Sekolah Bermain di Kaki Gumuk

Satu tempat menjadi tujuan perjalanan untuk mengisi hari di tengah rutinitas. Sekaligus bermanfaat dalam mengakumulasikan sebuah kontribusi terhadap perubahan masa depan. Untuk bangsa ini, dari harapan anak-anak kecil, penerus generasi dan penyambung harapan kemerdekaan negeri ini.
***
Sekolah bermain tidaklah tempat yang sulit ditemukan. Sekolah ini berada di kaki gumuk Kerang. Gumuk terbesar di Jember. Satu setengah kilometer dari kampus Universitas Jember. Dari jalan Jawa ke arah timur sampai pertigaan Prosalina, kemudian ke arah selatan lewat jalan Karimata. Ada pertigaan sebelum kampus Universitas Muhammadiyah Jember. Ke arah kiri masuk jalan Semeru. Lurus saja sampai 500 meter. Nah, di sebelah kiri jalan, vinyl berukuran satu meter kali 30 senti bertuliskan Sekolah Bermain dan disertai tanda panah menuju lokasi. Dari situ hanya 50 meter berselang. Jalan tanah, rumah-rumah semi permanen tak beraturan, rimbun pepohonan mengantar kami di Sekolah Bermain.
Semeru, sebuah perumahan menengah, begitu rapi. Berbeda dengan kawasan rumah di kaki gumuk Kerang. Saat perjalanan ke sana seakan ada tembok kasat mata yang membelah dua kawasan itu. Sebelah kanan jalan aspal dan di sisi jalan lain, jalan tanah menghubungkan satu rumah dengan rumah lain.
Dekat Dengan Alam
Siang itu matahari begitu terik. Tapi beberapa anak, sekitar 15 anak tetap bermain. dakon, karambol, badminton, gitar, drum kecil, ada yang berlarian, dan juga masak-masakan menggunakan wadah bekas cat. Dua orang dewasa terlihat menemani mereka, kak Dani dan kak Jabil. Mereka adalah kakak-kakak yang konsisten berbagi dengan anak-anak di Sekolah Bermain.
Tiga bangunan sekolah terbuat dari kayu. Semua beratap jerami. Pertama kali, mata kami tertuju pada salah satu bangunan dengan enam tiang kayu, beralaskan plesteran. Plesteran itu berjarak setengah meter dari tanah, terlihat seperti panggung. Di sana “aula”-nya.
Bangunan yang berada di depannya, terdiri dari dua ruangan. Sebelah dekat “gerbang” masuk, sama seperti bangunan pertama, tapi lebih kecil. Ruangan kedua berdinding gedek sebagai tempat menyimpan berbagai peralatan dan juga buku-buku. Di dindingnya banyak sekali gambar warna-warni. Ada gambar bunga, pelangi, tokoh-tokoh kartun, jamur, dan beberapa gambar lain. Pada waktu pembukaan semua orang bersama-sama menggambarnya, termasuk juga anak-anak.
Bangunan ketiga sama juga berdinding gedek, dan bergambar yang difungsikan sebagai gudang. Sederhana sekali. Latarnya tanah. Jika hujan datang, tanahnya akan sangat becek, dan jalan-jalan di depan sekolah bermain juga tidak jauh dari kondisi latar itu.
Kami menemui pengelola Sekolah Bermain, akrab dipanggil Cak Oyong. Sekolah Bermain ini sebenarnya sudah dimulai sejak satu tahun lalu. Namun pembukaannya baru bulan Juli 2013 kemarin. Banyak anak yang antusias di sini. Pada waktu pembukaan saja ada sekitar 30 anak dari perumahan sekitar datang untuk khusus pembukaan acara.
Tujuan didirikannya Sekolah Bermain ini menurut Cak Oyong sangat sederhana. Dia ingin dengan Sekolah Bermain, pemuda-pemuda Jember bisa berkontribusi dalam pendidikan. Terlebih pada hal-hal yang menjadi minat para pemuda. Mereka bisa lebih aplikatif dan mengajarkannya pada anak-anak.
Tempat yang berada di bawah kaki gumuk Kerang ini juga menjadi anugerah dari tuhan yang tidak disangka. Cak Oyong juga merupakan aktifis yang peduli lingkungan. Gumuk juga tentunya akan mengajarkan pada anak-anak tentang pendidikan lingkungan. Pendidikan yang mengarah pada kelestarian lingkungan. Sekolah Bermain bisa menjadi tempat teman-teman komunitas pecinta alam dalam menyuarakan pelestarian gumuk yang selama ini telah dieksploitasi tanpa pernah memperhatikan dampak yang akan terjadi bila gumuk habis.
Kebanyakan yang sering bermain di sini anak-anak yang berasal dari perkampungan. Tidak hanya rumah, hubungan antar anak perkampungan-perumahan pun seakan mempunyai jarak. Anak perkampungan lebih aktif dan mudah akrab dengan teman lain, dibanding anak-anak perumahan yang cenderung malu-malu.
Di sekolah bermain mereka diajak untuk berbagi dan bersosialisasi. Meski ada jarak dari anak-anak baik perumahan maupun perkampungan, tapi diharapkan nantinya mereka bisa membaur. Dan menjadikan anak-anak tumbuh dengan normal, bebas dan bermain dengan asyik tanpa batasan yang membelenggu kehidupan kreatifitas maupun sosial mereka.
“Tadi diajak temen-temen,” kata Dea salah satu anak Sekolah Bermain yang mengaku tahu karena ajakan teman-teman satu sekolahnya.

Para pengajar pun bukanlah orang-orang yang profesional. Kebanyakan para pengajar adalah para volunter atau relawan. Tidak ada syarat khusus, asalkan mereka mau berbagi dengan anak-anak. Ikut bermain dan belajar dengan mereka. Karena pada dasarnya anak-anak suka diajak bermain. Tidak memilah-milah dengan siapa, pokoknya mau ikut bermain dengan sungguh-sungguh, anak-anak akan menerimanya.

Kurikulum di sini masih belum tersusun dengan baik. Namun, semua komunitas diajak untuk mengisi dan berbagi dengan anak-anak sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Teman-teman dari kesenian berbagi untuk belajar musik, lukis, tari. Teman-teman dari pers mahasiswa berbagi dalam menulis, cerita, dan puisi.
Ada juga dari teman-teman yang punya bisnis kreatif. Mereka berbagi caranya membuat kerajinan tangan,  mengajak bereksperimen dari tanah dan lain-lain. Dan juga temanteman dari pecinta alam bisa lebih fokus terhadap pendidikan lingkungan, karena memang tempatnya sangat sesuai sekali. Berada di bawah gumuk, di tengah isu kelestarian gumuk yang terancam habis karena eksploitasi.
Di tengah isu industrialisasi Jember, melihat Sekolah Bermain yang berada di kaki gumuk Kerang ini seakan memberikan ironi. Perkampungan dan gumuk seakan jauh terpisah dan berjarak dengan kehidupan sosial masyarakat menengah ke atas. Apakah nantinya mereka dapat juga ikut sejahtera dengan adanya industri? Tidak ada yang bisa menjamin. Padahal potensi alam memberikan pendidikan yang kuat terhadap perkembangan manusia.
Kami melihat beberapa anak bermain tanah, berlarian di tengah pelataran tanpa merasakan panas terik matahari. Mereka dilindungi oleh rindang pohon dan tegapnya gumuk. Setiap jengkal mata memandang merasakan teduhnya warna hijau dan juga semilir angin berhembus menyegarkan keringat-keringat yang keluar saat bermain.
Industrialisasi mampu menghadirkan pendidikan yang berorientasikan uang. Seperti maraknya eksploitasi gumuk selama ini. Padahal nilai fungsi gumuk jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai ekonomis yang diberikan. Satu gumuk rata-rata seharga 200 juta rupiah, itu akan habis dalam hitungan tahun. Namun fungsi gumuk sebagai pemecah angin, tipologi iklim, dan sebagai tempat vegetatif tumbuhan endemik akan selalu berguna untuk selamanya. Pada akhirnya money oriented itu akan menginisiasi maindset anak-anak untuk berlaku konsumtif. Jika tidak bisa mengikuti mereka akan semakin termarjinalkan, semakin jauh dan berjarak dengan dunia.
Melihat Dari Gumuk Tertinggi
Sore hari, selepas bermain dan belajar, anak-anak mengajak kami naik gumuk. Bersama dengan Cak Oyong, kami dikenalkan untuk pertama kali puncak gumuk tertinggi di Jember itu. Berjarak sekitar 100 meter dari Sekolah Bermain kemudian naik 50 meter dengan sudut elevasi hampir 900.
Jalan setapak berkerikil, kiri-kanan semak-semak menghalangi. Cukup melelahkan. Kami pun saling mendukung satu sama lain. “Puncaknya sudah dekat!”, teriak beberapa anak begitu semangat. Kami melihat mereka saling menarik dan mendorong. Kami istirahat beberapa kali untuk menghimpun tenaga kembali. Sekitar tiga puluh menit berjalan dan merangkak kami pun sampai.
Di atas, semak-semak tidak begitu banyak. Seperti sudah dibersihkan, sepertinya oleh orang-orang yang sering muncak di sini. Karena kami melihat ada bekas api unggun.
Pepohonan di puncak yang tidak begitu tinggi, menjadi obyek pemanjatan oleh anak-anak. Mereka begitu riang dan masih saja semangat untuk bermain. Kayaknya rasa lelah hilang oleh asyiknya bermain. Beberapa dari kami pun mengabadikan keriangan mereka.
Kemudian mata kami tertuju pada hamparan di depan kami. Di sekitar kami melihat bumi dari ketinggian yang paling tinggi di Jember. Kami bisa melihat rumah-rumah yang anak-anak tunjuk, itu adalah rumah mereka. Kami pun menunjukkan kampus dan bangunan-bangunan penting di Jember. Kami melihat alun-alun kota, melihat hamparan yang lebih jauh lagi, dan melihat gunung-gunung yang melingkupi. Seakan menjadi tembok pelindung Jember.
Kami merasakan kebanggaan atas gumuk ini. Anugrah yang tidak semua daerah memilikinya. Tapi sayangnya, masih belum banyak orang menyadari arti pentingnya gumuk ini.
Di sini pun kami bercerita dengan anak-anak, tentang bumi ini bulat, tentang hukum grafitasi, dan cerita tentang gunung tertinggi di pulau jawa.
“Gumuk Kerang itu gumuk tertinggi di Jember, kalau gunung tertinggi di Jawa itu gunung Semeru”, kata salah seorang anggota kami.
Mereka begitu antusias dan bertanya-tanya tentang gunung tertinggi itu. Jiwa petualangan mereka tumbuh, mereka mulai belajar tentang arti pentingnya lingkungan. Mereka akan menjadi pribadi yang tangguh di tengah pendidikan berbasis lingkungan.[ctr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *