Hari Bumi: Aksi Penolakan Eksploitasi Tambang

Selasa (22/04) peringatan hari bumi tahunan yang sempat vacum tahun lalu meramaikan lingkungan kampus Jember. Berangkat dari kampus Universitas Muhammadiah (UNMUH) Jember dan berakhir di Double way Universitas Jember (UJ) aksi peringatan hari bumi mendapat perhatian warga dan pengguna jalan. Aksi tersebut dilakukan oleh pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam, kesenian, dan pers mahasiswa dari berbagai Universitas di Jember. 

Febri Arisandi, koordinator lapang yang juga seorang mahasiswa pencinta alam (MAPALA) Universitas Mochamad Seroedji Jember, mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah memperingati hari bumi. Aksi tahun ini berisi sosialisasi penolakan pada eksploitasi tambang di gunung Manggar. “Tema yang diangkat kali ini berbeda dengan tema sebelumnya yang lebih cenderung tentang penyelamatan bumi, untuk tema sekarang adalah tentang penolakan terhadap eksploitasi,” ujar Febri.

Peserta aksi membentuk beberapa barisan, diantaranya barisan banner, jimbe, teater, poster, dan pemungut sampah, ditambah dengan aksi seribu tanda tangan. “Inti dari aksi tersebut adalah untuk menandakan bahwa pemerintah dan masyarakat banyak  peduli dan juga sebagai bentuk penolakan eksploitasi,” tegas Febri.
Kegiatan ini dipelopori oleh MAPALA Jember yang tergabung dalam Forum Ketua Umum (FKU) dan menggandeng berbagai UKM dari universitas di Jember. Menurut Febri, dana yang digunakan untuk menjalankan kegiatan ini merupakan hasil iuran panitia pelaksana tiap sekretariat. “Kegiatan ini murni dana sendiri tidak ada unsur sponsor atau dana lain,” ungkapnya.

Dengan memadati Jalan Karimata, Jawa, hingga Kalimantan, aksi tersebut berjalan dengan damai.  Untuk pengamanan, Febri dan kawan-kawan sudah memberitahukan dengan mengirim proposal kepada pihak kepolisian. Namun  memang dari pihak kepolisian meminta maaf tidak bisa mendampingi karena masih sibuk dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). “Memang kita berani berjalan tanpa kepolisian, karena kita bukan pendemo yang bertindak anarkis. Kita adalah aktivis lingkungan yang ingin menyadarkan masyarakat tentang lingkungan,” tambah Febri.

Aksi tersebut mendapat respon positif dari warga setempat. Karena dapat menyadarkan warga tentang pentingnya pelestarian alam. “Acaranya bagus, untuk pelestarian alam biar ndak gundul. Sudah dua kali melihat kegiatan ini, seingat saya. Senang tadi saya dikasih bibit pohon, tapi saya gaktahu pohon apa. Nanti langsung saya tanam.” ujar Ibu Hasan, salah satu warga saat diwawancarai setelah acara.[Faiz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *