Secangkir Kopi Menjadi Awal Keakraban

Terkadang hidup ini memiliki banyak makna yang sulit di mengerti. Persoalan yang tak kunjung ada habisnya, membuat manusia suka berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang menggelayutinya. Tak hanya dengan  belajar di sekolah, memahami kehidupan pun dapat kita sebut sebagai belajar. Lewat diskusi dari hati ke hati, di sebuah warung pinggir jalanpun kita dapat belajar untuk mengerti.

Kesadaran dari masyarakat sendiri, bahwa sebuah warung yang banyak di naungi oleh pemuda-pemudi biasanya memiliki unsur negatif. Tak terkecuali warung bulek yang terletak di sebelah kiri Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Sering kita ketahui warung kecil tersebut tak pernah lepas dari sekumpulan anak muda yang berkumpul sejak pagi ke pagi. Kondisi warung bulek yang aman dan nyaman membuat para remaja tak pernah bosan menyinggahi warung yang mereka ciptakan 24 jam tersebut. Bahkan selama sehari mereka menyempatkan untuk meminum secangkir kopi untuk mengawali ataupun mengakhiri aktivitas yang mereka jalani. Hanya dengan secangkir kopi disitu, mampu membuat para pemuda tersebut mengantri satu per satu.
            
Mungkin selama ini yang ada dibenak masyarakat, warung tersebut tidak begitu penting dan hanya merugikan saja. Tetapi, dibalik anggapan miring itu semua, warung bulek ternyata mempunyai sesuatu yang membuat para anak muda tersebut betah duduk berjam-jam. Warung yang tak begitu luas tesebut merupakan ajang diskusi para penghuninya. Banyak hal yang bisa menjadi topik pembicaraan, dari konflik sosial sampai masalah pribadi dengan ditemani secangkir kopi yang tersaji. Diskusi yang sering dibicarakan tentunya mengenai masalah yang terjadi di sekitar kita. Dari situlah keakraban mulai terjadi yang akhirnya menjadi latar belakang terbentuknya suatu perkumpulan yang dinamai “Komunitas Warung Bulek”. Hal ini membuktikan bahwa kelompok yang didominasi oleh pemuda tersebut, memang terbentuk secara alami dari secangkir kopi yang harganya pas untuk anak kosan.

Salah satu anggota Komunitas Warung Bulek, mas Aat menyatakan semua orang yang datang lalu lalang ke warung bulek tersebut juga dapat dikatakan anggota Komunitas Warung Bulek. Keakraban yang mereka bentuk dari komunitas tersebut ditandai dengan pembuatan kaos yang mereka kenakan dengan bertuliskan “Buleck Comunity” disertai gambar secangkir kopi pada kaos, yang mengindikasikan keakraban terbentuk dari secangkir kopi.
            
Kelebihan lain yang mereka lakukan yaitu saling mengingatkan satu sama lainnya, saat ada yang melakukan kesalahan. Misalnya saja jika ada pemuda ataupun remaja yang bolos sekolah ataupun kuliah, anggota lain mengigatkan agar kejadian yang sama tidak terulang lagi, hal tersebut sering dilakukan karena mereka sudah beranggapan bahwa mereka semua satu keluarga . Mas Aat juga menambahkan kalau pemuda yang tergabung dalam Komunitas Warung Bulek tersebut memang lebih suka berdiskusi disana daripada tempat lain, karena di tempat itulah komunitas itu terbentuk. Alasan lainnya yaitu mereka menginginkan tempat yang cenderung santai dan enjoy untuk berdiskusi. Jika ditempat formal mungkin mereka tidak akan bisa leluasa mengekspresikan apa yang ada dibenak mereka ataupun meluapkan kata-kata yang benar-benar ingin mereka luapkan.


Tak disangka memang, ternyata warung bulek mempunyai kekhasan tersendiri terutama di mata para pecintanya. Kopi yang menurut mereka nikmat serta diiringi komunitas warung bulek menjadikan warung tersebut lain daripada yang lain. Ditambah kekeluargaan yang terbentuk diantara para pemuda yang sebelumnya tak saling mengenal. Tempat berdiskusi akan terasa lebih nikmat dan nyaman karena adanya keakraban yang mereka dapatkan.[Silvina dan Yudhitya]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *