Membeli Kebahagiaan Dari Pesawat

Kalau tidak ada hotel yang tiba-tiba berdiri di atas sawah kami, kalau tidak ada pesawat yang membawa barang-barang kota, peganglah tangan kami, dan musim hujan datang dengan mantel plastik kelabu, kami akan panen 100 hari lagi, 2 KM jaraknya dari sini. Kau akan merasakan bau beras merah. Beras merah yang tidak memerlukan basa-basi politik untuk kemiskinan. Genggamlah tanganku, tempat matahari menanam Vitamin C. Tidak ada siapa-siapa di tanganku, kecuali vitamin C yang telah berwarna merah.
Jangan lupakan bawang merah-Afrizal Malna, 2013.
Kalau tidak ada revolusi industri, kalau saja manusia tidak berorientasi hanya pada materi-materi, hingga menjadikan kekuasaan menjadi materi dan mencoba mewujudkan semua khayalan manusia menjadi kenyataan. Seperti dalam puisi di atas. Afrizal Malna mencoba menunjukkan, diri manusialah realitas sebenarnya, bukan pada pesawat-pesawat atau hotel-hotel yang menggantikan sawah-sawah. Menanam padi, jagung, atau tanaman pertanian lainnya di sawah, bukan untuk membeli barang-barang yang dibawa oleh pesawat dari kota-kota.

 

Malna, salah satu penyair yang memang dalam puisinya selalu mencoba membawa realitas tubuh yang natural. Ingin mengatakan manusia itu makhluk yang seharusnya selalu menyadari bahwa benda-benda yang tercipta dari mesin produksi bukan untuk membeli kebahagiaan. Kebahagiaan yang pada awalnya bisa dipenuhi dengan segala pemenuhan kebutuhan biologis, kini harus menyertakan TV, HP, sepeda motor, mobil, perhiasan dan pernak pernik industri kapital lainnya.

Penyair dan kebanyakan di antaranya lebih bisa melihat apa yang ada di balik realitas. Semua menjadi tembus pandang sampai pada persoalan paling dasar dari sebuah kolam yang di atasnya terdapat sandal jepit mengapung. Apa yang terjadi sekarang pada jaman yang dikatakan sebagai puncak dari kebudayaan manusia. Saat jarak dan waktu semakin memampat ke dalam genggaman manusia. Saat kebahagiaan didapat dengan uang.
Sistem ini telah terbangun begitu kompleks. Menjadi bangunan raksasa dengan pondasi yang begitu kuat. Hingga menutup pandangan dari orang-orang di sekitarnya. Padahal di balik bangunan itu ribuan orang kehilangan tempat tinggal, kelaparan, miskin, bodoh, bahkan banyak yang sampai menyakiti satu dengan yang lain. Ini adalah analogi dari sebuah rusaknya sistem kultur. Bahwa seharusnya bangunan itu berdiri tanpa harus merugikan banyak orang.
Semua orientasi berubah bukan pada fungsi. Tapi pada realitas kebendaan yang dilahirkan dari sistem kapitalisme. Hingga mengakar menjadi pandangan hidup yang tidak pernah disadari. Bahayanya, ketika pandangan itu menjadi sikap pemimpin dalam menentukan arah kebijakan. Berapa orang yang akan merugi tanpa tahu siapa penyebab kerugian itu. Hingga merusak sistem kultur yang telah lama dibangun.
Secara berlanjut kultur awal digerogoti dari dalam. Dari luar pun penyakit itu tidak nampak berbahaya. Setiap sisi bekerja begitu sistematis meruntuhkan tubuh. Menggantinya dengan kultur kapitalisme. Yang sebenarnya sangat jauh namun begitu dekat dengan sistem hasrat dan dorongan keinginan nafsu manusia.
Kalau tidak ada hotel yang tiba-tiba berdiri di atas sawah kami, kalau tidak ada pesawat yang membawa barang-barang kota,
 “Jember akan diproyeksikan menjadi daerah industri. Coba bandingkan dengan kawasan industri, tingkat pendapatan lebih tinggi, PDRB lebih tinggi, kawasan industri juga mendapat subsidi energi lalu bagaimana dengan kawasan pertanian. Tidak ada subsidi untuk keringat petani,” begitu kata Jalal. Memang suatu niatan yang begitu mulia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jember. Tidak dipungkiri bahwa industri akan menjadikan kota ini semakin bisa bersaing dengan daerah lain.
Hanya saja, ini bukanlah kultur yang sesuai dengan kehidupan Jember. Jember dengan potensi pertanian dan perkebunan. Jember dengan masyarakat yang agamis. Jember yang bercorak pandhalungan dengan berbagai macam kebudayaan yang saling berafiliasi. Jember yang begitu tenang dengan alamnya yang sejuk.
Kemudian secara berangsur akan terintervensi dengan budaya kapital. Meski kini pun secara bertahap, Jember telah berubah. Apalagi dengan bertambahnya mesin produksi dengan skala yang lebih massiv.
Perubahan itu akan lebih cepat mengintervensi dan menghancurkan kultur daerah yang kini sedang dibangun.
Sawah ditanami pabrik. Petani beralih profesi menjadi buruh pabrik yang bekerja selama delapan sampai sepuluh jam sehari. Kota yang dulu sejuk berubah panas. Watak masyarakat akan bertambah keras. Tingkat kriminal meningkat. Meski pendapatan terangkat, beras akan semakin mahal. Semakin mahal pula kebutuhan sekunder dan tersier.
Konsep kebahagiaan
Kalau tidak ada hotel yang tiba-tiba berdiri di atas sawah kami, kalau tidak ada pesawat yang membawa barang-barang kota.
Dalam genggaman tangan pun akan ada vitamin C. Tidak perlu membeli di swalayan, super market atau toko modern lainnya. Kalau saja kebahagiaan tidak beralih pada TV, mobil, dan pernak-pernik kapitalisme lainnya, mungkin senyuman tidak harus dibeli dengan uang.
Sebelum kultur industri itu akan masuk, identifikasi Jember sebagai kota agraris, kota budaya, kota santri, dan kota yang sejuk itu, ternyata belum membuka mata pemimpin daerah ini. Semua seakan didasarkan pada bentuk kesejahteraan semu. Kebahagiaan yang telah teracuni hasrat dan keinginan yang tidak akan pernah bisa dipenuhi.
Seberapa besar harapan dan upaya mencari kebahagiaan. Seberapa kuat upaya untuk membeli segala macam material dari mesin produksi tidak akan pernah bisa mencukupi hasrat dari manusia. Seperti itulah yang dikatakan oleh Nietzsche, seorang filusuf Jerman abad 19. Manusia hanya akan memenuhi dorongan-dorongan hasrat dan keinginan yang tidak akan pernah habis.
Kebahagiaan dapat dicapai bukan dengan mencari pemenuhan hasrat. Seperti yang dikatakan Immanuel Kant, melainkan dengan hidup yang bermoral. Kebahagiaan yang terdalam terletak pada kehendak baik yang ada di dalam diri manusia, ketika ia bertindak secara moral. Kebahagiaan bukanlah soal perasaan puas ataupun harmoni diri, melainkan soal bertindak dengan rasionalitas, kejernihan, dan keteguhan pada nilai-nilai moral yang ada. Jadi kebahagiaan bukan hanya soal memuaskan kepentingan diri semata, tetapi soal hidup berdasarkan nilai-nilai moral yang jelas, jernih, dan rasional. Tanpanya orang tidak bisa menjadi manusia yang utuh. Pada cara berpikir ini, kebahagiaan dan moralitas adalah satu dan sama.
Kemudian kalau itu terjadi…
musim hujan datang dengan mantel plastik kelabu, kami akan panen 100 hari lagi, 2 KM jaraknya dari sini. Kau akan merasakan bau beras merah. Beras merah yang tidak memerlukan basa-basi politik untuk kemiskinan. Genggamlah tanganku, tempat matahari menanam Vitamin C. Tidak ada siapa-siapa di tanganku, kecuali vitamin C yang telah berwarna merah. [ctr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *