Mengintip Kekayaan Alam yang Tersembunyi

Banyuwangi, salah satu kabupaten di daerah jawa timur yang memiliki banyak wisata alamnya. Salah satu tempat wisata alam yang masih belum banyak diketahui pengunjung yaitu kawah Bulan Sabit. Tempat ini terletak di sebelah gunung Ijen. Kawah Bulan Sabit memang belum diketahui oleh banyak orang karena medan yang sulit untuk dilewati.
Pada hari Jum’at, saya bersama lima teman saya yaitu Trio, Widy, Maruf, Reyaz dan Wildan merencanakan keberangkatan menuju kawah Bulan Sabit. Tak lupa segala keperluan telah disiapkan. Kami berangkat dari Jember menuju kawah Ijen pada 05.00 WIB. Setelah melakukan perjalanan selama3 jam, akhirnya kami tiba di paltuding. Perjalanan kamipun terus berlanjut menuju puncak kawah Bulan Sabit karena medan yang sulit bila kondisi mulai gelap. Pada pukul 10.00 kami sampai di kawah ijen dan mencoba mencari jalan menuju kawah Bulan Sabit. Perjalanan kali ini hanya bermodal nekat karena kami semua tidak ada yang mengetahui jalan menuju tempat tersebut. Rasa putus asa sempat melanda kami karena kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut. Jalan yang akan dilewati pun menjadi tidak terlihat namun perjalanan terus berlanjut menuju bnteng tua di puncak Ijen. Di tempat itu, kami duduk sembari memikirkan cara mencapai kawah Bulan Sabit.
Sepuluh menit kemudian, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah Bulan Sabi. Kabut tebal masih menyelimuti sehingga menyulitkan mencari jalan. Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 WIB dan kami semakin bingung setelah itu saya berpisah dari rombongan saya mencoba mencari jalan, dan hasilnya tidak sia-sia akhirnya saya menemukan jalan menuju kawah bulan sabit dan saat itu juga saya berteriak kepada teman-teman kalau saya menemukan jalanya, kami pun mulai bersemangat setelah menemukan jalannya. Saat itu juga kami langsung bergegas mengikuti jalan itu tak lama kemudian kami mendengar suara teriakan entah darimana lalu kami terdiam.
Lalu kami mencoba berteriak untuk memastikan asal suara tersebut lalu suara tersebut muncul lagi dan ternyata suara itu berasal dari pendaki yang hendak turun dari kawah bulan sabit, lalu kami berteriak lagi untuk memberitahukan jalan yang harus dilalui oleh kami dan mereka pun memberitahu jalan yang harus kami lewati, setelah itu kami terus berjalan hingga kami bertemu dengan pendaki yang baru saja dari kawah bula sabit dan kami bertanya lagi jalan yang yang harus kami lewati, lalu kami bergegas lagi mengikuti jalan yang sudah dilewati para pendaki tadi setelah itu kami sempat berhenti sejenak untuk minum lalu kami berjalan lagi pada kali ini jalanya berbeda dari sebelumnya, kondisinya kali ini cukup curam dan dan samping kanan dan kiri dipenuhi semak belukar ditambah lagi dengan kondisi berkabut.
Lalu kami sempat terpisah menjadi 2 kelompok karena salah satu dari kami, widy tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan karena kelelahan setelah itu saya menyuruh wildan, maruf dan reyaz terus berjalan, dan saya dan trio menemani widy yang sedang kelelahan. Setelah istirahat 10 menit saya, widy dan trio melanjutkan perjalanan lagi. Kami pun sempat bingung karena terpisah dari wildan, maruf dan reyaz. Dan kami terus berjalan di tengah kabut dan setelah itu akhrnya kami bertemu dengan wildan dkk. Dan kami saat itu juga langsung mencari letak kawah pertama, gunung ini  memiliki 3 kawah dan puncaknya adalah kawah bulan sabit. Setelah itu kami menemukan kawah pertama lalu kami turun menuju kawah pertama dan kami disana bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang mendirikan kemah di tempat itu juga, kami memutuskan unutk mendirikan tenda di kawah pertama dikarenakan saat itu sudah pukul 17.00 WIB dan udara mulai dingin.
Setelah tenda didirikan saya dan kawan-kawan langsung beristirahat karena pada esok pagi kami masih harus melakukan perjalan menuju puncak. Pada 05.00 WIBkami langsung berangkat menuju puncak, perjalanan menuju puncak sekitar 30 menit dari kawah pertama, akhirnya kami sampai di kawah bulan sabit, saya merasa puas bisa mencapai puncak. Tak lupa kami pun langsung berfoto di kawah bulan sabit, aset tersembunyi Banyuwangi. (ALIF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *