Tantangan Bagi Sarjana Baru

Sabtu, 10 September 2016 wisuda digelar di Universitas Jember. Pelaksanaan wisuda itu pasti sangat di nanti-nantikan oleh mahasiswa Universitas Jember, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir. Namun tidak hanya mahasiswa Universitas Jember saja yang sangat menantikan momen penting wisuda ini. Seluruh mahasiswa di setiap universitas yang ada di Indonesia juga menantikan momen tersebut. Acara ini nantinya turut dihadiri oleh keluarga maupun kerabat-kerabat terdekat yang membuat acara wisuda tak akan dilewatkan.

Momen wisuda sangat penting bagi seorang mahasiswa. Karena pada hari tersebut berarti berakhirnya masa sebagai mahasiswa dan menjadi seorang sarjana baru. Sarjana baru atau biasa dikenal fresh graduate tentunya akan memasuki dunia baru untuk mengejar  impiannya. Sarjana baru pastinya sangat diharapkan bangsa dan negara meneruskan perjuangan generasi-generasi sebelumnya dengan semangat yang tinggi untuk membangun Ibu Pertiwi.

Persaingan yang sangat ketat dalam dunia kerja menjadi tantangan tersendiri bagi sarjana baru. Mereka yang memiliki ilmu akademik dari kuliah yang telah dijalani harus menerapkannya dan menjadikan dasar untuk persaingan yang ketat dalam dunia kerja. Seperti halnya sekarang ini, Indonesia telah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean atau dikenal dengan MEA membuat tantangan tersendiri bagi para sarjana baru. Mereka harus bekerja keras dalam mengembangkan kemampuan hardskill maupun softskill agar bisa bersaing secara global.

Perusahaan-perusahaan saat ini mulai gencar-gencarnya mencari sarjana-sarjana baru untuk kemajuan dari perusahaan itu sendiri. Karena para sarjana baru dinilai mempunyai jiwa yang muda, semangat yang sangat tinggi, aktif, cerdas dan lebih produktif. Oleh karena itu, para sarjana baru harus menunjukkan kriteria-kriteria yang disyaratkan oleh sebuah perusahaan. Meskipun banyak perusahaaan yang mencari para sarjana baru untuk diberdayakan di perusahaan mereka, namun hal itu tak lantas membuat mereka bersantai setelah memperoleh gelar sarjana. Karena suatu perusahaan mencari seorang sarjana yang berkompeten dibidang mereka masing-masing.

IPK tinggi pun tidak menjamin seorang sarjana baru mudah diterima saat melamar kerja. Perusahaan diluar sana mengharapkan seorang sarjana yang mempunyai soft skill yang tinggi. Karena jika seorang sarjana baru memiliki soft skill tinggi, diharapkan dapat menyelesaikan masalah dengan baik dan mampu bekerjasama dengan siapa saja. Apalagi melihat realita dewasa ini, seperti contoh banyak sarjana pertanian yang bekerja di Bank. Padahal secara bidang keilmuan, hal tersebut sangatlah menyimpang.

Kemampuan IT dan mampu berbicara bahasa inggris (sebagai bahasa internasional) dapat menjadi nilai tambah bagi sarjana baru. Pada zaman modern seperti sekarang ini, para sarjana baru pun juga harus dituntut dalam menguasai IPTEK. Perubahan globalisasi yang cukup pesat perkembangannya  menjadikan salah satu alasan bagi para sarjana baru untuk dapat mengusai IPTEK. Selain itu juga, agar dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Seorang sarjana yang mendapatkan gelar Strata-1 (S1) setidaknya mendapatkan perkerjaan yang layak untuk mereka, yakni sebagai seorang manajer. Tetapi, dalam kenyataannya tak semua lulusan sarjana mendapatkan perkerjaan yang layak. Seharusnya gelar sarjana diharapkan menjadi solusi dalam mengatasi masalah bangsa, namun hal ini tak sesuai dengan kenyataan. Banyaknya perguruan tinggi yang tiap tahunnya meluluskan ribuan mahasiswa membuat lapangan perkerjaan kian menyempit.

Para lulusan perguruan tinggi seharusnya dengan ide yang kreatif dan inovatif dapat menciptakan lapangan perkerjaan sendiri seperti contoh dapat menjadi wirausahawan sejak di bangku kuliah. Dengan itu, membuat mereka tidak bersusah payah dalam mencari pekerjaan setelah lulus. Dengan meneruskan usaha yang digeluti selama menjadi mahasiswa, cukup menjadi bekal sarjana baru dalam menghadapi tantangan kedepan.

Tantangan yang dihadapi oleh para sarjana baru begitu kompleks seperti yang telah dipaparkan diatas. Apabila ia tak memiliki bekal dan kelebihan, para sarjana baru akan kalah saing dengan pekerja asing dari berbagai negara yang juga bekerja di Indonesia dalam era MEA ini. Sehingga apabila hal tersebut terjadi, tingkat pengangguran semakin meningkat serta akan muncul permasalahan baru dalam kehidupan sosial ekonomi di Indonesia.

Penulis : Shumini Ayu dan Siti Widi Ayuningtias

Editor : Herman Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *