FTP Resik Kurang Sarana Prasarana dan Minat Sivitas Akademika

JEMBER, Manifest – Kompetisi FTP Resik saat ini sedang dalam proses rekapitulasi nilai. Kompetisi yang dimulai sejak disosialisasikan pada Februari 2016. Elida Novita selaku koordinator panitia FTP Resik mengatakan bahwa setelah liburan, seluruh nilai dapat masuk dan bisa langsung dipublikasikan sebagai bahan evaluasi. “Mudah-mudahan bisa selesai,“ jawabnya saat ditemui di Laboratorium Teknik Pengendalian dan Konservasi Lingkungan (Lab. TPKL) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) pada Selasa (21/06).

Elida juga mengatakan bahwa selama ini pelaksanaan Kompetisi FTP Resik menemui beberapa kendala. Salah satunya terkait kurangnya sarana dan prasarana pendukung. “Waktu pencanangan sosialisasi FTP Resik ini kita minta ada tempat sampah di setiap lantainya, peralatan kebersihan seperti sapu juga harusnya ada. Selain itu kita juga minta di setiap ruang dipasangi banner peringatan,” ujar Elida.

Elida menegaskan bahwa sarana dan prasarana merupakan tanggung jawab dari Sub Bagian Umum dan Perlengkapan FTP UJ. “Coba dicek lagi apabila untuk evaluasi,” tegas Elida. Dari hasil penelusuran yang dilakukan pada Rabu (22/06) di sekitar gedung D FTP UJ, hanya tersedia tempat sampah di sudut gedung. Peralatan kebersihan seperti sapu dan sekrop masih belum tersedia. Banner peringatan juga masih belum dipasang di ruang-ruang.

Kendala selanjutnya menurut Elida yakni pemakaian ruang publik dan kelas. “Namanya juga ruang publik atau kelas yang memakai umum, beda dengan ruang kerja. Kalau ruang kerja kan sudah pasti tanggung jawab dari si pemakai ruangan,” jelasnya. Untuk itu menurutnya kategori pemakaian ruang publik dan kerja ada dua penilaian yakni sebelum dan setelah digunakan. “Jadi apabila setelah dipakai tambah kotor, nah ini yang salah bukan cleaning service-nya tapi penggunanya.” Tambah Elida.

Menurut Andi Bilfahmi, salah satu juri dalam kepanitiaan FTP Resik mengungkapkan bahwa ada empat kategori penilaian ruang, yakni ruang kerja, ruang publik, ruang kelas, dan Laboratorium. “Jadi juri-juri FTP Resik itu dibagi menjadi empat tim untuk menilai sesuai kategori itu,” jelas mahasiswa FTP angkatan 2012 ini.

Secara singkat, Ia menjelaskan bahwa penilaian FTP Resik meliputi kebersihan pintu, ventilasi, jendela, pojok-pojok ruangan, atap, korden jendela, kursi, serta masih banyak lagi. Namun, Andi menekankan bahwa penilaian tidak hanya mengambil dari aspek kebersihan saja. “Jadi kata ‘Resik’ itu tidak hanya dalam arti kebersihannya saja, namun juga dilihat dari aspek kenyamanan serta kapasitas penggunaan ruangan juga,” ungkap Andi.

Andi juga menyinggung kurangnya minat dari sivitas akademika yang ada di FTP dalam menjalankan kompetisi FTP Resik ini. Menurutnya sivitas akademika seperti dari dosen, teknisi, staf, dan mahasiswa masih belum peka dan belum malaksanakan kegiatan itu, padahal sebelumya sudah ada sosialisasi. “Nah ini yang masih ambigu, apakah sosialisanya yang kurang atau kesadaran dari sivitas akademikanya yang kurang,” ungkapnya.

Oriza Krisnata, mahasiswa FTP angkatan 2014 juga mengatakan bahwa program ini hanya terlihat dilakukan di awal-awal saja setelah sosialisasi. “Pertama-tama itu gencar dilakukan pemeriksaaan, penilaian, dan pengecekan. Namun semakin lama, sudah terlihat lagi penilaiannya,” ungkap Oriza saat ditemui di lingkungan kesekretariatan FTP UJ (22/06).[]

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *