Rindu Pemuda Yang Menghayati Sumpahnya

Di tengah kurumunan orang yang berdatangan ke makamnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merasa jenuh. Tak henti-henti masyarakat dari pelosok negeri hingga mancanegara  bergantian memanjatkan doa di depan pusaranya. Malaikat Munkar dan Nakir yang menunggu di depan gerbang utama makam sampai bosan menunggu kapan Gus Dur ditanya amalnya selama hidup.

Lalu lalang kendaraan bermotor yang melintasi kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Tebu Ireng Jombang sedikit menghibur Gus Dur. Pandangannya lantas tertuju pada sebuah warung kopi (warkop) milik Pak Faiz. Ia kemudian mampir untuk sekedar melihat santri-santri bercengkrama di sore hari. Menikmati senja melepas penat padatnya peziarah.

Suasana Warkop Pak Faiz Sore itu terlihat ramai. Kepulan asap rokok menggumpal di sudut-sudut warung. Terlihat dua sosok santri sedang asyik beradu argumen satu sama lain. Keduanya bernama Joko dan Arif yang telah tiga tahun “nyantri” di Tebu Ireng.

Melihat keduanya tak henti-henti mendebat membuat Gus Dur penasaran. Perlahan-lahan ia mendekat ke meja mereka. Menyimak hal apa yang sebenarnya dibicarakan.

“Sudah gila mereka (mahasiswa) sekarang. Kita ini Negara Pancasila. Bukan Khilafah Islamiyah!” Ungkap Joko dengan nada tinggi. Ia kesal membaca berita tentang deklarasi negara Khilafah Islamiyah pada Simposium Nasional Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus. Acara yang diadakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 25-27 Maret 2016. “Meskipun berita itu sudah lawas dan telah terklarifikasi pihak IPB, tetap saja isu itu masih dihembuskan mayoritas masyarakat pro Khilafah Islamiyah sampai saat ini.” Tambah Joko.

“Tunggu dulu Jok, kita harus objektif dalam menyikapi kondisi ini.” Santai jawaban Arif menanggapi statement sahabat karibnya itu. “Hah? Maksud kamu kita harus menerima deklarasi mereka? Apa jangan-jangan kamu mendukung negara Khilafah Islamiyah di negara kita?” Tukas Joko.

“Bukan begitu Jok, maksudku itu kita harus tahu sebab-musababnya terlebih dahulu mengapa para mahasiswa itu kok kayak gitu. Jangan asal judge.” Ungkap Arif. Ia lantas menjelaskan hal wajar ketika seorang muslim ingin menegakkan syariat islam dalam menjalani hidupnya. “Lha kowe iki wong Islam, opo yo urip gawe cara wong Hindu Bali? (Kamu ini orang Islam, apa ya menggunakan cara hidup Orang Hindu Bali?” Tegasnya kepada Joko.

“Tapi ini masalahnya mereka mau mengganti sistem pemerintahan dengan Syariat Islam. Piye jal? (gimana terus?)”. “Sakjane aku iki ngempet ngguyu mahasiswa saiki yo sek nduwe pikiran ngunu Jok (Sebenarnya aku ini menahan tawa mahasiswa sekarang masih punya pemikiran seperti itu Jok).” Jawab Arif sambil menyeruput kopi hitam.

Loh, piye maksudmu iku? Kok yo bingung aku iki (Gimana maksudmu itu? Aku bingung ini).” “Begini Jok. Aku sepakat denganmu bahwa dasar negara kita tetap Pancasila.” Arif juga menceritakan kisah klasik saat Gus Dur berdiskusi dengan KH. Tolchah Mansur. Menurut Gus Dur dalam diskusi tersebut, Pancasila telah merefleksikan prinsip-prinsip negara. Pancasila juga dipandang telah mencakup seluruh nilai-nilai yang dikandung oleh Islam. “Negara Islam tidak diperlukan lagi di tengah keberagaman masyarakat kita Jok!” Ungkap Arif.

Mendengar pernyataan Arif yang mencatut namanya, Gus Dur hanya tersenyum. Dalam benak ia malah ingin mengucapkan sesuatu kepada mereka berdua. “Membahas dasar negara saja kok repot! Nasib petani yang diusir dari sawahnya saja banyak yang belum ter-advokasi. Tak ada bahan pangan negara-mu bakal buyar Jok, Rif.”

Sejenak Gus Dur terniang dengan sosok Soekarno dan Tan Malaka. Dua pemuda di masanya yang sangat progresif revolusioner menegakkan “negara untuk semua”. Pemuda-pemuda yang menjadi Founding Father bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gus Dur akhirnya memutuskan melancong ke Kota Blitar untuk menemui Soekarno. Tak lupa ia juga menjemput Tan Malaka di Kediri. Ia ingin bercerita tentang pemuda-pemuda saat ini yang tak semilitan dulu lagi. Seperti apa yang dibicarakan oleh Joko dan Arif.

Sesampainya di Rumah Peristirahatan Bung Karno, Gus Dur dan Tan Malaka disambut dengan hangat oleh Presiden Pertama Republik Indonesia itu. Tak lupa Fatmawati menyuguhi mereka berdua kopi dan gorengan sebagai pelengkap diskusi senja tokoh-tokoh besar negeri ini.

Piye-piye Gus? Wonten nopo nggeh tumben mampir ke Blitar, bersama Tan pula. (Gimana Gus? Ada apa tidak seperti biasa mampir ke Blitar, bersama Tan pula.)” Tanya Bung Karno kepada Gus Dur.

“Oh tidak ada apa-apa Bung. Saya kangen ngobrol anda dan Tan.” Ujar Gus Dur sambil menyeruput kopi hitam pahit buatan Fatmawati. “Menurut dugaan awal saya, ada hal serius yang Gus Dur ingin bicarakan kepada kita berdua.” Ungkap Tan Malaka masuk dalam obrolan hangat itu. “Bisa saja engkau Tan. Sifat kritis-mu tak perlu ku ragukan lagi.” Jawab Gus Dur sambil tertawa menjawab statement Tan Malaka.

Gus Dur lantas menceritakan apa yang ia dengar dari percakapan Joko dan Arif. Ia memaparkan pembahasan kedua santri Tebu Ireng itu tentang pemuda saat ini yang terombang-ambing pemikirannya. Ia mengkomparasikan pemuda zaman Bung Karno dan Tan dengan pemuda saat ini. “Dulu musuh (penjajah) anda jelas, jadi perjuangan kaula muda saat itu menemukan jalannya. Sedangkan saat ini, “zona nyaman” jadi momok pemuda membangun negeri.” Seloroh Gus Dur mengutarakan pendapatnya.

Tan Malaka tersentak mendengar pernyataan Gus Dur. Pria yang terkenal dengan kritikan pedasnya ini mulai merangkai kata-kata. “Pemuda-pemudi yang membuang masa mudanya dengan hal tidak berguna bisa kita katakan sebagai pengkhianat negara!” Tegas Tan Malaka dengan nada tinggi.

Selayaknya sebagai seorang agen perubahan, pemuda (mahasiswa) menurut Tan harus mampu membaca realita sosial. Hal ini penting menurutnya agar inovasi dan kreativitas dapat membuat kemajuan bagi bangsa. “Bila yang dikatakan Gus Dur itu benar, omong kosong Indonesia merdeka seratus persen!” Tambahnya.

Obrolan terus mengalir diantara Gus Dur dengan Tan Malaka. Mereka berdua sama-sama memberikan argumen tentang kondisi pemuda saat ini yang tak cakap menganalisa permasalahan sosial. Pemuda saat ini, menurut mereka berdua terjebak dalam kungkungan “zona nyaman”. Hal ini mengakibatkan tak adanya pergerakan yang frontal untuk sebuah perubahan Indonesia yang lebih baik.

Zona nyaman yang dimaksudkan yakni suatu kondisi dimana pemuda-pemudi dimudahkan dengan akses teknologi yang sangat pesat, namun tak mampu menganalisis kondisi sekitar. Pemuda-pemudi yang terjerembab dalam zona ini menurut mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal yang tak berguna. Seperti pacaran, dugem, mabuk-mabukan, hingga mengonsumsi narkoba.

Dalam kasus lain, muda-mudi “zona nyaman” memiliki sikap yang apatis cenderung tak peduli dengan permasalahan sekitar. Seolah-olah lingkungan tempat ia tinggal tak ada masalah. Mereka sudah jarang bertanya-tanya tentang kondisi lingkungan, apalagi memiliki sifat kritis sebagai bahan bakar perubahan.

Bila di lihat dalam lingkup sivitas akademika, mahasiswa saat ini menurut Gus Dur dan Tan Malaka telah mengalami pergeseran makna sebagai “agent of change”. Banyak faktor yang menyebabkan mahasiswa tak lagi militan menjadi agen perubahan. Kemajuan teknologi bisa jadi salah satu boomerang yang dapat melunturkan nalar kritis mahasiswa. Produk “instant” ini menjadi momok serius pemuda (mahasiswa) saat ini untuk maju melangkah berkarya bagi bangsa.

Dari obrolan Joko dan Arif, kedua tokoh besar itu menganggap hal tersebut sebagai akibat banjir informasi yang tak terkontrol. “Bagaimana mahasiswa saat ini mudah dikotak-kotakkan dengan agama. Sangat tak keren pemuda zaman sekarang!” Ungkap Tan. Gus Dur hanya tertawa. Sebagai seorang pemuka agama yang disegani pada masanya, ia berkata “mikir agama saja kok repot!”.

Sementara itu, Bung Karno meminum kopi hitam-nya perlahan-lahan. Sembari melihat langit luas yang melindungi tanah airnya. Ia tak sedikit pun berbicara dalam obrolan diantara Gus Dur dan Tan Malaka.

Gus Dur yang merasa Bung Karno sedang kalut fikirannya mencoba memancing. “Kenapa Bung anda hanya diam saja?” Tanya Gus Dur. “Iya ayo Bung berikan pendapatmu tentang kondisi pemuda bangsamu saat ini. Diam bukan jawaban!” Tambah Tan.

Bung Karno sontak berdiri. Ia beranjak dari kursi dan melangkah ke depan teras rumah. Ia ingin mengutarakan isi hatinya, namun tak tahu harus memulainya dari mana.

“Dulu aku pernah bilang bahwa sepuluh pemuda Indonesia dapat mengguncang dunia.” Seokarno kala itu yakin betul kualitas pemuda negaranya mampu membuat Indonesia menjadi bangsa adidaya. Sebuah kutipan dari Bung Karno yang sering menjadi referensi membangkitkan gelora muda-mudi.

Bung Karno tampak gusar. Apakah sebaris kalimat yang ia lontarkan dulu masih relevan dengan keadaan saat ini. Apalagi ia sadar, musuh negaranya di zaman ini memainkan perannya di balik gelanggang pertarungan global.

Gus Dur mencoba menghampiri Bung Karno yang tak lagi menikmati sendunya rasa kopi hitam. Sedangkan Tan Malaka tetap duduk di kursinya sembari menikmati kopi dan rokok kretek. “Ada apa Bung? Sepertinya fikiranmu sedang kalut.” Tanya Gus Dur.

Soekarno berbalik badan. Ia menatap Gus Dur. Matanya tak kuasa menahan air yang telah lama tersimpan seraya berkata, “Aku rindu pemuda yang benar-benar menghayati sumpahnya untuk bangsa seperti dulu, bukan hanya kata-kata yang terlontar dari mulut lalu hilang”.

“Aku rindu mereka yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan bersama. Kemajuan untuk negara.” Semakin deras air matanya mengucur. Bung Karno teringat pesan yang dulu ia titipkan kepada pemuda-pemudi Indonesia. “Perjuanganku terasa lebih mudah karena mengusir penjajah. Namun perjuanganmu (pemuda) akan terasa lebih berat, karena akan melawan bangsa (dirimu) sendiri”.

“Apakah kau sudah merasakan pesan yang aku titipkan nak? Janganlah kau terlena.” Ucapnya dalam kalbu.

Gus Dur hanya tersenyum. Ia memeluk Bung Karno dengan erat. Tan Malaka juga bangun dari kursi nyamannya. Ia menghampiri kedua sahabatnya itu. “Kau tak perlu khawatir Bung. Aku yakin selama masih ada penindasan dan ketidakadilan di negeri ini, bibit-bibit ‘murni perlawanan’ akan terus tumbuh di benak pemuda. Bahagialah mereka yang masih menjaga kewarasan.” Ungkap Tan Malaka sambil memeluk Soekarno dan Gus Dur.

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *