Akademi Kuliner dan Patisseri Ottimmo Internasional Surabaya Apresiasi FTP Fair

JEMBER,Manifest – Akademi Kuliner dan Patisseri, Ottimmo Internasional Surabaya mengapresiasi gelar produk dalam acara FTP Fair yang diadakan oleh mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2013 pada Selasa (17/5). Anton selaku perwakilan dari Akademi Kuliner dan Patisseri, Ottimo Internasional Surabaya dan dewan juri mengatakan bahwa gelar produk seperti ini harus sering diadakan. Pada saat mahasiswa diajarkan membuat, meneliti, dan menciptakan tanpa disampaikan ke publik dan pasar akan percuma. “Gak hanya bisa bikin produk tapi bisa jualan juga,” tambahnya.

Berdasarkan hasil penilaian dari dewan juri yaitu Akademi Kuliner dan Patisseri, Ottimmo Internasional Surabaya dan PT. Mitratani Duatujuh didapatkan juara 1, 2 dan 3 di gelar produk kali ini. Untuk juara favorit dipilih dari produk yang paling diminatai oleh pengunjung. Juara favorit diraih oleh produk Crepes Mo yang merupakan produk tefavorit yang dipilih oleh seluruh pengunjung yang hadir.

Juara 3 diraih oleh produk Getuk Mini. “Getok mini bisa memadukan rasa dan penampilan bisa getuknya tidak terlalu manis dan bisa diimbangi dengan coklatnya,” kata Anton. Sedangkan untuk juara 2 diraih oleh produk Edible Cup. Anton mengatakan bahwa konsep dari produk tersebut sangat simple tapi dari simple itu yang membuat susah. “Tidak semua orang bisa mikir kayak gitu,” tambahnya. Sedangkan untuk juara 1 diraih oleh produk Te-caf. “Produk ini bisa dinikmati oleh semua orang. Dibentuk chip. Dan nanti bisa dikembangkan ke berbagai olahan pangan,” tambahnya.

Anton berkata “Mahasiswa antusias dalam gelar produk.” Konsep dari gelar produk sudah bagus tapi eksekusinya yang kurang. Anton juga mengatakan bahwa untuk eksekusi yang baik membutuhkan jam terbang termasuk rasa dan packaging serta pameran seperti ini sebaiknya ada di satu ruangan dan masing-masing menceritakan produknya. “Jadi kami lama menjurinya karena harus Tanya satu satu . jadi bisa dilihat bagaimana membuat produk dan bagamana cara menjualnya,” tungkasnya.

Anton juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber makanan yang beragam. Membuat produk harus bisa diserap oleh masyarakat. Tidak luput memperhatikan kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia. Harus bisa menedukasi masyarakat secara bertahap dan mengikuti kebiasaan konsumsi masyarakat. “Mengedukasi masyarakat secara pelan-pelan harus bertahap dan mengikuti kebiasaan dari kebiasaan kemudian dikenalkan,” imbuhnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *