Buruh Anak, Sebuah Ironi di Negeri Ini

            Buruh, merupakanpekerjaan yang sering dianggap sebagai profesi orang pinggiran, orang tak punya, dan penuh dengan penindasan oleh penguasa uang. Banyak sudah cerita yang sering kita dengar tentang perjuangan para buruh di negeri ini, mulai dari memperjuangkan hak-hak mereka yang terasa dikekang, penghapusan sistem outsourching, sampai tuntutan untuk menaikkan upah mereka yang dirasa sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Berbagai cara sudah para buruh dilakukan untuk mendapatkan hak-hak mereka, namun hukum dunia disini berbicara, siapa yang mempunyai uang, dia pasti yang akan menang.
Kondisi diatas mungkin sudah biasa kita lihat dan sering dianggap sebagai hal yang wajar. Namun bagaimana jadinya apabila yang mengalami hal tersebut adalah anak-anak ? Sudah pasti di benak semua orang yang masih mempunyai hati nurani akan merasa terpukul. Anak yang semestinya bermain dengan ceria bersama teman sebayanya dan mendapatkan ilmu dari guru di sekolah, malah bekerja keras mencari secercah rupiah hanya untuk terus menyambung hidupnya. Dialah buruh anak, sebuah ironi di negeri sekaya dan sebesar Indonesia.
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman
Sepenggal lirik lagu “Kolam Susu” ciptaan Koes Plus menjadi sindiran keras bagi penguasa dan wakil rakyat di negeri ini yang gagal menjalankan amanat dari pendiri bangsa. Mereka lebih sibuk memikirkan jabatan, harta, atau mungkin wanita simpanan daripada hak-hak dari anak penerusbangsa. Di saat mereka makan di restoran mewah, banyak anak di negeri ini bekerja sebagai kuli bangunan, kernet angkot, sampai menjadi pembantu rumah tangga hanya untuk mencarisesuap nasi yang nantinya akan mengisi perut kosong mereka.
Sebenarnya permasalahan tentang buruh anak sudah diatur dalam undang-undang kita, namun itu terasa hanya kalimat-kalimat panjang saja, tanpa ada implementasi yang nyata untuk perubahan. Pasal 68 UU no 13 tahun 2003 menyebutkan bahwa ada tiga poin penting yang terkait mengenai buruh anak, yaitu pengusaha dilarang untuk memperkerjakan anak, anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun, dan usia minimum warga negara Indonesia yang diperbolehkan oleh pemerintah untuk bekerja adalah 18 tahun. Namun pada pasal 69, 70, dan 71 di UU yang sama, menjelaskan pengecualian bagi anak usia 13 – 15 tahun diizinkan melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial. Kemudian juga anak dengan usia minimum 14 tahun dapat melakukan pekerjaan di tempat kerja yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan dan anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Tapi sebagai makhluk sosial, seluruh pekerjaan yang dilakukan anak-anak, terlepas itu baik ataupun buruk akan mempengaruhi mental serta perkembangan dari anak tersebut kedepannya. Karena setiap anak memiliki hak untuk menikmati masa kecilnya dengan baik, tanpa harus memikirkan materi.
Banyak faktor yang menyebabkan anak “terpaksa” untuk bekerja menjadi seorang pekerja atau buruh anak, diantaranya kemiskinan (ekonomi), pendidikan, serta faktor produksi. Padahal dalam isi konvensi tentang hak anak menyebutkan bahwa ada empat isi yang dalam konteks masalah buruh anak dilanggar, yaitu hak kelangsungan hidup (survival right), hak berkembang (development right), hak memperoleh perlindungan (protection right), serta hak-hak untuk berpartisipasi dalam berbagai kepentingan hidupnya.Peran orang tua terhadap kasus ini juga sangat besar. Dengan dalih alasan ekonomi, banyak orang tua di Indonesia mengabaikan pendidikan anaknya dan malah meminta anak mereka untuk ikut juga membantu perekonomian keluarga. Secara tidak sadar orang tua sedang mengeksploitasi anaknya yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan di masanya.
Efek yang nantinya akan dialami oleh buruh anak sangat kompleks. Perubahan sikap dan mental pastinya akan secara perlahan mempengaruhi kehidupan mereka. Mereka tidak akan menikmati kebahagiaan di masa kecilnya. Belum lagi mereka tidak akan mendapatkan pendidikan dengan baik yang nantinya akan berpengaruh terhadap masa depan mereka. Sungguh ironis apabila anak Indonesia yang bekerja sebagai buruh anak mengalami hal tersebut, padahal mereka adalah penerus bangsa yang sejatinya harus dilindungi, dididik, dan dibina agar negara ini bisa lebih maju.
Masalah ini seakan menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah. Sebagai Negara yang berasaskan pancasila, seperti yang tertuang pada sila ke 5, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga harus dipikirkan bersama bagaimana caranya untuk membuat rakyat sejahtera tanpa harus membuat anak menjadi buruh.
Apapun alasannya, segala bentuk eksploitasi terhadap anak akan menjadi dosa yang ditanggung oleh semua pihak. Masyarakat juga harus ikut membantu pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks ini dengan cara mengubah mindset, bahwa anak-anak harus terus dilindungi, dididik, dan dibina. Apabila pemerintah dan masyarakat sama-sama bahu membahu mengatasi masalah ini, maka buruh anak tidak akan lagi menjadi ironi di negeri ini.[SNTL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *