Omah Munir : Ngobrol Sejarah Lewat Film

Sebagai wujud menolak lupa dan merawat ingatan 12 tahun kematian Munir, Omah Munir sebuah museum Hak Asasi Manusia (HAM) mengadakan acara “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan”. Munir sendiri merupakan aktivis HAM yang telah dibunuh. Selama kurun waktu 12 tahun ini negara tidak mampu mengungkap aktor dari pembunuhan Munir. Kasus HAM ini dibiarkan menguap oleh negara dan seakan sengaja dilupakan. Terbukti meskipun negara sudah membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) dalam usaha pengungkapan pelaku pembunuhan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2005 silam, sampai sekarang hasilnya tidak pernah dipublikasikan.

Kasus Munir ini menjadi bukti bahwa negara tidak mampu menjamin hak-hak rakyatnya khususnya Hak Asasi Manusia. Bahkan orang-orang yang  pernah terjerat sebagai pelaku kejahatan HAM justru sekarang mendapatkan kursi jabatan dalam pemerintahan negara. Senjakala HAM terjadi, peran penjahat kemanusiaan melenggang, menyelinap, manangkis, dan bahkan secara terang- terangan menduduki jabatan publik. Tidak pernah ada koreksi atas kejahatan masa lalunya.

Untuk itu dalam usaha merawat ingatan kasus-kasus HAM, Omah Munir mengadakan pekan merawat ingatan dengan acara nonton dan diskusi bareng film dengan tema kasus pelanggaran HAM. Membicarakan sejarah pelanggaran HAM melalui film menjadi cara asik tersendiri dalam berdiskusi dan memantik semangat kaum muda khususnya. “Melalui film atau audiovisual juga dapat memantik spirit gerakan mahasiswa,” tutur Redy Eko seorang seniman serta wartawan TV yang menjadi salah satu pembicara, malam itu (10/11).

“Ruang- ruang dokumentasi berupa audiovisual perlu disebar luaskan agar tidak hilang, dalam konteks mencatat sebuah sejarah salah satunya tokoh Munir.” Imbuhnya. Pada hal ini film memiliki peran penting dalam merawat ingatan masyarakat pada kasus- kasus pelanggaran HAM. Ada 2 film yang diputar pada  malam itu, yang pertama film garapan Dandhy Dwi Laksono yang berjudul “Kiri Hijau Kanan Merah”. Film dengan durasi 45 menit tersebut menceritakan kisah Munculnya keberanian Munir. Dimulai dari masa kecil hingga dia tutup umur. Dengan menghimpun data dari sejumlah orang- orang terdekat Munir, seperti sahabat di bangku pendidikan, organisasi, guru, dan keluarga.

Sedangkan film yang kedua garapan Riri Riza dengan judul “Tuti Koto: A Brave Women”, film dokumenter perjuangan seorang ibu dalam menelusuri keberadaan anaknya yang dihilangkan paksa pada tahun 1997. Keteguhan seorang ibu yang menuntut keadailan pada negara terekam pada film tersebut. Munir juga mendampingi perjuangan Tuti Koto menguak tabir penculikan dan mendorong pemenuhan keadailan. Hingga hasil keputusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman kepada pelaku hanya 1 tahun 8 bulan, hal itu membuat Tuti Koto merasa kecewa. Pada akhirnya dia menilai bahwa “NEGARA INDONESIA INI ADALAH NEGARA YANG TIDAK PUNYA HUKUM”.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *