang gadis Yogyakarta yang sederhana, seperti umumnya perempuan lainnya. Hidupnya banyak dihabiskan dengan kesibukan di kampus. Kiran juga dikenal sebagai sosok yang kritis, sering bertanya, dan mau untuk belajar berbagai hal. Di tengah kesibukan menempuh titel sarjana di salah satu perguruan tinggi di Yogya, ia juga menekuni pendalaman ilmu agama di pondoknya. Kiran ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ia pun mengikuti ajakan Rahmi, kawannya untuk ikut pengajian yang sering diikuti.

Saat pengajian dimulai, Kiran sangat terkejut. Tak pernah ia temui sebuah forum keagamaan yang menusuk jiwanya begitu dalam. Di balik tirai yang memisahkan jamaah laki-laki dan perempuan, suara ikhwan yang sedang berkhotbah kala itu membuat takzim Kiran. Uraian ayat demi ayat dijelaskan begitu rinci dan mantap. Tak disangka, pengajian itu membuat hidup Kiran berubah. Setelah itu, ia aktif dalam membuat forum diskusi yang membahas soal keislaman dan ibadahnya.

Suatu hari di perpustakaan ia bertemu dengan Dahiri, salah seorang teman kelas Kiran yang juga aktif dalam forum diskusi. Ia mengenal Dahiri sebagai seorang mahasiswa yang aktif memberikan argumentasi saat forum, disertai banyak referensi yang ia sadur. Kiran tak menyangka pertemuannya dengan Dahiri waktu itu akan mengubah jalan hidupnya. Kala itu Dahiri menyodorkan sebuah pertanyaan yang menohok relung hati dan fikirnya. “Punyakah kamu pemimpin yang bertanggung jawab atas dirimu baik di dunia maupun akhirat?” Ditanya seperti itu membuat Kiran hanya mengerut. Diskusi demi diskusi tentang Negara Isam membuat Kiran tertarik hingga memutuskan untuk ikut berjihad menegakkan syariat di Indonesia.

Jalan dakwah menjadi hidup baru seorang Nidah Kirani. Ia sekarang menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Dengan semakin derasnya diskusi serta banyak membaca buku perjuangan Daulah Islamiyah, membuat Kiran menjadi pribadi yang dominan di setiap forum yang ia ikuti. Kiran ingin lebih banyak mengajak orang untuk ikut memperjuangkan “negara yang sebenar-benarnya negara”.

Namun nampaknya lingkungan tempat ia menjalankan dakwah tak mampu menerima apa yang Kiran ajarkan. Banyak dari kawan-kawannya malah menjauh darinya. Kiran juga diusir oleh masyarakat kampungnya saat berusaha mengajarkan paham yang ia bawa. Selain itu, ia menganggap ikhwan serta akhwat yang tergabung dalam pos perjuangan itu tak sungguh-sungguh dalam menjalankan “misi mulia” tersebut. Bahkan berusaha menutup-nutupi rahasia organisasi. Maka ia putuskan untuk meninggalkan lembaga jihad itu.

Lantas terbesit keinginannya untuk pergi saja dari pos. Ia tak tahan dengan berbagai kekangan yang menjerat jiwa dan fikirannya. Bersama Winda, Lilis, dan Meli akhirnya mereka benar-benar keluar dari pos perjuangan. Meskipun sempat dipergoki oleh salah seorang akhwat senior, tetapi usaha mereka tak terbendung lagi. Hidup Kiran saat itu berubah. Ia tak percaya lagi dengan sabda-sabda “Maha Pencipta”. Ia merasa tak dianggap lagi, walaupun tetap istiqomah menjalankan ritus sesuai keinginan-Nya. “Suara Penolong” tak lagi mendengar jerit tangis hatinya.

Setelah mendapati dirinya telah dikhianati, muncul sebuah pemikiran yang bertolak belakang dengan keimanannya. Ia ingin sekali-kali mendengarkan bisikan “Musuh Tuhan”. Ia ingin ada keseimbangan informasi setelah pengalaman hidup yang pelik terlewati. Nidah Kirani, seorang muslimah garis keras itu sekarang menjadi layaknya anak jalanan. Hari-harinya ia habiskan bersama anak-anak jalanan di kawasan Malioboro. Ia begitu menikmati masa-masanya saat itu. Suara panggilan dari Masjid tak mampu mendorongnya untuk kembali melakukan ritus ibadah. Waktu edar Kiran lambat laun berubah seperti kelelawar. Ia hanya aktif di malam hari.

Dengan lingkungan yang ia tempati saat ini, mau tidak mau membuat Kiran mulai mengenal kehidupan malam. Ia pun terserat dalam lingkaran setan itu. Tubuhnya menghendaki hal tersebut. Maka semakin jadilah Kiran jauh dari “kebaikan”. Ia berubah menjadi pecandu rokok dan narkoba. Selain itu, ia juga melampiaskan rasa kecewanya dengan banyak melakukan seks dengan berbagai pria.

Badai seks yang melanda hidupnya membuat kekosongan dan absurditas yang semakin hari semakin memuakkan baginya. Seks dan narkoba menjadi pelariannya selama melewati masa suram itu. Akhrinya kabar buruk pun hinggap. Ia dihubungi ibunya yang tengah di Jakarta untuk segera menyusulnya. Didapatinya kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Tak ada kata yang bisa Ia menyumpahi Tuhan  menggambarkan perasaannya waktu itu. Bahkan ia sempat mencoba untuk bunuh diri dengan meneguk puluhan pil di kamar kosnya.

Bab hidup selanjutnya adalah keinginan seorang Kiran untuk menyelesaikan masa studinya di kampus. Ia tak ingin gagal menuntaskan apa yang ia mulai. Ia mulai mengerjakan skripsinya yang mulai keteteran. Pratomo Adhiprasodjo menjadi dosen pembimbingnya. Pada saat bimbingan, Kiran menggunakan jurus-jurus “nakal” berharap Pak Tomo segera meluluskannya. Dan trik itu berhasil, meskipun nantinya terlebih dahulu ia harus melayani birahi sang dosen.

Di tengah percakapan yang hangat itu, terbesit keinginan dari Kiran untuk menjadi pelacur. Pak Tomo meresponnya dengan sigap. Ia bisa menjadi germo (perantara) Kiran. Apalagi Pak Tomo juga bercerita banyak wakil rakyat bila ditugaskan diluar kota, memakai jasa wanita panggilan itu. Kiran tambah bersemangat mendengar jawaban itu. Namun ia juga merasa heran. Pak Tomo adalah seorang dosen yang memiliki jabatan tinggi di kampusnya. Ia juga masih terdaftar aktif sebagai anggota DPRD dari partai yang mengkampanyekan tegaknya syariat Islam di Indonesia. Semakin tertawalah Kiran melihat kenyataan itu. Cita-citanya kini hanya satu, ingin melucuti segala kemunafikan dari orang-orang yang dianggap suci dan berpengaruh di dunia. Ia ingin membongkar kebusukan wakil Tuhan di dunia yang fana. Dan semenjak itulah, Nidah Kirani dengan penuh keyakinan memohon izin kepada Tuhan untuk menjadi seorang pelacur.

Melalui alur yang padat, buku ini menjadi sebuah pertunjukan realita sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita. Pesan yang ingin disampaikan penulis begitu mengena karena memang dekat dengan keseharian kita. Namun hal yang perlu dikritisi dari buku ini yakni pengambilan data yang kurang jelas. Meskipun penulis telah jujur berkata kisah dalam bukunya ini milik seorang kawannya. Tetapi dengan berbagai alasan, nama-nama disamarkan untuk menjaga rahasia dari narasumber utama. Sehingga membuat pembaca berspekulasi tentang isi bukunya yang kontroversi membahas soal isu agama dan seks.

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *