Alif Lam Mim : Pergulatan Antara Negara, Media, dan Agama

  • 2
    Shares

Judul Film                   : 3 Alif Lam Mim

Sutradara                    : Anggy Umbara

Produser                     : Raam Punjabi

Tahun Tayang             :  1 Oktober 2015

Durasi                          : 2 jam 5 menit

Produksi                      : FAM Pictures

 

Film besutan Anggy Umbara ini diawal cerita menggambarkan tentang kondisi Indonesia tahun 2015. Saat itu terorisme sangat mewabah. Terjadi banyak aksi bom bunuh diri mengatasnamakan agama. Mahasiswa turun jalan berunjuk rasa menuntut pemerintah menghentikan aksi terorisme dan kekerasan yang terjadi. Lantas demonstrasi mengecam penggunaan senjata api oleh para kriminal, teroris, bahkan aparat negara masif dilakukan sampai tahun 2024.

Tahun 2026 revolusi berakhir, Indonesia yang semula Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merubah haluan ideologi menjadi negara liberal. Pancasila berubah menjadi catursila, dimana sila pertama tentang ketuhanan dihapus. Semua rakyat diberikan kebebasan dan penggunaan senjata api -tergantikan dengan senjata karet- saat itu illegal. Hak asasi Manusia (HAM) menjadi prioritas.

Film ini bercerita tentang tiga sekawan bernama Alif (Cornelio Sunny), herlam (Abimana Aryasatya), dan Mimbo (Agus Kuncoro) yang sama-sama belajar beladiri silat di Padepokan Silat Al Ikhlas pimpinan KH. Mukhlis (Cecep Arif Rahman). Kisah bermula saat orang tua Alif dibunuh oleh teroris, rumahnya pun ikut dibakar. Saat itu pula, Alif memutuskan akan menjadi aparat penegak hukum dan mencari pembunuh orang tuanya.

Herlam memutuskan untuk keluar pondok dan menjadi jurnalis yang idealis. Ia tertarik dengan dunia jurnalisme dan sangat berobsesi untuk memberikan berita yang benar, jujur, sesuai fakta. Namun dengan kejeniusan dan sifat skeptis yang ia miliki, membuat pimpinan redaksinya berang. Memang pada waktu itu, media massa telah ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan.

Berbeda dengan kedua sahabatnya, Mimbo tetap bertahan di pondok dengan menjadi ustadz dan membantu KH. Mukhlis. Selain mengajar agama, Mimbo juga turut mengajar santri beladiri di padepokan silat. Mim terkenal sebagai pribadi yang tenang dan religiuus. Hidupnya banyak dihabiskan untuk mengabdi di Pondok Pesantren Al Ikhlas.

Dengan mengambil latar tahun 2036, pengeboman masih marak terjadi. Pada suatu hari, Alif akan bertemu dengan Laras (Prisia Nasution), mantan kekasihnya di Candi Café. Dari informasi yang diperoleh dari Herlam, Laras merupakan salah satu keluarga korban pengeboman. Laras juga bekerja di café tersebut. Saat mereka mengobrol, datanglah sekelompok pria bersorban khas Islam memasuki café. Alif yang berprofesi sebagai Anggota Detasemen Khusus (Densus) memberitahu pria-pria tersebut untuk meninggalkan café. Di café tersebut memang saat itu menerapkan peraturan “No Religious Talks, No Religious Outfits”, yang dalam kata lain orang beragama tidak diperkenankan memasuki café. Pria-Pria tersebut yang paham maksud Alif, langsung keluar café. Beberapa menit kemudian, bom meledak di dalam Café Candi.

Kepolisian langsung mengolah tempat kejadian perkara (TKP) pengeboman Café Candi. Dari hasil investigasi yang dilakukan, pelaku pengeboman mengarah ke Pondok Pesantren Al Ikhlas. Alif yang berada di TKP saat itu langsung mengusut dan memburu pelaku pemboman. Mendengar kabar terjadi pengeboman di Café Candi, Herlam lantas menyelidiki sendiri apa sebenarnya yang terjadi. Ia menemukan kejanggalan dari hasil investigasi milik kepolisian. Disinilah awal pergulatan antara Alif, Lam, dan Mim.

Kemudian Alif pergi ke padepokan untuk menangkap KH. Mukhlis. Sedatangnya di pondok, ia ditemui oleh Mim. Perseteruan antara Alif dan Mim tak terelekkan. Mereka saling serang dengan jurus silat yang sama-sama mereka tekuni. Pertarungan pun berakhir ketika KH. Mukhlis keluar dan menyerahkan dirinya ke aparat. Sontak Alif dan Mim terkejut melihat gurunya bersedia ditangkap meskipun ia tidak bersalah.

Melihat kondisi kedua sahabatnya berseteru, Lam tidak tinggal diam. Dia rela resign dari tempat kerjanya demi menyelesaikan kasus ini. Muncul banyak kejanggalan yang terjadi dibalik pengeboman Café Candi. Dengan bantuan informasi dari Laras, ia menemukan fakta bahwa pihak aparat ikut terlibat dalam aksi pengeboman ini. Lantas ia segera mengabari Alif atas temuannya ini. Namun, keluarganya menjadi korban atas informasi yang ia sebar luaskan. Gendhis (Tika Bravani), istri Lam menjadi korban pembunuhan orang tidak dikenal.

Anak Lam yang juga menjadi korban selamat akhirnya dibawa ke padepokan untuk menjalani perawatan. Saat itu pula, Alif bertemu kembali dengan Letnan Bima (Donny Alamsyah), teman seperjuangannya di Detasemen. Ia terkejut melihat Bima dirawat dengan baik di Padepokan Al Ikhlas. Padahal Bima dilaporkan telah meninggal saat operasi penangkapan Mim. Fakta yang tak kalah meyakinkan Alif bahwa ada konspirasi di balik kejadian yang menimpanya yakni ketika ia mengetahui bahwa Laras (Wanita yang sangat dicintainya) merupakan anak dari Kolonel Mason (Pieot Pagau), atasannya di detasemen.

Dalang utama yang memainkan konspirasi tersebut adalah Tamtama (Tanta Ginting). Anak Herlam, Gilang (Bima Azirel) mewarisi bakat ayahnya berhasil meretas jaringan komunikasi kota. Kejahatan Tamtama diputar pada layar-layar besar kota. Ternyata Kolonel Mason hanya diperalat Tamtama untuk menguasai kota dan Negara.

Alif, Lam, dan Mim sama-sama sadar ternyata selama ini mereka telah dipermainkan oleh elite global yang ingin menguasai dunia. Dengan cara-cara licik mereka menggunakan  segala cara agar tujuan mereka tercapai. Selama ini, para elite global sengaja menggunakan kekuatan pemerintahan dan media untuk menguasai dunia. Selain itu, Agama dijadikan kambing hitam agar konflik terus saja terjadi dengan menggunakan dogma “selama masih ada perbedaan dalam hidup, maka tidak aka ada perdamaian”.[]

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *