Pentingnya BEM dan Kepedulian Mahasiswa yang Turun

  • 3
    Shares

Layaknya sebuah negara yang menganut asas Trias Politika, kekuasaan pada suatu negara tersebut akan  dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pun begitu dalam organisasi mahasiswa tingkat fakultas maupun universitas. Terdapat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang mereprensentasikan eksekutif dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) sebagai legislatifnya. Kedua organisasi ini telah diamini keberadaannya oleh kampus melalui peraturan rektor Universitas Jember Nomor 3256/UN25/TU/2015 tentang pedoman organisasi kemahasiswaan.

Dalam peraturan rektor tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM F) adalah badan pelaksana kegiatan kemahasiswaan di fakultas. Tugas dan wewenang dari BEM F adalah melaksanakan ketetapan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF), membuat keputusan-keputusan yang dianggap perlu dalam pelaksanaan kegiatan mahasiswa fakultas, mewakili mahasiswa fakultas baik ke dalam maupun ke luar fakultas, dan melaksanakan rapat kerja bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) fakultas dan Himpunan Mahasiswa Jurusan/Prodi (HMJ/HMP).

Namun yang harus dipahami bahwa kedua organisasi tersebut merupakan badan yang keanggotaannya didapatkan dari mahasiswa. Seperti yang dijelaskan oleh Jayus selaku Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Teknologi Universitas Jember (FTP UJ), BEM F merupakan organisasi dari mahasiswa, oleh mahasiswa, untuk mahasiswa. Namun apa yang akan terjadi saat kepedulian mahasiswa terhadap kedua badan ini meluntur dan tentu akan banyak masalah yang muncul.

Ada banyak contoh kasus yang mengindikasikan  tentang penurunan kepedulian dari mahasiswa terhadap student goverment ini. Mulai dari pasangan calon presiden dan wakil presiden BEM F yang hanya satu pasangan, juga dalam kegiatan orasi BEM F yang telah dilaksanakan. Peserta yang datang sangatlah sedikit. Dian selaku  Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) mempunyai pendapat soal kurangnya kepedulian mahasiswa terhadap BEM F. Menurutnya, aktivis kampus punya sudut pandang keliru yang menganggap apabila sudah tergabung dalam UKM  maka tidak memerlukan BEM F. Pendapat itu menurutnya adalah salah besar. Hal tersebut dijelaskannya sebagai penyebab kurang pedulinya mahasiswa terhadap BEM F, sehingga pentolan-pentolan UKM enggan mencalonkan diri dan bergabung dengan BEM F. “Saya rasa nilai kepedulian mahasiswa tidak sepenuhnya hilang, namun memang harus diakui mulai menurun.”  Tambahnya.

Pada dasarnya, anggapan bahwa UKM tidak butuh BEM F tidaklah benar. Tentu apabila berkaca pada peraturan rektor yang telah diterbitkan UKM mutlak perlu adanya BEM F. Hal yang harus dipahami adalah UKM itu lebih dulu berkembang bila dibandingkan dengan BEM F. UKM sudah berkembang lebih jauh mendahului bos barunya yaitu BEM F. Kultur tersebut-lah yang sulit dirubah, namun harus tetap diusahakan.

Kepedulian mahasiswa terhadap BEM F khususnya, sangat jelas terlihat menurun dua tahun belakangan. Hal ini menilik pernyataan dari Marbawi selaku Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kemahasiswaan FTP UJ. Ia menilai pemilihan Presiden BEM F  dua tahun berturut-turut hanya diikuti pasangan tunggal. Pada pemilihan presiden BEM F tahun sebelumnya, juga mempunyai keadaan serupa seperti tahun ini. Namun perbedaannya adalah pada tahun lalu saat masa pendaftaran calon diperpanjang ada tambahan pasangan calon. Perpanjangan masa pendaftaran ini mengacu pada Undang-Undang Keluarga Mahasiswa FTP (UU KMFTP) jika hanya terdapat satu calon sampai batas waktu yang ditentukan, harus ada perpanjangan masa pendaftaran. Jika tetap 1 calon setelah masa perpanjangan pendaftaran maka akan tetap dilakukan pemilihan dengan blanko kosong. Karena di dalam UU KM FTP tidak terdapat pemilihan secara aklamasi. Marbawi menerangkan, “yang jelas kesadaran untuk organisasinya semakin kurang bagus, kenapa hanya calon tunggal minimal kan harus lebih dari satu, di peraturan rektor kan kalau dulu BEM F menguasai segala-galanya, sekarang kan terbatas”.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah benar mahasiswa hilang kepedulian perkara wewenang BEM F yang mengerdil ataukah memang keberfungsian dari BEM F periode sebelumnya meredup. Banyak yang menganggap bahwa keberfungsian dan eksistensi BEM FTP pada periode sebelumnya gagal. Ambil saja contoh banyaknya pengurus yang meninggalkan kepengurusan di tengah jalan. Pun demikian seperti penjelasan Marbawi bahwa tidak adanya mahasiswa yang mengajukan peninjauan penurunan UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Jadi terkesan kalau BEM F ini ada secara organisasi tapi tidak ada secara fungsi. Wujudnya ada namun keberfungsiannya meluntur atau bahkan tidak berfungsi. Sehingga ketertarikan juga kepedulian mahasiswa terhadap BEM F yang mulai turun tidak bisa disalahkan sepihak kepada mahasiswa saja. Kesalahan juga terdapat pada kemahasiswaan yang terkesan melakukan pembiaran terhadap kepengurusan BEM F sebelumnya hingga menurunkan minat mahasiswa terhadap BEM F.

BEM F layaknya pemerintahan dalam suatu negara memiliki tugas dan wewenang besar dalam penyelenggaraan kehidupan mahasiswa di kampus. Pada peraturan rektor tersebut  di bagian lampiran digambarkan bahwa BEM F berada di atas UKM dan HMJ/HMP. Sehingga menurut Jayus, BEM F memiliki fungsi dalam mengatur dan untuk mengkoordinir antar UKM. Agar dalam kegiatannya tidak terjadi tumpang-tindih antar UKM. Selain itu BEM F juga dapat memfasilitasi hak mahasiswa terhadap kebijakan kampus. Semisal mahasiswa akan mengajukan peninjuan penurunan UKT.

Pemilihan BEM F menurut Jayus sebenarnya diharapkan dilakukan pada Desember dan akan mulai aktif bekerja pada Januari sampai Desember. Sungguh sangat disayangkan bahwa pada pertengahan bulan Februari, pemilihan presiden BEM F belum terlaksana, itu pun hanya diikuti oleh satu pasangan calon saja. Lanjut ia menerangkan, posisi fakultas hanyalah sebagai fasilitator dan tidak bisa cawe-cawe terhadap masalah itu (pemilihan presiden BEM F, red). “Sekarang kalau mahasiswa tidak mau berbuat untuk dirinya sendiri itu maknanya apa, berarti kan kesadaran mereka yang memang kurang, ini untuk kepentingan dirinya sendiri, kan bukan kepentingannya fakultas”.

Faktanya saat ini BEM FTP UJ masih belum terbentuk. Hal ini harusnya mendapat perhatian yang lebih baik dari pihak dekanat maupun kalangan civitas akademika FTP. Walaupun kemahasiswaan hanya menganggap dirinya sebagai fasilitator tentunya kepedulian mahasiswanya terhadap student goverment utamanya BEM F harus lebih digalakkan. Saat menilik pentingnya posisi dan keberfungsian dari BEM F, sudah sepatutnyalah kepedulian dan percepatan pembentukan pengurus BEM F mutlak diperlukan.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa BEM F-lah yang mewadahi UKM dan mahasiswa pada umumnya. Hingga saat BEM F terbentuk maka pendanaan dari UKM akan tertunda, kegiatan dari UKM-UKM pun akan tertunda pula dikarenakan tidak ada pendanaan. Mahasiswa yang akan mengajukan beasiswa dan peninjauan penurunan UKT juga tidak bisa. Sedikit penjelasan dari Marbawi yang mengatakan bahwa pengajuan peninjauan UKT semester ini hanya dua orang namun fakultas tidak diberi tembusan oleh BEM F, sedangkan pada semester sebelumnya cleansheet tidak ada yang mengajukan.

Contoh-contoh kasus di atas merupakan sebagian kecil dari gagalnya fungsi BEM F. Pemerintahan mahasiswa tidak lagi mampu menjalankan fungsinya sebagai jembatan dan koordinator baik mahasiswa maupun UKM. Sangat jelas hal tersebut akan menyebabkan hilangnya minat mahasiswa terhadap BEM F, dan celakanya kepedulian mahasiswa menjadi luntur atau malah hilang. Hal-hal seperti inilah yang disayangkan, bahwa ada celah yang bisa dipergunkan oleh mahasiswa menggunakan kewenangan dari BEM F untuk membantu mahasiswa namun tidak dapat dipergunakan. Karena apabila mahasiswa mulai apatis dan tidak memiliki kepedulian terhadap BEM F, maka keberfungsian dan kewenangan BEM F sedikit demi sedikit akan meluntur.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *