PENITI MANIFEST : Pertemukan beragam Komunitas se-Jember

Alunan musik mengiringi empat penari masuk ke arena panggung. Mereka berlenggok lincah menarikan tari tradisional Jember, yaitu tari Lahbako. Tarian ini dipersembahkan sebagai tari selamat datang untuk berbagai komunitas yang hadir,  dan sebagai acara pembuka dalam puncak PENITI (Pekan Seni Jurnalistik) Manifest malam itu. 
 
Obor-obor kecil  menyebar disekitar arena panggung dan juga tempat duduk yang didesain lesehan untuk para pengunjung. Memberikankan kesan hangat dan intim untuk berbagai komunitas yang hadir pada malam itu.  Sorot lampu par menyala ke arah panggung, memberikan cahaya maksimal untuk sebuah grafity bertuliskan PENITI Manifest yang telah di gambar oleh komunitas Jember Street Art . Sabtu (5/4) itu berlangsung acara puncak dari PENITI (Pekan Seni Jurnalistik) yang diadakan oleh LPM Manifest FTP Universitas Jember. Acara tersebut dilaksanakan di depan gedung dekanat FTP Universitas Jember.  Serangkaian acara PENITI yang telah dilaksanakan sebelumnya adalah pelatihan Kamera Lubang Jarum yang bekerja sama dengan Komunitas KLJ (Kamera Lubang Jarum ) Jember. Selain itu, ada juga lomba cerpen, esay, fotografi yang dirangkum dalam Sayembara PENITI tingkat nasional, dan lomba Mading 3D SMA se-Karesidenan Besuki.  Kemudian  di acara puncak PENITI, LPM Manifest menghadirkan berbagai komunitas di Jember dalam kemasan acara “Talkshow Jurnalisme Komunitas”. Kehadiran tamu-tamu dari berbagai komunitas di Jember ini disesuaikan dengan tema utama dari acara PENITI yaitu “Jurnalisme Komunitas Sebagai Pengembang Potensi Daerah”. 

 

 
Talkshow Jurnalisme Komunitas
Radhiyyan Pratiwi selaku ketua panitia dari acara PENITI (Pekan Seni Jurnalistik), menjelaskan, latar belakang dari pengambilan tema tersebut beranjak dari antusias mereka yang menyadari begitu banyaknya komunitas yang bermunculan di Indonesia. Tidak hanya di kota-kota besar, di berbagai daerah pun komunitas mulai menjalar dan berkawan dengan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama. “Rasanya cukup menarik jika keberadaan komunitas ini di kaitkan dengan peranan mereka yang cukup penting didalam masyarakat. Memang perlu adanya media untuk menghubungkan komunitas-komunitas tersebut dengan masyarakat” ujar Radhiyyan. 
 
Jurnalisme komunitas adalah media jurnalistik yang diusung oleh komunitas untuk menyampaikan informasi yang lebih mendetail mengenai isu-isu yang menjadi keresahan di daerah setempat. Informasitersebutberkaitandengan kegiatan komunitas yang kemudian disampaikan kepada masyarakat umum. Jurnalisme komunitas bisa menjadi media alternatif yang dapat digunakan oleh komunitas untuk mengembangkan potensi daerah nya masing-masing, karena komunitas pun hidup dalam masyarakat yang menempati daerah tersebut.
 
Dalam acara talkshow yang membahas Jurnalisme Komunitas tersebut, ada ber macam-macam komunitas Jember yang ikut hadir untuk berdiskusi yaitu komunitas Street Art, komunitas JPG (fotografi), komunitas Stand Up Comedy Jember, komunitas Oi (Orang Indonesia), komunitas Blogger Indonesia, Komunitas Kaskuser, Komunitas Reptil, Komunitas KLJ (Kamera Lubang Jarum) dan Komunitas pecinta Alam. Juga terdapat komunitas seni yang turut memeriahkan acara tersebut melalui musik yang mereka suguhkan.
 
“Hal positif yang bisa saya ambil dari acara ini, kita jadi punya keinginan untuk saling mengenal atau berkerjasama dengan komunitas lainny. Agar bisa saling membesarkan” ujar Kom, salah seorang anggota dari Komunitas Kaskuser.  
 
Jurnalisme Komunitas

Yang menghidupi komunitas adalah pelaku itu sendiri. Dan interest setiap komunitas berbeda, alangkah baiknya jika komunitas saling berinteraksi” ujar Umar, salah seorang narasumber Talkshow Jurnalisme Komunitas dari Komunitas Akademi Berbagi. Umar mengaku, dia dan teman-temannya telah membuat media http://sudutkota.netyang merupakan salah satu contoh media Jurnalisme Komunitas. “Pengembangan potensi daerah dapat dimulai dari daerah kita sendiri. Paling tidak potensi daerah diceritakan sendiri sesuai dengan gaya komunitas itu sendiri” jelas Umar kemudian. 

Selain Umar, juga ada narasumber lain yang turut berbagi ilmu tentang jurnalisme komunitas. Mereka adalah RZ Hakim dari Komunitas Blogger Indonesia dan Mahbub Djunaedi dari Aliansi Jurnalis Independen. 

“Media yang baik adalah media yang mampu demokratis dan filosofis” ujarRZ Hakim ketika ditanya mengenai media. Media komunitas bisa menjadi media alternatif dari media umum. Ketika ada media jurnalistik, tiap individu bisa menyampaikan ideologinya di media tersebut dan ketika mendapat respon dari komunitas lain yang setuju dengan ideologi tersebut maka bisa membangun kesepahaman antar komunitas.

“Bagi saya, komunitas yang baik adalah komunitas yang bisa membesarkan komunitas yang lain”  ujar RZ Hakim mengakhiri diskusi. [Dian]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *