Angkat Isu Lokal, LPMS Ideas Adakan Launching Majalah dan Diskusi

Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS) Ideas mengadakan acara Launching Majalah Ideas Edisi XXI/Agustus 2017. Acara ini berlangsung di Aula Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Jember (FIB UJ) pada Sabtu (19/8). Launching sekaligus diskusi kali ini mengusung tema besar penolakan tambang emas di Tumpang Pitu dengan judul “Ruang Hidup Kami Direnggut”. Acara tersebut turut mengundang komunitas pecinta alam dan para pengiat seni.

Rosy selaku Pimred (Pimpinan Redaksi) Majalah Ideas menuturkan bahwa ide pengangkatan tema kali ini muncul dari keresahan mereka dikarenakan kurangnya porsi keberpihakan media umum terhadap kasus tambang emas tumpang pitu. Ia juga mengatakan jika majalah ini banyak mengupas sisi kehidupan masyarakat tumpang pitu dan perjuangan mereka dalam mempertahankan tanah kelahiran mereka. “Mengupas tentang perjuangan penolakan warga pesanggaran mengenai keberadaan tambang emas ini, mengenai trauma yang mereka alami, dan alasan-alasan mengapa sampai sekarang mereka masih bertahan,” ungkap Rosy.

Rosy menuturkan dalam pembuatan majalah kali ini banyak mengalami kendala, mulai dari dana yang minim, SDM (sumberdaya manusia-red) hingga fasilitas yang tersedia yang berpengaruh pada ketepatan penerbitan majalah. Rosy menuturkan tantangan dalam pemilihan tema ini yaitu karena dalam penulisannya bersinggungan dengan perusahaan kapital yang berkuasa. “Tapi apa arti kehidupan jika hanya dirundung ketakutan belaka, jadi diberanikan aja apapun itu konsekuensinya.” tambah Rosy.

Ulfa Masruroh selaku ketua panitia mengatakan bahwa pihaknya turut mengundang pelaku seni dan komunitas pecinta alam dikarenakan isu yang diangkat merupakan isu tentang alam dan juga terkait konten yang tersedia didalam majalah itu sendiri. ”Mengingat isunya juga kan tentang Tumpang Pitu , tentang alam juga jadi kita mengudang anak-anak pecinta alam, dalam majalah juga ada review tentang Ali Gardi soal keseniaan juga” .

Ulfa juga memaparkan bahwa dalam acara ini tidak semua narasumber yang diundang dapat hadir dikarenakan alasan tertentu. ”Kalau dari Pasanggaran ada Mas Edi dan Mbak Fitri, tapi yang bisa datang Mbak Fitri. Kalau dari pedagang kaki lima ada Pak Hamid yang kebetulan tadi datang, kalau wakil rektor awalnya menyanggupi datang tetapi setelah kita konfirmasi terus menurus ternyata beliau ada urusan ke Batam, sehingga dialihkan kebiro universitas dan ternyata dialihkan lagi ke humas universitas dan setelah dikonfirmasi lagi ternyata humas tidak bisa datang.” Papar Ulfa.

Ahmad Junaidi salah satu peserta diskusi mengaku sangat antusias sebab acara tersebut mengangkat tema isu lokal. Ia juga berharap agar kedepan para peserta dapat lebih aktif agar diskusi terasa lebih hidup.”Lebih aktif lagi audiensnya, jadi supaya ada feedback dari pembaca dan diskusinya lebih hidup.” Tuturnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *