Pejabat Kampus Anti Kritik, UAPKM UB Dibekukan

Sikap anti kritik dan otoriter ditunjukkan oleh Wakil Rektor III Universitas Brawijaya (WR III UB) Arief Prajitno. Bagaimana tidak antikritik dan otoriter Arif membekukan secara lisan Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa Universitas Brawijaya (UAPKM UB) atau biasa dikenal dengan Kavling10 karena opini tentang dirinya oleh salah satu anggota UAPKM UB Rizqi Nurhuda Ramadhani di media online UAPKM UB yang berjudul “Surat Terbuka Untuk Mahasiswa UB yang Sok Kritis: Jangan Menentang Yang Mulia Wakil Rektor”. Ia pun menjelaskan bahwa itu kesepakatan dengan Rektor UB tentang pembekuan UAPKM UB .

Pada Jumat (30/9) Bunga selaku Pemimpin Uum UAPKM UB dan Rizqi menghadap Arief  karena mendapat panggila di hari sebelumnya berdasarkan kronologi pembekuan yang dibuat oleh UAPKM UB. Bunga dan Rizqi menghadap Arief secara bergantian. Di ruangan tersebut Arief menanyakan maksud dari otoriter dan menerima dana dari mahasiswa dalam opini Rizqi. Arief malah selalu memotong penjelasan dari Rizqi dan menyatakan bahwa itu fitnah dan bisa dilaporkan ke polisi.

Arief pun juga menuding bahwa tulisan mengenai nominal dana kemahasiswaan yang ada di media sosial adalah tulisan UAPKM UB dengan alas an di tulisan tersebut mencantumkan tautan tulisan dari Rizqi. Meskipun sudah dijelaskan itu bukan tulisan dari UAPKM UB Arief tetap ngotot itu tulisan UAPKM UB dan memberikan ancaman pemanggilan orang tua.

Pun juga sama ketika giliran Bunga yang menghadap Arief. Pertanyaan yang sama dan tuduhan tulisan di media sosial adalah milik UAPKM UB. Ketika Arief dimintai klarifikasi oleh Bunga malah mengatakan bahwa UAPKM UB bukan kelasnya dan tidak butuh klarifikasi.

UAPKM UB menganggap permasalahan sudah selesai ketika Rizqi memberikan surat permintaan maaf kepada Arief. Pada Jumat (21/10) Maya Ulfa selaku Sekretaris Umum UAPKM UB bersama Bunga memenuhi panggilan Arief sekaligus mengurusi proposal kegiatan yang tidak kunjung disetujui hingga H-1. Dalam pemanggilan itu Arief tidak mengizinkan Maya untuk berbicara dan mengatakan punya urusan dengan Bunga. Ia menyinggung sikap Bunga menurutnya sok pintar dan mengatakan UAPKM UB itu bukan apa-apa dan bukan lagi bagian dari UB. Arief juga mengatakan bahwa semua UKM adalah kewenangannya dan UKM berada di bawahnya. Maya pun disuruh keluar ruangan ketika akan membacakan surat permintaan maaf dari Rizqi.

Arief juga mengatakan bahwa Rektor sudah sepakat UAPKM UB dibekukan sementara. Saat Bunga menanyakan SK (Surat Keputusan) pembekuan, Arief menggebrak meja sambil berbicara dengan nada tinggi bahwa pembekuan masih dalam bentuk lisan.  Selain itu, Arief mengancam akan memanggil orangtua Bunga. Arief menjelaskan bahwa SK Rektor pembekuan UAPKM UB akan ada apabila orang tua Bunga memenuhi panggilan.

Ikhsan selaku perwakilan EM UB pada saat menemui Arief untuk follow up buku pedoman Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pada Sabtu (17/12) menjelaskan bahwa Arief ingin menyelesaikan permasalahan UAPKM UB dengan melengserkan kepengurusan Bunga. Sementara pergantian kepengurusan UAPKM UB diagendakan pada Maret 2017. Selama periode kepengurusan Bunga per April 2016, UAPKM UB belum mendapatkan dana kegiatan sama sekali. Sementara dengan adanya pembekuan secara lisan sejak Oktober 2016, praktis izin kegiatan juga tidak dikeluarkan.

Sangat disayangkan sekali ketika suatu UKM dibekukan karena mengkritik birokrat kampus. Terlebih ketika sang pemangku jabatan menggunakan kuasanya secara otoriter. Menurut saya sikap antikritik dari Arief WD III UB sangat tidak pantas dilakukan apalagi sampai melakukan pembekuan UKM. Bias dilihat ketika awak UAPKM UB menjelaskan maksud dari opininya, Arief selalu memotong penjelasan dan tetap ngotot bahwa tulisan pihak lain adalah milik UAPKM UB. Saya sendiri tidak paham maksud Arief yang meminta penjelasan tapi tidak dihiraukan.

Masalah sebenarnya bisa diselesaikan dengan kekeluargaan, saling terbuka melalui klarifikasi dari kedua belah pihak. Tapi sayangnya Arief tidak mau mengklarifikasi opini dari UAPKM UB dengan alasan bukan levelnya. Apalagi Ia menggunakan kekuasaannya untuk membekukan dan melengserkan UAPKM UB. Apakah seperti itu sikap dari pemangku jabatan kampus yang seharusnya menjadi panutan mahasiswanya?

Amien Rosyadi

Lahir di Pasuruan 27 Maret 1995

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *