Typo Tak Sebercanda Itu

Saya tidak sengaja melihat poster kegiatan dari mahasiswa  FTP UJ terpampang di beranda media sosial –facebook tepatnya. Awalnya, saya mengira akibat kelelahan setelah beraktivitas seharian dan kurang konsentrasi. Namun, ketika memastikan kembali ternyata saya tidak salah. Memang salah satu kata yang menjadi judul pada poster tersebut salah.

Segera saja saya mengirim pesan kepada pemilik akun yang mempublikasikan poster tersebut. Saya mengasumsikan dia adalah salah satu dari panitia acara tersebut. Sebagai tambahan saya lampirkan hasil temuan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Harap saya, bisa langung mendapat tanggapan dari sang empu. Tapi, ternyata ekspektasi memang tak seperti yang diharapkan.

Jujur saja, panitia berhasil membuat saya geregetan. Saya coba kembali mengamati poster tersebut secara seksama, terutama dari penulisannya. Hmm, kalian sungguh dahsyat dan super sekali. Entah kalian terlalu banyak piknik, terburu-buru atau menganggap acara tersebut kurang penting karena laporan praktikum lebih penting sehingga ada beberapa kesalahan yang berhasil ditetaskan pada poster itu.

Mungkin Bahasa Indonesia memang bukan menjadi prioritas dalam rumpun ilmu yang kalian pelajari. Kata-kata berbahasa Latin kiranya lebih banyak menyesaki memori otak daripada isi KBBI. Tapi, itu bukan menjadi pleidoi yang bisa dibenarkan begitu saja. Karena kesalahan yang ada di poster tersebut bukan hanya dari kata dalam Bahasa Indonesia saja, tapi juga asing. Silahkan buktikan sendiri.

Saya pun mencoba mengonfirmasikan hal tersebut pada salah satu mahasiswa FTP UJ tentang acara tersebut.  Saya sangat terkejut ketika dia mengirimkan sebuah pesan berisi informasi lengkap kegiatan tersebut. Kesalahan kata yang ada di poster nihil, namun ada typo lain yang saya temukan. Malahan kesalahan lain muncul, pada penulisan bulan kegiatan acara tersebut berlangsung, kemajuan satu bulan. Apakah panitia amnesia?

Apakah ini mahasiswa calon S.TP? Padahal kesalahan pada satu huruf saja bisa berakibat sangat fatal. Ambil contoh, kalian berniat menulis nabi, namun ternyata jari terpeleset sehingga menjadi babi karena posisi huruf b dan n bersebelahan. Bukankah kesalahan fatal tersebut bisa danggap sebagai hinaan dan belum lagi bisa menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan.

Seingat saya selama belajar di kampus yang sekarang kalian tempati itu, sejak maba sudah diajarkan untuk teliti. Membuat seminimal mungkin bahkan nihil kesalahan, terutama dari segi penulisan. Apa lagi jika bukan dari laporan? Yang selalu kalian kencani setiap hari. Kalian jadi tidak punya waktu luang karena hal tersebut.

Bersyukurlah, kesalahan tersebut memang tidak bisa dikambinghitamkan pada salah satu orang. Namun kesalahan menjadi milik bersama, organisasi dan institusi yang terpampang di pojok kanan atas poster. Saya tidak bisa bayangkan, betapa tersayat-sayat hati dan perasaannya. Pasalnya, yang terlibat aktif dalam naungan logo yang terpasang sangat berharap tidak bertepuk sebelah tangan. Nyatanya, justru berkebalikan.

Saya rasa kalian semua pasti memiliki seperangkat telpon pintar. Tak ada salahnya untuk memasang perangkat lunak KBBI atau kamus bahasa asing. Toh juga gratis, apalagi jika kalian bisa memanfaatkan fasilitas wifi kampus yang tanpa bayar. Jangan hanya dipasang tapi juga manfaatkan dengan baik. Saya berani sumpah, masih mahal cilok yang menjadi kudapan favorit warga Jember. Saya rasa cilok lebih banyak mudaratnya daripada perangkat lunak yang saya sarankan.

Mahasiswa kebanggaan FTP, membuat acara bahkan typo bukan sebercanda itu. Perlu keseriusan, kematangan konsep dan persiapan yang matang. Termasuk dalam hal penulisan dan publikasi yang mungkin terlihat sepele. Eksekusi dan evaluasi juga jangan sampai dilupakan. Saya khawatir saat kalian sebercanda ini dalam menggarap acara juga typo, lantas bagaimana nantinya saat menghadapi kelulusan?

Penulis : Yudha Lutfi Fitrianto

Editor   : Amien Rosyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *