Pendidikan yang Memiskinkan

Judul                  : Pendidikan yang Memiskinkan

Penulis               : Darmaningtyas
Penerbit              : Galang Press (Anggota IKAPI)
Cetakan              : Kedua Agustus 2004
Halaman             : xiv 303 hlm 19 cm
 
 

 

“Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau kemajuan yang lebih baik”

Demikianlah pengertian pendidikan yang pertama kali di dapat penulis dari kuliah Filsafat Pendidikan yang diberikan oleh Prof. Dr. Imam Barnadib di Fakultas Filsafat UGM. Sering kali kita mendengar kata tersebut, namun orang yang disebut ‘berpendidikan’ sendiri belum tentu tau makna dari kata tersebut. Penulis pun juga tidak begitu paham karena keterbatasan pencarian informasi pada saat itu. Pintar dan mandiri, itulah cara ayah penulis menekankan makna pendidikan. Dimana bersekolah itu bertujuan untuk mencari ilmu agar bisa mencari uang dan agar tidak hanya berebut warisan. 
Namun kedua pengertian tersebut terbangun sebelum adanya pendidikan nasional yang sarat dengan beban ideologis, politik, dan agama. Kondisi ekonomi, sosial dan agama saat itu juga belum begitu kompleks. Saat penulis kecil hegemoni politik belum terasa dan belum masuk sektor pendidikan, sehingga suasana masih kondusif untuk jalannya pendidikan. Demikian pula dengan agama yang masih murni bertujuan untuk mencari kedamaian masing-masing.
Namun begitu memasuki dekade orde baru tahun 1970-an mulai terasa perubahan di sektor pendidikan. Meningkatnya keuntungan dari harga minyak bumi yang melambung tinggi membuat pemerintah mengalokasikan keuntungan tersebut untuk membangun SD Inpres secara besar-besaran diikuti dengan pengangkatan guru besar-besaran. Hal tersebut memang menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Namun pendirian SD tersebut memiskinkan partisipasi masyarakat dalam membangun pendidikan masyarakat yang sudah lebih dulu menyelenggarakan pendidikan tidak diberi ruang yang luas dan tidak didukung, sebaliknya justru dimatikan untuk menunjukkan kekuatan orde baru. Pemerintah juga memberikan stigma yang buruk terhadap mereka yang tidak mendukung SD Inpres yang diidentikkan sebagai pendukung PKI. Masyarakat pun tidak punya pilihan lain selain menuruti pemerintah. Pemiskinan ragam pendidikan tersebut terjadi sampai sekarang.
Menguatnya pemerintah secara fisik dan finansial dijadikan titik pihak untuk melakukan intervensi dalam pendidikan. Melalui intervensi tersebut peran guru makin lama hilang. Guru yang dulunya benar-benar mengabdi untuk pendidikan justru berbalik mengabdi pada kepentingan politis pemerintah.
Darmaningtyas dalam buku ini memaparkan bagaimana rezim orde baru menjadikan pendidikan sebagai kontrol yang baik untuk menahan pikiran liar masyarakat yang akan membahayakan posisi pemerintahan. Pemerintah menjadikan pendidikan sebagai wahana indoktrinasi ideologi. Sadar atau tidak sampai sekarang pendidikan masih terbebani oleh ideologi melalui penguasaan pendidikan. Pengontrolan pemerintah secara fisik dimulai dengan mengganti pelajaran civic dan PMP. Dimana civic lebih menekankan hak dan kewajiban warga Negara serta kewajiban Negara terhadap rakyatnya, sedangkan PMP menekankan pada sikap patuh dan taat terhadap ideologi.
Tiga faktor yang bertanggungjawab atas pemrosotan mutu pendidikan di Indonesia adalah Angkatan Darat, PGRI, dan Golkar. Pemerintah juga menambah beban pendidikan dengan menjadikannya sebagai penopang industri tekstil dan pariwisata melalui program penyeragaman seragam sekolah dan study tour yang bersifat mengikat. Disadari atau tidak program study tour mendidik generasi bangsa untuk foya-foya karena sebagian besar dari acara tersebut adalah rekreasi. Pendidikan juga menjadi penopang industry percetakan, penerbitan, asuransi, sablon, dll.
Tidak pernah disadari bahwa kesalahan mendasar dari sistem pendidikan di Indonsia yang seharusnya menecerdaskan, membebaskan belenggu manusia dari belenggu penindasan, kemiskinan, kebodohan keterbelakangan justru menyengsarakan dan memiskinkan (secara ekonomis, ideologis, poltis, sosial, bduaya, kreatifitas, insiatif, dan partisipasi masyarakat. Akankan pendidikan di Indonesia justru akan memiskinkan rakyatnya jika terus seperti ini? Inilah fungsi penting hadirnya buku yang berjudul Pendidikan yang Memiskinkan karya Darmaningtyas ini.
Dalam buku setebal 303 halaman ini akan memaparkan lebih jelas mengenai bagaimana pendidikan di Indonesia justru akan memiskinkan Indonesia. Diantaranya adalah pemaparan tentang makna pendidikan, pergantian menteri yang diikuti dengan bergantinya kebijakan, kurikulum yang menghapuskan rasa seni, matinya profesi guru, buku yang memperbodoh dan memiskinkan masyarakat, adanya wajib belajar yang masih diragukan antara kualitas dan kuantitasnya, perbandingan antara sekolah unggul dan unggulan, komersialisasi pendidikan, kampus yang terpinggirkan, serta disorientasi perguruan tinggi di Indonesia.
Buku ini menjadi refleksi dunia pendidikan di Indonesia yang tebelit berbagai kepentingan politik. Penulis mengkritik berbagai kebijakan pemerintah dan bagaimana kebijakan itu memberi pengaruh besar atas kemrosotan pendidikan di Indonesia. Kejanggalan-kejanggalan dalam dunia pendidikan dibahas secara rinci dan detail oleh penulis disertai data-data dan argumen yang jelas sumbernya serta dapat dipertanggungjawabkan. Hadirnya buku ini sangat layak untuk di baca utamanya untuk mereka yang peduli akan pendidikan di Indonesia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *