Ada Apa Dengan Persma ?

Di awal tahun 2016, dunia perfilman Indonesia kembali digemparkan dengan kemunculan sekuel film legendaris di era 2000-an, Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Film AADC 2 Garapan Riri Lesmana ini sukses menyita perhatian publik lewat alur cerita yang dikemas dengan bumbu-bumbu romantisme antara Cinta (Dian Sastrowardodjo) dengan Rangga (Nicholas Saputra). Lantas tagar #AADC2 langsung menjadi tranding topic di media sosial, karena memang kelanjutan film ini sangat dinanti-nantikan sebelumnya.

Dalam AADC 2, alur cerita tidak banyak yang berubah seperti pada AADC pertama. Sosok Cinta dan Rangga masih menjadi tokoh sentral dalam film teresbut. Hanya saja dalam sekuel terbarunya, AADC banyak mengeksplor tempat dan budaya yang berlokasi di Yogyakarta.

Pada cerita AADC edisi pertama, dikisahkan Cinta adalah seorang gadis cantik yang hidup di tengah lingkungan yang nyaman.  Ia juga  aktif dalam organisasi jurnalistik di sekolahnya. Bersama Karmen, Alya, Milly, dan Maura, ia banyak mengisi kegiatan diluar pelajaran dengan giat menulis, cerpen, puisi, dan membuat mading.

Cerita berawal ketika di sekolah Cinta mengadakan lomba puisi. Lomba ini memang rutin diadakan satu tahun sekali. Cinta yang memang mempunyai keahlian lebih dalam hal menulis, digadang-gadang akan menjadi pemenangnya. Namun Kenyataan berkata lain. Kepala Sekolah mengumumkan pemenang dari lomba puisi tersebut adalah Rangga. Sontak hal tersebut membuat Cinta kehabisan kata-kata dan terus saja merenung.

Lantas Cinta berkeinginan untuk menemui sang pemenang lomba tersebut. Alih-alih ingin mewawancarai Rangga, Cinta ditolak mentah-mentah oleh Rangga. Karena memang Rangga menganggap ia tidak pernah mengikuti perlombaan puisi tersebut. Kenyataannya, Rangga memang tidak pernah mengirimkan puisinya ke pihak panitia, yang mengirimkan puisi milik Rangga yakni Pak Wardiman (Penjaga sekolah Cinta dan Rangga).

Singkat cerita, Rangga dan Cinta akhirnya dapat memperbaiki hubungan mereka. Dengan dibumbui kisah romantisme ala remaja serta persahabatan Cinta dan para sahabatnya, akhirnya perasaan sayang hinggap diantara keduanya. Namun drama belum usai, ditengah alur cerita tersebut, Rangga mendapat kabar dari ayahnya kalau ia harus pindah ke New York dan melanjutkan pendidikan disana. Pada akhir cerita AADC pertama, Cinta dan Rangga pun harus terpisah dan menjalani hubungan mereka dengan dipisahkan Bandara dan Udara antara New York dan Jakarta.

Cerita berlanjut pada AADC 2. Sembilan tahun Rangga menghilang dan hal tersebut membuat Cinta hampir frustasi menunggu Rangga. Di tengah kesunyian Cinta menunggu kabar dari Rangga, sepucuk surat datang dari New York. Cinta pun menerima surat tersebut dengan tersenyum bahagia. Maksud hati ingin membaca puisi atau kata-kata mesra dari Rangga, ia malah mendapat kabar bahwa Rangga secara sepihak memutuskan jalinan hubungan mereka selama ini yang telah terbangun mesra.

Dari sepotong kisah antara Cinta dan Rangga diatas, ada benang merah yang terjalin diantara kisah AADC dengan kenyataan yang dialami oleh para pegiat pers mahasiswa (persma). Pergumulan asmara antara Cinta dan Rangga nampak pula terjadi pada persma dan birokrat kampus. Namun dalam konteks lain, yakni kebebasan berpendapat. Maraknya kasus pembredelan media persma oleh birokrat kampus saat ini memanglah “keputusan sepihak” dan semena-mena. Keputusan kebanyakan hanya didasari oleh “baik atau buruknya” pemberitaan yang dimuat oleh redaksi persma. Para birokrat menganggap pemberitaan persma yang kritis malah akan membuat citra kampus semakin tidak baik.

Lihat saja apa yang dialami oleh Lembaga Pers mahasiswa (LPM) Pendapa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Melalui press release yang dibuat oleh redaksi Pendapa, mereka menjelaskan bahwa pihak rektorat UST telah secara sepihak membekukan organisasi persma UST tersebut. Hal ini tentu mencoreng nama UST sendiri sebagai sebuah instansi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.

Kisah berawal ketika Peka Tariska, Pemimpin Umum LPM Pendapa periode 2016-2017 mengajukan surat permohonan SK (Surat Keputusan). Surat tersebut ditujukan kepada Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Namun sebulan lamanya menunggu, balasan dari bapak rektor tak kunjung sampai.

Melihat kondisi tersebut, Wakil Pemimpin Umum Muhammad Aziz Muttaqin dan Sekretaris LPM Pendapa Lucya Friska mendatangi Ki Marji (Kepala Bagian Kemahasiswaan UST) untuk mengajukan proposal permohonan dana kemahasiswaan yang sebelumnya sudah ditetapkan pada Rapat Perencanaan Dana Kemahasiswaan bersama Ki Hadi (alm) selaku Wakil Rektor III UST. Dalam keputusan tersebut, Pendapa mendapatkan dana sebesar 23,850 juta dari total 300 juta yang dialokasikan kepada lembaga kemahasiswaan dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UST.

Namun proposal yang diajukan pengurus Pendapa tersebut ditolak oleh Ki Marji dan mengalihkan permasalahan tersebut kepada Ki Hadi (alm). Bersamaan dengan itu, Ki Hadi (alm) menghampiri Aziz dan Lucy. Ia mengatakan bahwa dana kemahasiswaan bagi LPM Pendapa hanya bisa dicairkan apabila pengurus LPM Pendapa menandatangani Pakta Integritas. Ia juga menjelaskan SK Kepengurusan LPM Pendapa UST sengaja ditahan dan akan diturunkan oleh Rektor bila pengurus Pendapa membuat Pakta Integritas tersebut.

Melihat sikap birokrasi UST yang terus-menerus menggantungkan nasib Pendapa, singkat cerita Peka menyerahkan SK Pernyataan Sikap menolak Pakta Integritas kepada Rekotrat UST. Tembusan surat tersebut ditujukan kepada Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa, Pejabat Struktural UST, Lembaga dan UKM di UST, Pers Mahasiswa seluruh Indonesia, dan Alumni UST. Namun, lagi-lagi tidak juga mendapatkan respon dari rektorat UST.

Lanjut, melalui pesan singkat Ki Marji meminta Aziz untuk mengambil Pakta Integritas yang dikonsepkan oleh rektorat UST. Ki Marji juga menambahkan, LPM Pendapa tidak harus membuat Pakta Integritas. Namun hanya perlu menandatangani Pakta Integitas yang dikonsepkan rekotrat UST jika menginginkan SK Kepengurusan dan dana kemahasiswaan diturunkan oleh Rektor UST.

Kemudian, pengurus LPM Pendapa pun melaksanakan rapat menindaklanjuti kemauan dari pihak birokrat kampus tersebut. Setelah melihat isi Pakta Integritas yang diajukan Rektorat UST, akhirnya LPM Pendapa menolak secara penuh penandatanganan Pakta Integritas tersebut. Mereka memandang bahwa Pakta Integritas tersebut adalah usaha untuk melindungi kesalahan-kesalahan pihak birokrat kampus agara tertutupi dari para mahasiswa UST.

Usaha-usaha pun dilakukan oleh pengurus LPM Pendapa, seperti penjajakan dialog dengan pihak birokrat kampus. Namun seperti yang telah diketahui, pihak birokrat UST selalu berkilah. Pengurus Pendapa juga melakukan penerbitan media Bulletin Pendapa News edisi khusus dengan judul “Awas! Ada Pembungkaman” sebanyak 482 eksemplar. Bulletin tersebut disebarluaskan ke seluruh civitas akademika UST. Penerbitan bulletin tersebut didanai secara komunal oleh pengurus Pendapa.

Namun balasan yang diterima LPM Pendapa sungguh menyesakkan. Informasi dari informan yang diterima oleh Aziz (11/11),  kantor redaksi LPM Pendapa UST akan segera dikosongkan. Disaat bersamaan, Peka mendapatkan informasi dari salah satu anggota UKM Taekwondo UST bahwa LPM Pendapa tidak masuk dalam daftar UKM. Ketika informasi tersebut diklarifikasi ke pihak birokrat kampus, memang benar LPM Pendapa telah dibekukan oleh Rektor UST. Sungguh Ironis.

Lantas, yang kemudian menjadi pertanyaan saat ini adalah “Ada Apa Dengan Persma ?”. Mengapa persma selalu menjadi kambing hitam dari setiap problematika yang terjadi di ranah akademisi yang mengajarkan tentang nilai-nilai demokrasi. Kampus yang sejatinya dijadikan sebagai wahana pembelajaran berdemokrasi, ternyata malah menjadi penjara. Pembungkaman terjadi dimana-mana, bahkan di dalam kesucian demokrasi di wilayah kampus itu sendiri. Persma yang selalu menjadi bagian terdepan dalam membangun budaya demokrasi di dalam wilayah kampus, pada akhirnya dibungkam juga. Kemudian, dimana bentuk pengamalan Pasal 28 tentang Kebebasan berekspresi dan berpendapat yang telah diamanatkan Undang-Undang Dasar negara kita ?

Apabila Cinta dianalogikan sebagai persma dan Rangga sebagai Birokrat kampus, hal tersebut tidaklah  berlebihan. Karena Cinta layaknya representasi dari subjek yang selalu disakiti akibat ketidakpastian dan keputusan sepihak. Sedangkan Rangga, meskipun di dalam cerita AADC 2 tidak seantagonis yang dikira, namun keputusannya untuk meninggalkan Cinta tanpa ada kejelasan membuat hati Cinta tersakiti.

Kita tunggu saja, apakah ending cerita antara Cinta dan Rangga yang begitu romantis terjadi pula dalam kisah antara persma dan birokrat kempus dalam hal kebebasan berpendapat. Mengambil salah satu percakapan antara Cinta dan Rangga pada pertengahan cerita AADC 2, “Rangga, yang kamu lakuin ke saya itu…JAHAT !”. []

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *