Toleransi, Agama dan Berkeyakinan

Sekitar satu setengah jam perjalanan dari pusat Kota Hujan bersama rombongan peserta workshop Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) beserta para fasilitator yang menemani berhenti di jalanan aspal yang bergelombang dan penuh lubang. Mobil hijau dengan plat nomor kuning yang dinaiki rombongan berhenti tepat di depan sebuah lahan yang tertutup oleh papan seng besar dan tebal dengan lilitan kawat korosi berduri menyelimuti permukaan seng. Di depan lahan yang dikelilingi seng besar tersebut terdapat warung makan dan permukiman warga di sebelah selatan lahan dengan jalan tidak seutuhnya aspal dengan kondisi jalanan yang naik turun.

Beberapa menit setelah mobil berhenti dari kaca mobil saya melihat ada dua anak kecil berpakaian layaknya seragam olahraga dengan tas seukuran tubuhnya dan berkalungkan botol minuman membuka pintu kecil di tengah seng besar berlilitkan kawat berduri itu. Prasangka pun muncul ketika dua anak kecil memasuki lahan yang seperti terblokir itu. Mungkin itu tempat tujuan dari rombongan yang akan mengunjungi sebuah institusi pendidikan dari kaum yang oleh masyarakat umum dianggap sesat ajarannya.

Sopir yang semula turun dan berbincang dengan warga sekitar kembali menaiki mobil dan mulai menjalankan mobilnya kembali. Mobil pun kembali meneruskan melewati jalan yang berlubang dan bergelombang menyusuri seng berkawat. Beberapa menit setelahnya mobil masuk lewat pintu gerbang di ujung seng berkawat yang sudah disusuri. Gerbang dibukakan oleh dua orang petugas keamanan dengan seragam coklat.

Lahan yang sangat luas dengan pemandangan hijau dan suara mobil yang dinaiki rombongan terdengar lebih jelas dibandingkan saat perjalanan dari pusat kota. Mobil berhenti di lahan parkir yang hanya berisi beberapa mobil saja di samping gedung putih besar bertuliskan dengan huruf arab di bagian atas depan gedung. Sebuah lapangan hijau yang luas dan tiang bendera berwarna putih berdampingan dengan taman bermain untuk anak-anak yang berwarna-warni terdapat di seberang gedung putih tersebut.

Rombongan pun disambut oleh beberapa orang berpakaian rapi dan diantaranya bersongkok yang mengantarkan kami ke sebuah ruangan memasuki gedung putih besar tersebut. Prasangka awal ketika dua anak kecil memasuki pintu di tengah-tengah seng berkawat yang tinggi menjulang ternyata benar. Kampus Mubarok institusi pendidikan yang didirikan dan diperuntukkan oleh kaum atau yang biasa disebut jemaah Ahmadiyah yang menurut umum adalah ajaran Islam yang sesat.

Di suatu ruangan beralaskan karpet berwarna coklat dengan luas ruangan kurang lebih 6×11 meter kami berkumpul dengan kondisi laki-laki di sebelah utara dan perempuan di sebelah selatan. Sebelah timur ruangan terdapat etalase kaca yang besar yang di dalamnya terdapat peta dunia bercahayakan lampu-lampu kecil merah dan kuning di beberapa titik pada peta besar tersebut. Lampu tersebut menandakan daerah-daerah dari jemaah Ahmadiyah. Sedangkan pada atas peta terdapat tulisan “Akan Aku Sampaikan Tabligh Engkau ke Seluruh Dunia” yang menjadi dasar mereka dalam berdakwah.

Setelah itu rombongan peserta workshop diarahkan ke sebuah ruangan yang berisikan benda-benda dan tulisan berbentuk banner yang menceritakan pedoman hidup Ahmadiyah. Berbentuk seperti museum mini. Rombongan pun terpecah sesuai kelompok masing-masing untuk melakukan reportase setelah keluar dari museum mini.

Quurrota Aini pengurus lajinah pusat Ahmadiyah saat ditemui salah satu kelompok mengatakan bahwa perempuan Ahmadiyah harus berpendidikan setinggi-tingginya dimanapun berada. Meskipun perempuan harus berpendidikan tapi yang harus diutamakan adalah mengurus rumah dan anak-anaknya karena keluarga dan anak akan lebih berkualitas jika diurus oleh ibu yang berpendidikan. “Boleh menjadi wanita karir asalkan tidak menelantarkan anak dan keluarga,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa perempuan Ahmadiyah juga aktif berkegiatan sosial di masyarakat seperti turun langsung dan ikut membantu bakti sosial bencana alam seperti tsunami di Aceh dan gempa di Jogja beberapa tahun silam. Selain itu juga memberi pelatihan parenting di warga sekitar karena mengingat mengurus keluarga adalah hal terpenting untuk membentuk masyarakat yang berkualitas. Perempuan Ahmadiyah juga memenuhi panggilan jika ada yang membutuhkan seperti ke PAUD-PAUD dan mereka datang dengan ikhlas tanpa meminta imbalan apapun. “Semua kami lakukan atas dasar supaya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat banyak,” tukasnya setelah menceritakan kegiatan sosial dari perempuan Ahmadiyah.

Yendra Budiana selaku juru bicara Jemaah Ahmadiyah Indonesia sedikit menceritakan sedikit tentang penyerangan yang dilakukan oleh masa pada tahun 2005 yang mengharuskan penutupan aktivitas kampus Mubarok. Anggapan-anggapan masyarakat pun mulai berkembang setelah penyerangan itu bahwa Ahmadiya selalu menutup diri dan tidak mau bersosialisasi. “Mau tidak mau Ahmadiyah harus mempublkasikan kegiatan sosialnya melalui media melihat respon masyarakat seperti itu,” tutur Yendra. Ia juga menambahkan bahwa Ahmadiyah tidak pernah mempublikasikan aktivitas sosial mereka kepada umum untuk menghindari riya’ dan melihat respon masyarakat jadi mau tidak mau harus dipublikasikan dan alhamdulillah respon masyarakat saat ini sudah lebih bisa menerima Ahmadiyah.

Yendra juga menambahkan bahwa Ahmadiyah tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan pihak lain untuk kegiatan apapun. Demi kebaikan bersama dan kebermanfaatan umat manusia Ahmadiyah siap bekerja sama. Yang ditakutkan bekerja sama karena Ahmadiyah dianggap sebagai ajaran sesat oleh masyarakat menjadi ketakutan tersendiri jika bekerja sama dengan Ahmadiyah. “Kami selalu membuka diri untuk bekerja sama dengan siapapun,” tambahnya.

Menurut saya pun semua agama diciptakan untuk kebaikan umat manusia. Menjadikan moral manusia atau umatnya menjadi lebih baik dengan ajaran-ajaranNya. Jika berbeda kepercayaan pun wajar karena Indonesia adalah negara plural dengan berbagai keyakinan dan budaya.

Kebebasan beragama dan berkeyakinan juga sudah diatur dalam Undang-Undang negara tentang hak beragama dan berkeyakinan pasal 18 Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik ayat 1, 2 dan 3. Pada ayat 1 bebunyi Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengamalan, dan pengajaran.

Pada ayat 2 berbunyi Tak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya. Sedangkan pada ayat 3 berbunyi Kebebasan menjalankan agama atau kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum, dan yang diperlukan untuk melindungi kemanan, ketertiban, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak dan kebebasan mendasar orang lain.

Negara pun tidak membatasi seseorang untuk beragama dan berkeyakinan. Negara hanya bisa membatasi dengan UU seperti pada pasal 18 ayat 3 jika ajaran agama atau keyakinan tersebut mengancam keamanan, ketertiban, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak kebebasan mendasar orang lain. Jika melanggar ketentuan itu maka negara berhak membatasi. Negara mempunyai aturan demikian dan tujuan dari ajaran agama serta keyakinan adalah demi kebaikan masyarakat bersama asalkan tidak keluar dari batasan yang diberikan negara. Diskriminasi perbedaan paham pun dirasa tidak layak untuk dilakukan oleh agama dan keyakinan di Indonesia. Sikap toleransi antar umat yang menjadi kunci perdamaian. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua Bhinneka Tunggal Ika untuk perdamaian Indonesia yang plural ini.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *