Sejarah, Kenangan, dan Origami

Teringat kata Goenawan Mohammad (GM) tentang sejarah. Bahan penyusun sejarah adalah kertas: ingatan. Tak pernah solid dan stabil serta mudah tertiup angin.

Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah. Kita yang menemukannya juga berubah: dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah; kertas itu sendiri sedang jadi lecek atau sumbing, lembap atau menguning.

Ia berkata bahwa penulis sejarah yang baik adalah ia yang tau bahwa ia adalah seorang penggubah origami.

“Origami, di situ, mengandung dan mengundang perubahan. Berbeda dengan kirigami, ia dilipat tanpa direkat ketat dengan lem atau dijahit mati. Ia bernilai karena ia sebuah transformasi dari bahan tipis dan rata jadi sebuah bentuk yang kita bayangkan sebagai, misalnya, burung undan. Dan pada saat yang sama, ia mudah diurai kembali. Begitu juga penulisan sejarah: ia bernilai karena ia mengandung pengakuan, masa lalu sebenarnya tak bisa diberi bentuk yang sudah dilipat mati.”

Bagiku, Jepang adalah negeri penggubah origami terbaik. Sebuah negeri yang mampu mengumpulkan kertas-kertas yang tertiup angin. Memungut dan menyusunnya kembali dalam sebuah buku untuk kemudian diceritakan pada anak cucu.

Aku merasakannya saat hari ini aku jalan-jalan ke Memorial Peace Park of Hiroshima. Sebuah tempat wisata yang berisi museum dan taman untuk mengenang tragedi bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Ya. Tepat 11 hari sebelum Indonesia merdeka. Tampak dari luar, bangunan modern berdiri dan terlihat satu bangunan tua yang masih diabadikan sebagai sisa-sisa puing bangunan yang hancur karena bom.

Sekilas nampak seperti taman yang menyenangkan dari luar. Tapi begitu memasuki museum suasana menjadi mencekam. Awal masuk kami disuguhi foto-foto hitam putih letusan bom yang berbentuk seperti jamur. Masih belum terasa, aku masih sempat mengambil foto diriku di depan foto. Begitu berjalan semakin dalam, ada benda sisa-sisa bom yang diabadikan. Oleh karena itu aku berkata bawa Jepang adalah penggubah origami yang terbaik. Ia mampu mengumpulkan puing-puing sejarah, menyusun, dan menceritakan sejarah pada orang-orang yang sama sekali tak berada di sana untuk menyaksikan secara langsung.

Satu bagian di dalam museum yang sangat mengerikan adalah sebuah patung dengan latar tembok batu bata dan di depannya berdiri beberapa orang dengan pakaian compang camping, darah, dan luka akibat bom. Sorotan lampu berwarna merah pada patung membuatnya menjadi semakin hidup. Sangat mengeringkan. Tak ada satupun orang-orang di sana yang tertawa. Mereka tampak prihatin dan sedih melihat setiap inchi isi museum itu. Begitu pula aku.

Sebuah miniatur kota yang terkena radius bom atom Hiroshima terpampang di tengah ruangan. Terlihat bola berwarna jingga sebagai pusat jatuhnya bom. Hamparan tanah coklat di bawahnya adalah daerah yang terkena radius bom atom. Bom atom ini mampu menghancurkan Hiroshima hingga radius 2,75 km dari pusat ledakan serta membunuh sekitar 350.000 jiwa termasuk di dalamnya penduduk lokal, China, Asia Tenggara, dan tahanan perang Amerika.

Satu hal yang membuatku bergidik ngeri adalah melihat ada banyak pakaian-pakaian korban ledakan yang masih tersimpan rapi dalam etalase lengkap dengan cerita sang empunya pakaian. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang memakai seragam sekolah. Membaca cerita dan melihatnya membuatku ngeri dan mual. Seolah aku disana menyaksikan para korban langsung di saat kejadian. Bahkan ada patung kepala Budha di kuil yang masih utuh dan sempat diabadikan di dalam museum. Masih banyak lagi gambar-gambar mengerikan, tapi itu sudah cukup untuk menakut-nakutiku.

Sebuah bangunan dibangun sebagai simbol perdamaian. Tidak heran ketika pada akhirnya Jepang memilih untuk menjadi negara yang menjunjung tinggi perdamaian. Ya, karena ia tidak ingin mengulang kembali sejarah. Sungguh negara yang belajar dari sejarah dan menghargai sejarahnya.

Sebuah cerita dari tugu yag berdiri tegak dengan seorang gadis yang berdiri membawa burung di atasnya. Sensei bercerita bahwa ada seorang gadis korban bom atom berusia 10 tahun yang selamat dari bom. Tapi ia menderita kanker akibat radiasi bom. Dua tahun kemudian ia meninggal. Setelah itu ia diabadikan dalam sebuah monumen dan setiap anak-anak sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama yang mengunjungi monumen itu membawa origami berbentuk burung sebgai bentuk simpati dan doa. Burung menjadi perlambang perdamaian dan mereka membunyikan lonceng dan berdoa memohon kedamaian.

Kata bang GM, manusia memerlukan patung untuk mengingat sejarah yang membuat kita memandang masa lalu sebagai bentuk yang disederhanakan dan diperindah seperti origami.

Bagiku kenangan tak ubahnya sejarah. Kenangan juga sejarah. Tapi bagiku kenangan justru seperti kapas. Lebih tipis dan ringan daripada sejarah. Untuk itu aku menulis kapas-kapas itu agar walaupun berterbangan, aku masih bisa mengingatnya dengan membaca tulisanku. Begitu pula dengan sejarah. Sejarah yang tak ditulis akan terbang bersama angin dan akan hilang seiring menuanya ingatan manusia. Karena kata Pram selama orang tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. [DINA]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *