Perpustakaan Jalanan : Sarana Pengembang Budaya Literasi

JEMBER, Manifest – Beberapa pegiat literasi membuka perpustakaan jalanan sebagai sarana pengembang budaya literasi yang dapat diakses masyarakat umum. Mohammad Sadam Husaen selaku kru perpustakaan jalanan mengatakan adanya perpustakaan ini sebagai ajang diskusi bahan bacaan serta sebagai budaya tanding literasi (14/6). “Menimba ilmu nggak harus masuk kelas atau perpustakaan, di pinggir jalan pun kita bisa mengakses ilmu pengetahuan dan wacana,” jelasnya.

Genre buku yang dipamerkan di perpustakaan jalanan menurutnya tidak dibatasi. Karena ia menganggap semua wacana perlu diketahui untuk mengontrol diri sendiri agar tidak gampang terbawa arus. “Memilih bahan bacaan di ditentukan oleh diri sendiri bukan orang lain, karena di kampus bahan bacaan ditentukan oleh dosen dan kampus, jadi ini membatasi pola pikir mahasiswa,” imbuhnya.

Ia mengatakan ide awal perpustakaan jalanan Jember berasal dari semangat kawan perpustakaan jalanan yang telah ada di kota lain seperti Bandung, Karawang, Jogja, Malang, dan Ternate. “Kita mengambil semangat dari teman-teman perpustakaan jalanan di kota lain, karena sekarang bahan bacaan atau wacana aksesnya sangat sulit misalnya harus punya KTM jika di kampus,” jelasnya. Padahal menurut Sadam, literasi atau wacana harus disebarluaskan. “Di Jember ada Nandur Dulur yang setiap minggu pagi buka lapak di alun-alun (Jember, red), sasarannya anak-anak kecil sedangkan perpustakaan jalanan sasarannya semua kalangan dan tidak membatasi pembaca,” paparnya.

Menurutnya, perpustakaan jalanan mulai dibuka sekitar tanggal 11 Juni 2017 setiap pukul 16.00-22.00 di depan Double Way Universitas Jember (UJ). Sadam juga menuturkan perpustakaan jalanan ini akan tetap ada hingga H-5 Hari Raya Idul Fitri. “Karena banyak kawan-kawan yang pulang kampung, untuk membuka perpustakaan jalan setelah liburan akan kami rapatkan lagi,” tambahnya.

Menurut Sadam, untuk tempat perpustakaan jalanan ini tidak menetap dan tergantung kondisi. “Kalau tempat nggak kondusif misalnya pas hujan ya kita pindah ke tempat lain, jadi lebih fleksibel, portabel, terus nanti di infokan lewat media sosial,” jelasnya. Ia menambahkan, buku yang dipamerkan di perpustakaan jalanan merupakan buku milik pribadi dan titipan dari beberapa teman. “Untuk saat ini kita nggak menerima sumbangan buku karena kita belum tau siapa nanti yang bakal melanjutkan,” lanjutnya.

Laili Fauziah selaku pengujung mengatakan cukup terhibur dengan adanya perpustakaan jalanan ini, “Bisa nambah wawasan, terus bisa buat ngisi waktu luang sambil ngabuburit”. Ia juga berharap kedepannya tetap diadakan perpustakaan jalanan untuk menumbuhkan minat baca, “Sarannya lebih diperbanyak referensi agar lebih banyak peminat dan lebih digencarkan publikasi biar banyak yang tahu.” Terangnya.

Desi Wulandari

Seorang perempuan. Belum lulus dari Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ. Masih hidup dan sedang bergelut di biro media LPM Manifest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *