Tindak Kekerasan Terhadap Jurnalis oleh TNI, Wartawan Jember Gelar Aksi Solidaritas

JEMBER, Manifest – Aksi solidaritas ditunjukkan sekumpulan wartawan Jember dengan melakukan long march dari Bundaran DPRD Kabupaten Jember menuju Kodim 0824 pada Senin (03/10). Aksi ini digelar buntut dari tindakan kekerasan yang dialami oleh wartawan NET TV, Soni Misdananto saat melakukan peliputan pada Minggu (02/10) di Kota Madiun.

Zika, wartawan Kantor Berita Antara yang sekaligus pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember mengungkapkan bahwa aksi ini diikuti oleh berbagai kalangan lintas media, seperti Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) wilayah Tapal Kuda, wartawan tabloid harian dan mingguan, serta dari AJI Jember sendiri. “Ya kita melakukan aksi unjuk rasa di bundaran DPRD menyampaikan beberapa tuntutan dan berbagai poster,” ungkapnya.

Menurut Zika, aksi long march ke Kodim 0824 Jember ini dilakukan akibat tindakan kekerasan yang dialami Soni dilakukan oleh oknum TNI Angkatan Darat Batalyon Infanteri 501 Rider Madiun saat ia melakukan tugas jurnalistik. “Di Jember ini kami ingin mengaskan bahwa aksi kekerasan bukan jamannya lagi, oknum TNI melakukan kekerasan terhadap jurnalis,” Tegasnya. Ia juga menjelaskan bahwa tugas jurnalistik yang dilakukan oleh wartawan adalah legal dan dilindungi oleh undang-undang pers.

Menurut keterangan Zika, Komandan KODIM 0824 Jember M. Nas mengatakan, “Kita akan jaga itu, kita tidak akan melakukan tindakan anarkis ketika ada  kesalahpahaman antara TNI dan jurnalis”. Zika Meminta agar pernyataan sikap dari wartawan Jember disampaikan ke KODAM V Brawijaya agar kejadian yang menimpa Soni tidak terjadi di Jember. “Menjelang 5 Oktober, ini kado terburuk bagi TNI. Seharusnya TNI melindungi warganya. Mereka juga harus bisa memberikan tauladan yang baik terhadap warga. Tapi tidak kemudian mereka melakukan kekerasan terhadap jurnalis dan warga silat yang ada di Madiun.” Tandasnya.

Seperti dikutip pada pernyataan sikap AJI Jember, tindak kekerasan terjadi saat Soni Misdananto dalam perjalanan menuju Madiun, tepatnya di Jalan Raya Madiun Ponorogo. Saat tiba di dekat perempatan Te’an, Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, hujan deras mengguyur. Soni memutuskan menepi dan berteduh di rumah warga. Di sekitar perempatan itu juga terlihat sejumlah aparat gabungan TNI dan Polisi yang berjaga mengamankan peringatan suroan.

Tak lama berselang muncul iring-iringan (konvoi) kendaraan anggota perguruan silat usai mengikuti peringatan suroan. Tiba di perempatan, kendaraan paling depan dari rombongan itu menabrak kendaraan pengguna lain yang berhenti di lampu merah.

Sebagai seorang jurnalis, Soni Misdananto secara spontan mengeluarkan kamera untuk mengabadikan peristiwa kecelakaan itu. Di tengah merekam peristiwa, muncul sejumlah anggota TNI AD Yonif 501 Rider Madiun yang menyerbu dan menghajar peserta konvoi yang terlibat kecelakaan tersebut. Soni pun tetap merekam peristiwa itu hingga tiba-tiba sejumlah anggota TNI mendatangi dan mengintrogasinya.

Usai menjelaskan identitasnya sebagai Kontributor NET TV, salah satu prajurit meneriaki kawan-kawannya yang terlibat pemukulan peserta konvoi. Prajurit itu memberitahukan jika ada wartawan yang merekam pemukulan itu dan langsung menghentikan aksinya. Selanjutnya, Soni dibawa paksa menuju sebuah rumah yang terdapat banyak anggota TNI dan Polisi. Soni menduga mereka adalah personil pengamanan gabungan yang ditugaskan menjaga peringatan suroan di sepanjang jalan.

Di tempat itu Soni kembali diinterogasi dan diminta menunjukkan tanda pengenalnya sebagai Kontributor NET TV. Selain itu anggota TNI lainnya juga meminta kamera milik Soni dan mengambil memori card yang berisi rekaman pemukulan tersebut. Di depan Soni, anggota TNI itu mematahkan memeori card dan mengancam untuk tidak memberitakan.

Di tengah interogasi dan intimadasi itu, sejumlah anggota TNI tiba-tiba masuk dan langsung menghajar Soni. Mereka memukul kepala Soni memakai besi. Pipi kiri Soni juga dipukul memakai tangan. Seorang tentara juga menghantam dada dan menendang lututnya.

Setelah mengeroyok, seorang tentara memotret KTP Soni. Tentara juga mengancam Soni supaya tidak memberitakan peristiwa itu, dan akan mencari Soni jika tetap disarkan. Cerita tentang penganiayaan Soni dan ancaman itu ia sampaikan kepada pengurus AJI Kota Kediri yang mendampinginya. []

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *