Mengenalkan Budaya Berdiskusi Melalui Diskusi Film

JEMBER, Manifest- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest mengadakan acara nonton dan diskusi Film “Kasepuhan Ciptagelar” di ruang 9 Gedung D Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) pada Kamis (12/05). Acara ini termasuk dalam serangkaian kegiatan dari Open Recruitment (oprec) calon anggota magang LPM Manifest bagi mahasiswa FTP UJ angkatan 2014 dan 2015. Pendaftaran oprec ini sendiri dibuka mulai tanggal 9-16 Mei 2016.

Pemimpin Umum LPM Manifest, Amien Rosyadi mengatakan tujuan dari acara ini adalah untuk mengenalkan Manifest ke khalayak umum, terutama bagi calon anggota magang LPM Manifest. “Jadi cara mendekatkan Manifest ini dengan acara seperti diskusi film,” ungkap Amien. Menurutnya, dengan terselenggaranya acara ini dapat menumbuhkan sikap kritis dari calon anggota magang terkait isu yang didiskusikan. Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan kepada calon anggota magang terkait salah satu kerja-kerja dan budaya pers mahasiswa yakni berdiskusi, selain menulis dan membaca. “Diskusi film ini sengaja mengambil tema pertanian yang sesuai dengan bidang FTP dan mengenalkan budaya berdiskusi di LPM Manifest,” tambah Amien.

Salah satu peserta diskusi, Fila Adilia juga mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh LPM Manifest ini. Ia berpendapat, dari nonton dan diskusi film ini dapat menambah pengetahuannya dalam hal jurnalistik dan bidang keilmuan di FTP. “Selain seru, saya juga dapat pengalaman baru,” tambah Fila.

Film “Kasepuhan Ciptagelar” sendiri merupakan salah satu karya dari Rumah Film “Watchdoc” dalam rangakaian ekspedisi “Indonesia Biru”. Film ini mengisahkan tentang  kehidupan warga Kasepuhan Ciptagelar dengan warisan bercocok tanam dari leluhurnya yang masih dipertahankan hingga sekarang. Mereka tidak menggunakan alat atau mesin pertanian modern dan bahan-bahan kimia. Mereka juga mempunyai pantangan untuk menjual hasil panennya karena dengan menjual padi sama dengan menjual hidupnya. Meskipun panen padi mereka hanya dilakukan setahun sekali, tetapi cadangan berasnya bisa bertahan sampai tiga tahun untuk kurang lebih 28.000 jiwa. Berbanding terbalik dengan panen padi di Indonesia rata-rata 3-4 kali dalam setahun dan hanya bisa mencukupi kebutuhan pangan akan beras selama 6-8 bulan saja. Selain itu, mereka tidak menutup diri untuk menggunakan teknologi. Meskipun terletak di daerah terpencil di Jawa Barat namun mereka sudah bisa menghasilkan listrik sendiri dengan menggunakan turbin buatan sendiri dan solar sel, bahkan sudah mempunyai stasiun televisi sendiri bernama CIGA TV yang menayangkan kegiatan-kegiatan dari warga Kasepuhan Ciptagelar.[]

Herman Setiawan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (FTP UJ) angkatan 2014. Aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest FTP UJ. Saat ini sedang menjabat sebagai Staff Redaksi LPM Manifest 2017-2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *